Guru di Jambi Dikeroyok Siswa, Diduga Singgung Gaji Ayah Murid yang Tukang Kebun
January 23, 2026 01:32 AM

 

SURYA.co.id - Kasus pengeroyokan yang menimpa Agus Saputra, guru Bahasa Inggris di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, terus mengungkap fakta-fakta baru.

Agus dikeroyok oleh para siswa.

Insiden kekerasan itu terjadi pertengahan Januari 2026.

Diduga kuat aksi pengeroyokan guru itu akumulasi dari rasa sakit hati siswa terhadap ucapan sang guru.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, pemicu utama kemarahan siswa diduga bermula dari perkataan Agus yang dianggap merendahkan profesi dan gaji orang tua salah satu muridnya.

Konflik ini awalnya dipicu oleh masalah sepele terkait pintu kelas yang tertutup.

Namun, tuntutan Agus kepada murid-muridnya dinilai terlalu berlebihan oleh lingkungan sekolah.

Seorang rekan guru yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan bahwa Agus mendesak para siswa membuat video permintaan maaf bersama orang tua dan surat bermaterai.

"Pernyataan maaf ini cukup sulit, sebab para murid harus bikin video bersama orang tua serta menulis surat pernyataan maaf di atas materai," ujar guru tersebut saat memberikan keterangan, dikutip SURYA.co.id.

Baca juga: Niat Disiplinkan Siswa SD yang Semir Rambut, Guru Honorer di Jambi Malah Menangis Jadi Tersangka

Konflik Memanas

Suasana semakin memanas ketika Agus diduga melontarkan kata-kata yang menyinggung perasaan seorang siswi berinisial Ag.

Ayah dari siswi tersebut ternyata merupakan seorang petugas kebersihan atau tukang kebun di sekolah tempat Agus mengajar.

Seorang siswa saksi mata berinisial Jm membeberkan bahwa Agus sempat mempertanyakan soal latar belakang ekonomi keluarga tersebut.

"Agus juga menyinggung latar belakang orang tua Ag yang bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah. Pembicaraan sempat mengarah soal gaji orang tua dan dana komite sekolah," ungkap Jm dengan nada kecewa.

Ketegangan fisik akhirnya pecah ketika seorang siswa lain berinisial MLF ditampar oleh Agus karena dianggap berteriak di dalam kelas.

MLF sendiri mengaku bahwa teriakan tersebut sebenarnya ditujukan untuk menenangkan teman-temannya yang sedang ribut, namun Agus salah paham.

"Saya bilang, woi, diam. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas," kata MLF dalam sebuah video wawancara.

Tamparan yang dilayangkan Agus terhadap MLF inilah yang kemudian menjadi pemantik bagi siswa-siswa lain untuk melakukan pengeroyokan secara massal hingga viral di media sosial.

Meski menjadi korban kekerasan fisik, Agus Saputra justru mengambil langkah hukum yang mengejutkan dengan melaporkan kepala sekolah dan rekan sejawatnya ke polisi.

Ia merasa pihak manajemen sekolah melakukan pembiaran terhadap perundungan yang ia alami selama mengajar di sana.

Agus merasa dikucilkan karena sikapnya yang terlalu disiplin dan vokal.

"Saya satu-satunya orang yang di sana, terlalu vokal mungkin dianggap atau terlalu kritis membentuk karakter mereka menjadi lebih baik, sehingga mereka merasa ini tidak perlu," tegas Agus dalam pembelaannya.

Hingga kini, pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini untuk melihat dari dua sisi, baik dari sisi kekerasan yang dilakukan siswa maupun dugaan perundungan serta pelanggaran etika yang dilakukan oleh guru.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.