Cerita Kemenangan Dramatis Alwi Farhan Atas Wang Zheng Xing: Riuh Penonton Bisa Jadi Bumerang
January 22, 2026 11:38 PM

Cerita Kemenangan Dramatis Alwi Farhan Atas Wang Zheng Xing: Riuh Penonton Bisa Jadi Bumerang

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sorak-sorai ribuan para pecinta bulutangkis Indoensia di Istora Senayan mengiringi langkah Alwi Farhan menuju delapan besar Indonesia Masters 2026.

Namun di balik kemenangan dramatis itu, ada rasa sakit, kelelahan, dan pertarungan mental yang harus ia lewati hingga titik akhir.

Baca juga: Pusing Hingga Mimisan, Perjuangan Sabar/Reza Tembus Perempat Final Indonesia Masters 2026

Pebulutangkis tunggal putra Indonesia berusia 20 tahun tersebut memastikan tiket perempat final usai menundukkan wakil China, Wang Zheng Xing, lewat pertarungan rubber game yang menguras fisik dan emosi, 15-21, 21-19, 21-16, Kamis (22/1/2026).

Dalam laga tersebut, Alwi sempat tertinggal lebih dulu setelah kehilangan gim pertama.

Tekanan dari lawan yang agresif, ditambah atmosfer Istora yang bergemuruh, membuat laga berjalan tak mudah sejak awal. 

Namun perlahan, Alwi menemukan ritme permainannya dan bangkit di dua gim berikutnya.

"Tidak mudah melawan pemain China, Wang Zheng Xing,. Secara serangan dia punya power, smash-nya kencang, jadi saya harus banyak mengantisipasi dan bermain lebih aktif,” ujar Alwi seusai laga.

MENANG DRAMATIS - Pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan sukses melaju ke babak perempat final Indonesia Masters 2026 usai mengalahkan wakil China, Wang Zheng Xing, lewat pertarungan rubber game yang menguras fisik dan emosi, 15-21, 21-19, 21-16, Kamis (22/1/2026). Tribunnews/Abdul Majid (Tribunnews.com/Abdul Majid)

Riuh Penonton dan Fokus Bermain

Bukan hanya kekuatan lawan yang harus dihadapi, tetapi juga suasana Istora yang penuh energi.

Alwi dituntut untuk tetap tenang di tengah riuh dukungan penonton yang bisa menjadi penyemangat sekaligus tekanan.

“Saya harus mengontrol pola permainan di lapangan yang suasananya sangat riuh dan penuh semangat. Karena itu saya harus tetap tenang, mengontrol nafsu dan emosi,” ujar Alwi.

Ia mengakui tampil cukup tertekan hampir sepanjang pertandingan.

Bahkan hingga gim penentuan, situasi belum sepenuhnya lepas dari tekanan.

Namun di momen-momen krusial, Alwi mampu menjaga fokus.

"Di poin-poin akhir saya bisa mengambil alih keadaan. Saya mencoba fokus satu poin demi satu poin,” ucapnya.

Kemenangan tersebut harus dibayar mahal. Usai laga, Alwi terlihat kelelahan. Saat berjalan menuju media center untuk memberikan keterangan, langkahnya tampak tertatih. Kram di kaki memaksanya menahan rasa nyeri - sebuah gambaran betapa kerasnya pertarungan yang baru saja ia lalui.

Meski demikian, Alwi tak lupa mengapresiasi dukungan yang mengalir kepadanya.

Ia menyebut doa dan dukungan dari para pecinta bulutangkis Indoensia serta peran pelatihnya sebagai bagian penting dari kemenangan ini.

“Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan masyarakat, serta Koh Indra yang selalu ada di belakang saya, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak,” ujarnya.

Di tengah keberhasilannya melaju ke delapan besar, Alwi juga dihadapkan pada status sebagai wakil terakhir tunggal putra Indonesia.

Absennya Anthony Sinisuka Ginting karena cedera tentu menjadi kehilangan besar, namun Alwi memilih untuk tidak menjadikannya sebagai beban.

"Memang sangat disayangkan Ginting tidak bisa melanjutkan. Tapi saya bersyukur dan tidak mau berpikir terlalu jauh soal itu. Masih banyak atlet Indonesia lainnya yang bertanding,” pungkas Alwi.

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.