TRIBUNKALTARA.COM,MALINAU – Memasuki musim penghujan di awal 2026, RSUD Malinau memperingatkan tingginya risiko Demam Berdarah Dengue (DBD) pada kelompok anak usia sekolah (6–14 tahun).
Kelompok ini tercatat sebagai yang paling rentan dengan porsi kasus terbesar di Provinsi Kalimantan Utara.
Baru-baru ini, RSUD Malinau merawat dua pasien anak asal pada 15 -16 Januari 2026.
Kedua pasien sempat mengalami gejala klinis sedang-berat, sebelum akhirnya dinyatakan stabil dan diizinkan pulang.
"Secara umum, pasien yang dirawat inap masuk kategori sedang hingga berat. Dua pasien ini trombositnya memang sudah masuk kriteria rawat inap," ujar Plt Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Malinau, Elton John.
Kasus pada Januari ini menjadi kejadian awal yang terpantau beberapa waktu terakhir.
Baca juga: 8 Manfaat Daun Pepaya, Obati Demam Berdarah hingga Atasi Rambut Rontok
Meskipun data Dinas Kesehatan menunjukkan penurunan angka kesakitan di Malinau dalam tiga tahun terakhir, yakni dari 95,00 poin (2022) menjadi 39,87 poin (2024) per 100.000 penduduk, status wilayah ini sebagai area endemik tetap menuntut aksi pencegahan.
Perlu menerapkan 3M/4M Plus secara konsisten di lingkungan rumah dan sekolah.
Mengingat anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko, Elton menekankan pentingnya peran orang tua dalam deteksi dini.
Orang tua dianjurkan untuk tidak menunda pemeriksaan medis jika anak mengalami demam tinggi.
"Jika demam tidak turun dalam 2 hingga 3 hari, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu hingga kondisi fisik anak sangat lemah," katanya.
Selain deteksi dini, langkah pencegahan melalui strategi 3M/4M Plus tetap menjadi senjata utama.
Menguras, menutup, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air, serta penggunaan pelindung gigitan nyamuk, harus diperketat baik di lingkungan rumah maupun sekolah guna memutus rantai penularan di musim penghujan ini.
(*)
Penulis: Mohammad Supri