BANGKAPOS.COM, BANGKA – Kabupaten Bangka Selatan tercatat sebagai salah satu daerah dengan indeks risiko bencana alam tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kondisi geografis yang didominasi wilayah pesisir, rawa, serta perubahan fungsi lahan dinilai menjadi faktor utama tingginya potensi bencana. Terutama banjir, banjir rob, abrasi pantai, dan angin puting beliung.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Bangka Selatan, Ardiansyah, mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir wilayahnya kerap dilanda bencana hidrometeorologi.
Dua jenis bencana yang paling sering terjadi adalah banjir dan angin puting beliung. Kondisi ini menyebabkan Kabupaten Bangka Selatan ditetapkan menjadi daerah dengan risiko bencana alam tertinggi.
“Beberapa tahun ini Kabupaten Bangka Selatan merupakan daerah dengan indeks risiko bencana alam tertinggi. Khususnya bencana banjir dan angin puting beliung,” kata dia kepada Bangkapos.com, Jumat (23/1/2026).
Ardiansyah mencontohkan kejadian banjir yang belum lama ini terjadi di Desa Tepus. Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah rumah warga terendam.
Menurutnya, bencana tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor alam, tetapi juga dipicu oleh kerusakan lingkungan dan buruknya sistem aliran air.
Kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan dan aktivitas pertambangan timah turut memperbesar risiko bencana alam di Kabupaten Bangka Selatan.
Sejumlah kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini berubah menjadi permukiman, perkebunan, maupun area pertambangan.
Sehingga daya dukung lingkungan terus menurun. Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya potensi banjir, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Aktivitas pertambangan timah, baik di darat maupun di wilayah pesisir, juga dinilai berkontribusi terhadap perubahan bentang alam.
Pembukaan lahan dan penggalian tanah menyebabkan rusaknya sistem aliran air alami, sedimentasi sungai, serta pendangkalan saluran drainase. Akibatnya, air hujan tidak dapat mengalir dengan optimal dan mudah meluap ke kawasan permukiman warga.
Selain itu, kerusakan kawasan hutan dan rawa yang selama ini berperan sebagai penyangga ekologis semakin memperparah kondisi. Hutan lindung yang beralih fungsi menjadi area tambang mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air.
“Memang belakangan ini banjir yang kita tangani terjadi di Desa Tepus. Ada beberapa rumah yang terendam. Penyebabnya salah satunya kerusakan lingkungan, ditambah intensitas hujan yang cukup tinggi, serta hilirisasi banjir dari wilayah hulu,” jelas Ardiansyah.
Sebagai langkah mitigasi dini, pemerintah daerah telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana di seluruh delapan kecamatan. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa hampir seluruh kecamatan memiliki potensi bencana, terutama wilayah yang berada di pesisir pantai dan kawasan pertambangan.
Secara lebih rinci, di Kecamatan Toboali, Kelurahan Toboali dan Desa Keposang tercatat rawan banjir saat hujan berintensitas tinggi. Sementara potensi banjir rob teridentifikasi di Kelurahan Toboali dan Kelurahan Tanjung Ketapang yang berada di kawasan pesisir dengan elevasi tanah relatif rendah.
Kecamatan Tukak Sadai juga masuk dalam peta wilayah rawan. Dua desa, yakni Desa Tukak dan Desa Sadai, berpotensi mengalami banjir serta dampak pasang air laut.
Kondisi serupa ditemukan di Kecamatan Lepar, tepatnya di Desa Tanjung Labu dan Desa Tanjung Sangkar. Di Kecamatan Kepulauan Pongok, Desa Celagen menjadi satu-satunya wilayah yang masuk kategori rawan.
Untuk Kecamatan Airgegas, Desa Bencah dan Desa Payung di Kecamatan Payung dipetakan sebagai daerah yang rentan banjir, khususnya saat hujan lebat berlangsung cukup lama.
Sementara di Kecamatan Simpang Rimba, potensi banjir terdapat di Desa Sebagin dan Desa Rajik yang juga dikategorikan rawan banjir rob akibat pasang air laut. Adapun Kecamatan Pulau Besar dipastikan relatif aman dan tidak masuk dalam peta wilayah rawan banjir maupun banjir rob.
“Untuk daerah pesisir pantai, banjir rob memang sering terjadi. Ini menjadi perhatian serius kami, apalagi beberapa wilayah kepulauan cukup sulit dijangkau dengan estimasi waktu yang singkat jika terjadi bencana,” ujarnya.
Selain banjir dan banjir rob, pihaknya juga memetakan delapan wilayah yang rentan mengalami abrasi pantai saat terjadi pasang tinggi air laut. Wilayah tersebut meliputi Kelurahan Tanjung Ketapang, Kelurahan Toboali, Desa Sadai, Desa Pasir Putih, Desa Tanjung Sangkar, Desa Celagen, Desa Permis, serta Desa Rajik. Tak hanya itu, terdapat pula 12 wilayah yang dikategorikan rawan bencana hidrometeorologi berupa angin puting beliung.
Wilayah tersebut antara lain Desa Keposang, Desa Rias, Desa Gadung, Desa Nyelanding, Desa Air Bara, Desa Bencah, Desa Batu Betumpang, Desa Fajar Indah, Desa Panca Tunggal, Desa Suka Jaya, Desa Sumber Jaya Permai, serta Desa Simpang Rimba. Meski terdapat wilayah yang masuk kategori relatif aman, Ardiansyah menegaskan bahwa status tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah. Perubahan cuaca yang cepat dan ekstrem dapat meningkatkan potensi bencana sewaktu-waktu.
“Faktor cuaca belakangan ini sering berubah-ubah. Ini bisa berpotensi fatal bagi masyarakat jika tidak diantisipasi,” kata Ardiansyah. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)