BANGKAPOS.COM, BANGKA - Deru mesin kapal nyaris tak terdengar di Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu, pagi Rabu (21/1/2026).
Terminal tunggu penumpang tampak lengang. Beberapa kendaraan terparkir tanpa aktivitas berarti, sementara warung-warung di sekitar pelabuhan hanya didatangi pekerja pelabuhan. Pemandangan sepi ini berbanding terbalik dengan ingatan warga tentang Belinyu di masa lalu.
Di sebuah rumah sederhana, M Toha menyimpan potongan sejarah Belinyu dalam bentuk poster foto berukuran besar.
Gambar itu menampilkan PLTUG Mantung, pembangkit listrik tenaga uap dan gas yang dibangun pada 1908. Dari kawasan inilah, listrik pertama kali disalurkan ke berbagai penjuru Pulau Bangka.
TRANSFORMASI PELABUHAN
“Dulu sebelum ada PLN, listrik Bangka itu dari Belinyu. Sampai ke Pangkalpinang, Mentok, Sungailiat, Sungaiselan, Lampur, semua dari sini,” kata Toha, Rabu (21/1).
Di usia 84 tahun, Toha masih mengingat jelas denyut aktivitas Pelabuhan Belinyu pada dekade 1980-an. Saat itu, dermaga masih terbuat dari kayu, namun lalu lintas barang dan manusia tak pernah sepi. Belinyu menjadi pintu masuk utama kebutuhan pokok Pulau Bangka.
“Dulu ramai Belinyu nih, sembako masuk dari sini galo untuk Bangka. Semen, besi, bahan bangunan, beras, gula, semuanya masuk dari sini semua,” ujarnya.
Nama PT Sederhana Makmur menjadi simbol pelayaran niaga kala itu. Truk-truk pengangkut barang berjejer, membawa muatan ke Pangkalpinang, Sungailiat, hingga Sungaiselan. Dari Belinyu pula, komoditas Bangka dikirim ke luar pulau.
“Karet, lada, kaolin dari sini. Timah kadang-kadang,” kata Toha.
Awal 1990-an
Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu yang berdiri sekarang mulai dibangun pada awal 1990-an melalui tiga tahap, yakni pembebasan lahan, pembangunan dermaga, dan terminal penumpang. Namun, modernisasi fisik tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan aktivitas.
“Dari segi keramaian, jauh kalah dengan dulu,” ucap Toha.
Kesaksian serupa datang dari Jamilah, pedagang yang telah berjualan di sekitar pelabuhan sejak 1997. Ia masih ingat masa ketika ribuan penumpang memadati area pelabuhan setiap kali kapal sandar.
“Dulu tuh masih seger di pelabuhan ini. Banyak orang, kami sering main voli, mandi dekat kapal laut,” kenangnya.
Menurut Jamilah, kapal penumpang dan kargo datang dari Jakarta, Palembang, hingga Kijang, Riau. Barang-barang seperti beras, gula, dan kebutuhan pokok memenuhi kapal, sementara dari Bangka dikirim kaolin.
“Kalau kapal datang, kami panen. Orangnya ribuan,” katanya.
Keramaian itu perlahan menghilang. Pembatasan penggunaan kapal kayu, munculnya pelabuhan lain seperti Pangkalbalam dan Tanjung Kalian Mentok, serta pergeseran jalur logistik membuat Belinyu tertinggal.
Proyeksi FTZ
Kini, Tanjung Gudang menunggu babak baru. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui BUMD PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera menjajaki kerja sama dengan investor asal Tiongkok, PT Hai Yin.
Pelabuhan Belinyu diproyeksikan menjadi kawasan Free Trade Zone (FTZ) yang terintegrasi dengan kawasan industri.
“Kalau skema bisnisnya nanti pelabuhan itu menjadi pelabuhan FTZ, kemudian jadi kawasan berikat daerah itu. Kemudian mereka juga menginginkan pembangunan pelabuhan itu terintegrasi dengan kawasan industri,” ujar Direktur PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera, Eka Mulya Putra.
Nilai investasi yang direncanakan mencapai Rp3 triliun. Saat ini, kerja sama masih pada tahap penandatanganan nota kesepahaman dan pengurusan perizinan di tingkat pusat.
“Untuk perizinannya banyak di pusat semua, secara teknis belum sampai ke pembahasan AMDAL,” jelasnya.
Pengelolaan pelabuhan nantinya direncanakan menggunakan skema bagi hasil dengan masa kerja sama 20 hingga 30 tahun. Pemerintah daerah berharap proyek ini dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru.
“Kita yakin dampak positifnya akan lebih besar untuk Bangka Belitung, terutama dalam hal perekonomian,” ujar Eka.
(u2/riz)