SERAMBINEWS.COM - Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan mengirimkan satu skuadron jet tempur ke pangkalan di Qatar di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Pengerahan Angkatan Udara Kerajaan ini mencakup Skuadron ke-12, unit gabungan Inggris-Qatar yang mengoperasikan jet tempur Eurofighter Typhoon.
Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan kalau skuadron itu "dikerahkan ke wilayah Teluk untuk tujuan pertahanan, mengingat ketegangan regional yang terjadi.
Ketegangan regional itu meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan serangkaian ancaman menyusul apa yang ia sebut sebagai "penindakan keras" Iran terhadap protes anti-rezim.
Trump menyatakan dukungannya kepada para demonstran Iran, menyerukan pergantian rezim Iran, dan menggaungkan kemungkinan tindakan militer AS terhadap kepemimpinan Iran.
Adapun Inggris, menyatakan, pengerahan jet tempur mereka merupakan bagian dari Perjanjian Jaminan Pertahanan Inggris-Qatar.
Qatar adalah sekutu utama AS di kawasan ini dan menjadi tuan rumah kehadiran militer AS yang besar di Pangkalan Udara Al Udeid.
Pada Oktober lalu, Inggris dan Qatar menandatangani Perjanjian Jaminan Pertahanan baru yang memperkuat kerja sama mereka di bidang pertahanan.
Pekan lalu, Departemen Pertahanan AS mengumumkan pembentukan Satuan Operasi Pertahanan Udara Gabungan Timur Tengah (MEAD-CDOC) di Pangkalan Udara Al Udeid untuk meningkatkan integrasi upaya pertahanan.
Sementara itu, Trump mengatakan awal pekan ini kalau "seluruh negara akan hancur" jika Iran mengambil tindakan militer apa pun terhadap entitas AS di berbagai belahan dunia, termasuk di Timur Tengah.
Baca juga: VIDEO Trump Kirim Armada Besar Menuju Iran, Gerakan Teheran Dipantau AS
IRGC: AS-Israel akan Menyesal Salah Perhitungan
Sebaiknya, Teheran memperingatkan kalau setiap serangan AS akan menyebabkan "respons pembalasan yang menghancurkan".
Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, komandan utama Korps Revolusi Islam (IRGC), Kamis (22/1/2026) mengatakan angkatan bersenjata Iran "memiliki kendali penuh" dan sepenuhnya siap bertindak atas perintah Pemimpin Revolusi dan Republik Iran, Sayyed Ali Khamenei, jika musuh-musuh Iran melakukan bentuk serangan apa pun.
"Musuh-musuh Iran harus menghindari kesalahan perhitungan," kata Pakpour seraya menekankan bahwa pasukan negara itu dalam keadaan siaga penuh sementara pertahanan telah diperkuat dalam menghadapi ancaman yang meningkat .
“Kami memperingatkan musuh-musuh kriminal, jahat, dan anti-kemanusiaan, khususnya Amerika Serikat dan rezim Zionis palsu dan rasis, untuk belajar dari pengalaman sejarah dan apa yang mereka alami dalam perang paksa selama 12 hari pada bulan Juni,” kata Pakpour.
Ia memperingatkan kalau agresi baru apa pun akan mengakibatkan respons yang “lebih menyakitkan dan menimbulkan penyesalan”.
Klaim IRGC Kini Lebih Kokoh
Pakpour menambahkan bahwa pasukan IRGC telah memperkuat kemampuan pertahanan Iran "lebih kokoh dari sebelumnya," dengan alasan permusuhan yang terus berlanjut dari AS dan Israel.
Baca juga: Armada Militer AS Mulai Kepung Iran, Trump Perintahkan Pengerahan Pasukan Besar Angkatan Laut
Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, memperingatkan Iran bahwa AS mungkin akan mengambil tindakan lebih lanjut jika Teheran tidak mengubah haluan.
Mike Huckabee mengatakan, para pemimpin Iran telah melihat bahwa Presiden AS Donald Trump menindaklanjuti ancamannya.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Counterpoints pada Jumat (23/1/2026), Huckabee ditanya tentang komentar Trump yang mengindikasikan bahwa armada AS sedang menuju Iran.
Meskipun menolak untuk menyebutkan tindakan apa yang mungkin akan menyusul, Huckabee mengatakan Iran telah diperingatkan dengan jelas sebelumnya dan tidak boleh meremehkan tekad Presiden AS.
“Iran akan tahu kapan saatnya mereka tahu,” kata Huckabee kepada Presenter Al Arabiya English, Melinda Nucifora, Jumat.
“Anda mendapat pukulan keras musim panas lalu, dan Presiden Trump melakukan persis seperti yang dia katakan akan dia lakukan,” lanjutnya.
Ia mengatakan, Trump telah berulang kali mengatakan kepada Iran bahwa mereka tidak akan diizinkan untuk memperkaya uranium atau memperoleh senjata nuklir, dan menuduh Teheran mengabaikan peringatan tersebut sampai Washington bertindak.
“Mereka tidak mempercayainya. Dia membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh,” kata Huckabee.
Huckabee mengatakan, Trump tetap skeptis terhadap klaim Iran bahwa ketenangan telah dipulihkan dan eksekusi telah dihentikan, dengan alasan bahwa sejarah panjang penindasan Teheran berarti jaminan apa pun perlu didukung oleh bukti.
“Dia akan menginginkan bukti,” kata Huckabee.
“Jika dia tidak mendapatkannya, itu akan menjadi salah satu dasar yang digunakannya untuk mengambil keputusan," tambahnya.
Ditanya apakah kawasan itu harus bersiap untuk intervensi AS lainnya, Huckabee mengatakan dia tidak merasakan ancaman yang akan segera terjadi tetapi menekankan volatilitas Timur Tengah dan perlunya kewaspadaan terus-menerus.
“Tidak ada yang duduk-duduk berpikir bahwa tembakan pertama Armageddon akan segera terjadi,” katanya.
“Namun orang-orang di sini memahami bahwa keadaan dapat berubah dengan sangat cepat," jelasnya.
Armada AS Menuju Iran
Donald Trump mengatakan, "armada" angkatan laut AS sedang menuju ke wilayah Teluk, dengan Iran sebagai fokusnya.
Pengumuman Donald Trump tentang peningkatan kekuatan angkatan laut AS ini muncul setelah ia tampaknya menarik kembali ancamannya terhadap Iran pekan lalu.
Ketika itu, Trump mengaku menerima jaminan bahwa tidak akan ada eksekusi terhadap para demonstran yang dilakukan oleh Teheran.
Konfirmasi Trump tentang berlanjutnya persiapan militer di kawasan itu menyusul laporan media AS dalam seminggu terakhir bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln dan kelompok kapal serangnya diperintahkan untuk mengalihkan manuver di Laut China Selatan ke Timur Tengah.
AS terakhir kali memerintahkan pengerahan militer besar-besaran di Timur Tengah menjelang serangannya pada Juni 2025, dan para pejabat kemudian mengatakan tentang bagaimana mereka merahasiakan niat mereka untuk menyerang program nuklir Teheran pada saat itu.
“Kami sedang mengawasi Iran,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One pada Kamis (22/1/2026) saat ia terbang kembali dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, dilansir Al Jazeera.
“Kita mengerahkan pasukan besar menuju Iran."
“Saya lebih suka tidak terjadi apa pun, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat."
“Dan mungkin kita tidak perlu menggunakannya, kita memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu, untuk berjaga-jaga, kita memiliki armada besar yang menuju ke arah itu, dan kita akan lihat apa yang terjadi,” papar Trump.
Kata Pejabat AS
Sebuah kapal induk Amerika dan aset militer lainnya akan tiba di Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.
Hal ini disampaikan dua pejabat AS pada hari Kamis, bahkan ketika Presiden AS Donald Trump menyuarakan harapan untuk menghindari serangan baru terhadap Iran.
Kapal perang AS, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, beberapa kapal perusak, dan pesawat tempur mulai bergerak dari kawasan Asia-Pasifik pekan lalu seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat setelah penindakan keras terhadap protes di seluruh Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Seorang pejabat mengatakan, sistem pertahanan udara tambahan juga sedang dipertimbangkan untuk Timur Tengah.
Amerika Serikat sering meningkatkan jumlah pasukan AS di Timur Tengah pada saat ketegangan regional meningkat, sesuatu yang menurut para ahli dapat bersifat defensif sepenuhnya.
Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan terhadap Iran atas pembunuhan para demonstran baru-baru ini di sana, tetapi protes mereda minggu lalu dan retorika Trump mengenai Iran telah mereda.
Dia telah mengalihkan perhatiannya ke isu-isu geopolitik lainnya, termasuk upayanya untuk menguasai Greenland.
Belum jelas apakah protes di Iran juga bisa kembali meningkat.
Protes dimulai pada 28 Desember 2025 sebagai demonstrasi kecil di Pasar Besar Teheran terkait kesulitan ekonomi dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri.
Kelompok hak asasi manusia, HRANA yang berbasis di AS, mengatakan bahwa sejauh ini mereka telah memverifikasi 4.519 kematian terkait kerusuhan, termasuk 4.251 demonstran, 197 personel keamanan, 35 orang berusia di bawah 18 tahun, dan 38 orang yang tidak terlibat langsung yang menurut mereka bukan demonstran maupun personel keamanan.
HRANA masih meninjau 9.049 kasus kematian tambahan.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas yang dikonfirmasi hingga hari Minggu lebih dari 5.000, termasuk 500 anggota pasukan keamanan.
Baca juga: Wagub Lampung Terbang ke Aceh untuk Serahkan Bantuan Rp500 Juta bagi Korban Bencana
Baca juga: Wagub Lampung Serahkan Bantuan Rp500 Juta untuk Korban Bencana Aceh
Baca juga: Besok Siang Persekat vs Persiraja, Lantak Laju Ingin Kembalikan Kepercayaan Diri