Tekan Angka Obesitas, Mengenal Semaglutide sebagai Inovasi Medis Terukur untuk Kontrol Berat Badan
January 24, 2026 01:11 AM

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Obesitas bukan sekadar persoalan estetika, melainkan tantangan kesehatan serius yang terus meningkat prevalensinya.

Secara medis, penderita obesitas sering kali menghadapi kendala biologis berupa rasa lapar yang sulit dikendalikan atau rasa kenyang yang lambat datang.

Kondisi ini membuat upaya pengaturan porsi makan menjadi tantangan berat bagi banyak orang.

Beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam Jakarta Diabetes Meeting pada November 2025 menegaskan pentingnya upaya pencegahan obesitas sebagai langkah strategis untuk menekan beban penyakit tidak menular (PTM) serta pembiayaan kesehatan nasional.

Menurut Dante, prevalensi obesitas di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.

Ia menambahkan, obesitas bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar.

"Pada 2024, pembiayaan untuk penyakit kardiovaskular yang berkaitan dengan obesitas dan diabetes mencapai Rp 25 triliun, dengan beban terbesar berasal dari penyakit jantung dan stroke. Karena itu, menekan angka obesitas berarti juga menekan beban ekonomi negara," ujar Wamen Dante dilansir dari situs resmi Kementerian Kesehatan, dikutip Jumat (23/1/2026).

Inovasi Semaglutide

Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan medis berbasis sains mulai menjadi pilihan utama untuk pengelolaan berat badan yang lebih terukur.

Salah satu inovasi yang paling banyak dibicarakan dalam dunia kedokteran adalah penggunaan Semaglutide.

Semaglutide merupakan obat yang bekerja dengan cara mengaktifkan reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1) di dalam tubuh.

Mekanisme utamanya adalah yang pertama mengontrol gula darah, bertujuan membantu stabilitas energi dalam tubuh.

Selanjutnya menekan rasa lapar, mengirimkan sinyal kenyang ke otak lebih cepat.

Kemudian memperlambat pengosongan lambung, yakni membuat seseorang merasa kenyang lebih lama sehingga asupan kalori berkurang secara alami.

Keamanan dan Regulasi di Indonesia

Efektivitas zat ini telah diakui oleh otoritas kesehatan global seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat dan National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris.

Di Indonesia sendiri, Semaglutide telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak pertengahan tahun 2025.

Namun, para ahli menekankan bahwa penggunaan zat ini tidak boleh dilakukan sembarangan.

Intervensi medis ini harus berada di bawah pengawasan dokter untuk menentukan dosis yang tepat serta meminimalkan risiko efek samping.

Penggunaannya pun harus disertai dengan perubahan gaya hidup, seperti diet rendah kalori dan aktivitas fisik yang rutin.
Pendekatan Komprehensif dalam

Penurunan Berat Badan

Salah satu penyedia layanan yang mengadopsi teknologi ini di Indonesia adalah LIGHThouse Clinic.

Melalui program bernama SemaSlim, mereka mengintegrasikan injeksi Semaglutide dengan pendampingan dokter dan ahli gizi untuk memastikan penurunan berat badan pasien berjalan secara aman dan terukur.

"Program Semaslim dirancang sebagai program penurunan berat badan yang komprehensif, bukan hanya pemberian injeksi saja," ujar Anna Yesito Wibowo, CMO LIGHT Group.

Selain membantu penurunan berat badan, studi klinis menunjukkan bahwa Semaglutide juga berkontribusi pada perbaikan profil metabolik, termasuk pengendalian tekanan darah dan kolesterol, serta memberikan manfaat perlindungan bagi kesehatan jantung dan ginjal pada pasien obesitas.

Penerapan dosis yang terpersonalisasi menjadi kunci utama. Setiap individu memiliki kondisi kesehatan yang berbeda, sehingga skrining awal dan evaluasi rutin sangat diperlukan.

Di LIGHThouse Clinic, setiap pasien mendapatkan panduan pola makan khusus agar hasil yang dicapai bersifat berkelanjutan dan tidak sekadar memberikan efek jangka pendek.

Pada akhirnya, meskipun teknologi medis seperti Semaglutide menawarkan solusi yang efektif, kunci keberhasilan jangka panjang tetap terletak pada konsistensi perubahan perilaku dan pola pikir terhadap kesehatan.

"Dengan skrining ketat, penentuan dosis personal, pendampingan ahli gizi, serta monitoring rutin, kami memastikan pasien mendapatkan pengalaman penurunan berat badan yang aman, terkontrol dan berkelanjutan," pungkas Anna.

Berita terkait

  • Baca juga: Damkar Tangsel Bantu Pemakaman Jenazah Obesitas 200 Kg, Butuh Waktu 30 Menit
  • Baca juga: PESTA Jakarta Sehat, Ajak Warga Ubah Gaya Hidup untuk Cegah Obesitas dan Diabetes
  • Baca juga: Tak Hanya di Jakarta, Kampung Sehat Diabetes dan Obesitas Kini Menyebar ke Sejumlah Daerah
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.