Fakta-fakta Terkait Aksi Meresahkan Oknum TNI di Talaud Sulut: 6 Orang Korban, Bukan Pertama Kali
January 24, 2026 02:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejumlah oknum TNI di Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara tengah jadi sorotan.

Dikabarkan para oknum tersebut melakukan aksi yang meresahkan warga.

Terakhir pada Jumat (23/1/2026) subuh, aksi mereka terekam kamera warga dan viral di media sosial.

Berikut fakta-faktanya:

Dipengaruhi Minuman Keras

Kejadian dipicu oleh oknum TNI yang diduga terpengaruh minuman keras dan berujung pada penganiayaan terhadap warga sipil.

Peristiwa ini bermula di kompleks Pelabuhan Melonguane.

Berdasarkan kesaksian warga, para oknum TNI tersebut terlihat sudah dalam kondisi mabuk sebelum keributan pecah.

Perbuatan mereka di area pelabuhan sempat terekam kamera ponsel warga dan viral di media sosial.

Sudah 12 Kali Terjadi

Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa perilaku meresahkan oknum TNI tersebut bukan kali pertama terjadi.

"Ini sudah yang ke-12 kali mereka sering mabuk dan bikin keributan. Setiap ada acara di Melonguane, oknum-oknum ini pasti bikin kacau," ujar sumber Tribun.

Menurutnya, sebelas kali mungkin masih bisa dimaklumi.

"Tapi yang ke-12 kali ini sudah tidak bisa dibiarkan," ungkap sumber Tribun.

Korban 6 Orang

Dari informasi yang diterima Tribun Manado, jumlah korban dalam peristiwa tersebut mencapai enam orang warga. 

Berdasarkan pantauan Tribun Manado dari foto-foto yang beredar, salah satu korban yang diketahui berprofesi sebagai guru.

Korban tampak mengalami pembengkakan cukup parah di bagian mata sebelah kanan yang terlihat memerah, diduga akibat pemukulan.

Tak hanya itu, pada bagian belakang tubuh korban juga terlihat luka goresan cukup besar yang diduga akibat tindakan kekerasan fisik.

Insiden tersebut kemudian memicu kemarahan warga setempat. 

Guru yang Dianiaya Oknum Aparat Dikenal Baik dan Ramah

Seorang guru yang mengalami luka berat akibat aksi penganiayaan oknum aparat dikenal sebagai pribadi yang lurus dan tidak pernah bersentuhan dengan miras.

"Tidak merokok dan tidak minum," ujar saksi tersebut mengonfirmasi kepribadian sang guru.

Pada saat kejadian, korban sedang berada di pelabuhan untuk menyalurkan hobi memancing.

Melihat adanya keributan yang dipicu oleh oknum aparat, sang guru itu pun lantas mencoba mendekat untuk menegur.

Namun, ia justru mendapat kekerasan fisik secara membabi buta.

"Karena mungkin situasi lebih memanas akhirnya dia jadi korban dipukul," lanjutnya.

Aksi Spontan Warga

Ratusan warga setempat kemudian menggelar aksi spontan sebagai bentuk protes di depan Patung Tuhan Yesus Melongguane.

Kapolres Kepulauan Talaud AKBP Arie Sulistyo Nugroho, S.IK., M.H. membenarkan adanya peristiwa tersebut.

Ia mengatakan pihak kepolisian telah menerima laporan resmi dari masyarakat.

"Masyarakat sudah melapor ke Polres dengan jumlah pelaku yang dilaporkan sebanyak enam orang,” ujar AKBP Arie Sulistyo Nugroho.

Ia menjelaskan, awalnya korban hanya satu orang. 

Namun, selang beberapa waktu, lima warga lain yang datang untuk menanyakan kejadian tersebut justru ikut menjadi korban penganiayaan.

“Korban awal satu orang. Kemudian lima orang yang menanyakan kejadian ikut juga menjadi korban, sehingga total korban berjumlah enam orang,” jelasnya. 

Kronologi

Peristiwa bermula pada Kamis (22/1/2026) malam sekitar pukul 21.00 Wita.

Saat itu korban sedang memancing di Pelabuhan Melonguane.

Tiba-tiba muncul sekelompok orang yang berteriak-teriak dalam keadaan diduga mabuk.

Saat didekati, korban menyadari bahwa mereka merupakan oknum anggota Lanal Melonguane.

Merasa resah, korban menegur para oknum tersebut sambil merekam menggunakan ponsel.

“Karena saya merekam, mereka langsung memukul saya. Saya dikeroyok sampai jatuh, tapi tetap dipukul dalam posisi terjatuh,” ungkap Korban.

Setelah kejadian, korban langsung dilarikan ke RS Mala untuk mendapatkan perawatan.

Kejadian tidak berhenti di situ.

Pada Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 01.00 Wita, sekitar 30 anggota keluarga korban mendatangi dermaga kapal untuk menuntut pertanggungjawaban oknum TNI AL tersebut. 

Namun, kedatangan mereka justru memicu cekcok yang berkembang menjadi pemukulan kembali.

Enam anggota keluarga korban dilaporkan menjadi korban pemukulan oleh sekitar 20 oknum anggota TNI AL. 

Penjelasan Danlanal Melonguane

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Melongguane, Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, memberikan keterangan resmi terkait dugaan tindak penganiayaan yang melibatkan sejumlah oknum anggota terhadap warga sipil.

Letkol Laut (P) Yogie Kuswara menjelaskan bahwa pihak Lanal Melongguane telah melakukan mediasi dengan keluarga para korban dan permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik.

“Sudah ada mediasi antara pihak Lanal dan keluarga korban dan semuanya telah terselesaikan dengan baik,” ujar Yogie Kuswara.

Ia menegaskan, pihak Lanal Melongguane siap bertanggung jawab atas kondisi para korban yang terdampak dalam peristiwa tersebut.

Selain itu, Danlanal memastikan bahwa oknum prajurit yang diduga terlibat dalam tindakan penganiayaan telah diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku di lingkungan TNI.

“Para pelaku yang diduga melakukan penganiayaan sudah diproses di pengadilan militer sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelasnya.

(Tim TribunManado.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.