Emas di APG 2025 bukan garis akhir, melainkan penanda bahwa jalur yang dia pilih masih tepat.
Nakhon Ratchasima (ANTARA) - Matras judo di Convention Hall, The Mall Korat, Thailand, Kamis (22/1), bergetar hebat ketika bantingan Sahrul Sulaiman berbuah ippon dan mengunci medali emas dalam pertandingan final nomor J1/J2 -81 kilogram (kg).
Atlet para judo asal Kota Medan, Sumatera Utara, yang tinggal di Jalan Sekata, Kecamatan Medan Barat, itu kembali menorehkan prestasi emas untuk Indonesia pada ASEAN Para Games (APG) 2025 Thailand.
Kemenangan itu terasa istimewa, bukan semata-mata karena nilainya di papan poin, melainkan karena maknanya yang sangat personal, yakni keluarga.
Pada usia 35 tahun, Sahrul datang ke Thailand mengantongi lebih dari sekadar ambisi juara. Dia membawa doa istri, tawa tiga anak, dan tanggung jawab sebagai anak tertua dari empat bersaudara.
Di balik teknik dan kekuatan yang matang, ada kisah seorang ayah yang berjuang untuk pulang membawa kabar baik.
Sejak dua hari sebelum bertanding, rasa gugup sudah menyapa. Sahrul mengaku berdebar, tapi dia memeluk perasaan itu sebagai bagian dari proses.
Baginya, gugup bukan tanda rapuh, melainkan bukti bahwa dia masih peduli, masih ingin memberi yang terbaik.
Pengalaman tampil di level internasional membuatnya tahu kapan harus menahan emosi dan kapan menyalakan keberanian.
Emas di APG 2025 ini menjadi yang kedua bagi Sahrul dari tiga kali keikutsertaannya.
Setelah emas nomor perorangan di APG 2022 Indonesia di Kota Solo, dia sempat harus puas dengan perak perorangan saat edisi 2023 Kamboja. Meski emas beregu tetap digenggam untuk dibawa pulang.
Rentang perjalanan itu menempa mentalnya, mengajarkan bahwa puncak prestasi tak selalu lurus, tapi selalu bisa didaki kembali dengan kerja dan kesabaran.
Keluarga motivasi utama
Bagi Sahrul, kemenangan itu berakar dari rumah. Keluarga menjadi poros yang menjaga ritme hidupnya sebagai atlet.
Istri dan anak-anak adalah pengingat tujuan, orang tua menjadi sumber restu, dan adik bungsu yang masih menimba ilmu di pondok pesantren menambah tanggung jawab yang harus dia jaga.
Sebagai anak tertua, Sahrul terbiasa berdiri di depan guna memikul beban dan membuka jalan. Yang paling menguatkan adalah si bungsu yang belum genap setahun.
Bayi kecil itu menjadi alasan mengapa setiap latihan dijalani dengan disiplin, setiap diet dijaga dengan konsisten, dan setiap detik di matras selalu diperjuangkan.
Sahrul ingin pulang membawa kado yang tak lekang oleh waktu.
"Karena mau di rantau atau di mana pun, kalau masih punya keluarga pasti akan berpulang lagi ke keluarga," kata Sahrul dengan penuh haru.
Saat kabar emas itu sampai ke rumah, air mata bahagia pecah. Istri dia menangis suka cita, menutup lingkar penantian yang panjang.
Di balik podium, ada ruang keluarga yang ikut merayakan kemenangannya dengan doa, syukur, dan pelukan.
Rekan senegara terberat
Dengan komposisi peserta yang menantang. Lima judoka tampil, masing-masing membawa gaya dan strategi berbeda.
Para pejuang negara masing-masing telah bersiap untuk unjuk gigi, guna menghadapi final dengan format round robin alias semua peserta saling bertemu untuk mengumpulkan kemenangan terbanyak.
Namun, laga yang paling menguras perasaan justru datang dari rekan senegara. Pria yang mendedikasikan hidupnya untuk cabang olahraga para judo di Indonesia itu, harus melawan Azis Rizal Saepul di pertandingan pertama.
Tak perlu ada yang disembunyikan. Sebab, mereka kerap berlatih bersama, saling mengenal pola, teknik, dan kekuatan satu sama lain.
Istilah kata, peta kekuatan, kecepatan, keunggulan, dan teknik andalan, sudah dikantongi masing-masing. Jika sudah seperti itu, maka pertandingan berubah menjadi duel mental.
Setelah melewati ujian sesama atlet Merah Putih, Sahrul melanjutkan langkahnya dengan tenang.
Dia menaklukkan Al Jaed Pacheco dari Filipina, lalu tampil dominan atas Phayaksa Adithep dari Thailand dengan ippon.
Di pertandingan terakhir, giliran wakil tuan rumah, Chaisin Kittikai, kembali ditundukkan dengan ippon.
Rangkaian kemenangan itu menunjukkan kesiapan teknik dan kematangan taktik yang telah diasah jauh hari.
Kunci keberhasilan Sahrul terletak pada kontrol ritme.
Dia tahu kapan menunggu dan kapan menekan. Kekuatan menjadi modal utama, tapi kesabaran membuatnya efektif.
Setiap serangan dihitung, setiap pegangan dijaga agar tidak memberi celah.

Asian Para Games
Selepas APG 2025, Sahrul sudah memikirkan tantangan berikutnya: Asian Para Games 2026 Aichi-Nagoya, di Jepang.
Persiapan menuju ajang itu tidak sederhana. Dia harus beradaptasi dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan level Asia Tenggara. Berbagai program berat harus dijalani di pemusatan latihan nasional (pelatnas) tim para judo Indonesia.
Latihan kekuatan dipadukan dengan pengaturan tempo, agar fisik yang tak lagi muda, mampu mengimbangi lawan-lawan tangguh di Asia.
Meski begitu, melalui pengalaman, disiplin, dan fondasi keluarga yang kokoh, Sahrul Sulaiman siap melangkah mantap. Emas di APG 2025 bukan garis akhir, melainkan penanda bahwa jalur yang dia pilih masih tepat.
Di setiap jatuh bangun, family man itu tahu ke mana harus pulang, dan selama keluarga menjadi alasan, dia akan terus menggetarkan matras, dengan hati yang tenang dan tekad yang utuh.
Ingin diberdayakan pemerintah
Setelah medali emas digenggam, dia menyimpan satu harapan besar kepada Pemerintah Indonesia. Mungkin juga menjadi harapan banyak atlet disabilitas. Dua kata: ingin diberdayakan.
Harapan itu terselimut dalam sanubari-nya. Adakah kebijakan yang bisa memberdayakan mantan atlet, khususnya yang telah berprestasi kepada bangsa dan negara.
Bukan tentang uang, tetapi kesempatan mencari nafkah guna melanjutkan hidup di masa tua. Sebab, masa muda telah dilalui dengan segenap pencapaian prestasi.
Tak perlu jabatan maupun pangkat, cukup kesempatan bekerja untuk menafkahi keluarga, melanjutkan hidup, dan merajut kisah atau cerita berikutnya.
Terkait bonus uang yang mungkin diterima nanti. Dua kata, yaitu investasi dan menabung, tentu sudah masuk dalam rencana jangka panjang Sahrul. Namun, tetap saja "ingin diberdayakan" oleh Pemerintah bisa semakin menyejukkan hati.







