TRIBUNMANADO.CO.ID - Prosesi pemakaman almarhumah Florencia Wibisono (33), korban kecelakaan pesawat ATR 42-500, dijadwalkan berlangsung hari ini, Sabtu (24/1/2026).
Berdasarkan informasi yang diperoleh, rangkaian pemakaman akan dimulai sekitar pukul 12.00 Wita.
Saat ini, jenazah Florencia masih disemayamkan di rumah ibundanya yang berlokasi di Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa.
Meski disemayamkan di Tondano, almarhumah tidak akan dimakamkan di wilayah tersebut.
Pihak keluarga memutuskan lokasi pemakaman berada di kampung halaman sang ibu.
"Jenazah Florencia akan dikuburkan di kampung halaman ibundanya di Desa Ranomerut, Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa," ujarnya, saat ditemui di rumah duka.
Ia menjelaskan, sebelum jenazah diberangkatkan ke lokasi pemakaman, akan dilakukan ibadah pelepasan terlebih dahulu di rumah duka.
Usai ibadah, rombongan keluarga dan pelayat akan langsung menuju ke tempat peristirahatan terakhir.
Setibanya di lokasi pemakaman, keluarga kembali menggelar ibadah singkat sebelum prosesi penguburan dilakukan.
Pihak keluarga memperkirakan banyak pelayat akan mengantar almarhumah hingga ke liang lahat.
Mereka pun berharap kondisi cuaca hari ini mendukung agar seluruh rangkaian pemakaman dapat berjalan dengan lancar.
Jenazah Florencia Wibisono diketahui tida di Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Sulut pada Jumat (23/1/2026) kemarin.
Jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 PK-THT ini tiba sekira pukul 14.00 Wita.
Kedatangannya disambut oleh tangis keluarga besar dari Minahasa.
Sebelum dibawa ke kampung halaman di Desa Taler, Kecamatan Tondano Timur, Minahasa, Sulut keluarga menggelar ibadah singkat di Terminal Kargo Bandara Sam Ratulangi.
Jarak Bandara Sam Ratulangi Manado ke Tondano Timur adalah 43,4 km atau bisa ditempuh dengan waktu 1 jam 10 menit.
Selain keluarga besar, hadir kakak kandung dan ipar Florencia, Natasya Wibisono dan Felix Agoes, bersama anak mereka.
Ada juga Rabbi Yaakov Baruch.
Florencia Wibisono menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta-Makassar yang jatuh di wilayah antara Kabupaten Maros dan Pangkep, pada Sabtu (17/1/2025).
Kepergian Florencia meninggalkan duka bagi keluarga termasuk teman-teman kelasnya semasa masih bersekolah.
Tesa sahabat dekat Florencia mengungkapkan sosok sahabatnya itu semasa bersekolah di SMA Negeri 1 Tondano.
Tesa mengungkapkan Florencia yang akrab disapa Olen sangat humble dan takut Tuhan.
Bahkan pribadi yang friendly dan dewasa sehingga banyak orang sangat suka terhadapnya.
"Dari postingan orang-orang bisa dilihat pribadinya seperti apa. Bahkan sampai orang tidak dekat pun bisa kenal Olen seperti apa.
Dia baik sekali, friendly, hangat, super care, dewasa, gigih orangnya, terlebih sangat cinta Tuhan," ungkapnya.
Menurutnya, Florencia seorang pekerja keras dan selalu berusaha dengan apa yang ingin diraihnya.
"Apa yg ingin dia capai, pasti dia akan berusaha sekali untuk capai itu," ungkapnya.
Tesa pun merasa kehilangan atas kepergian sahabat terbaiknya itu.
"Sangat terpukul dan tidak percaya kalau Olen telah terbang jauh," tandasnya.
Dia berdoa semoga pihak keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
"Kami turut berdukacita semoga keluarga diberikan kekuatan," pungkasnya.
Sosok Florencia Lolita Wibisono dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia penerbangan.
Florencia atau Ollen, sapaan akrabnya, diketahui baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport.
Informasi tersebut disampaikan oleh Ramos, anggota keluarga Florencia, saat ditemui di rumah orang tua korban di Jalan Donald Isaac Panjaitan, Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, Minggu (19/1/2026).
“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” ujar Ramos saat diwawancarai.
Sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport, Florencia tercatat menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pramugari di maskapai Lion Air.
“Kurang lebih 14 tahun dia di Lion Air,” ungkap Ramos.
Tak hanya berpengalaman sebagai pramugari, Olen juga dipercaya menangani pelatihan awak kabin yang baru bergabung.
Perannya kerap dikaitkan dengan pembinaan dan pendampingan kru junior.
“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” sambungnya.
Hingga kini, pihak keluarga masih menantikan informasi resmi dari pihak berwenang terkait perkembangan pencarian dan penanganan insiden pesawat tersebut. (Fer/Isv/Tim)