Ani dan Banjir yang Tak Pernah Pergi dari Pejaten Timur
kumparanNEWS January 24, 2026 04:58 PM
Bagi sebagian warga Jakarta, air tak lagi semata kebutuhan dasar. Pada titik tertentu, air justru menjadi ancaman bagi keselamatan hidup, seiring banjir yang terus berulang melanda ibu kota.
Dalam beberapa waktu terakhir, Jakarta kembali dilanda hujan dengan intensitas tinggi. Sungai-sungai yang mengalir di tengah permukiman tak lagi mampu menampung debit air, sehingga meluap dan menggenangi rumah-rumah warga. Permukiman di bantaran kali menjadi wilayah yang paling terdampak.
Sebagian warga bertahan di rumah dengan naik ke lantai paling tinggi, bila ada. Namun bagi mereka yang tinggal di rumah satu lantai, pilihan itu tak tersedia. Mereka terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya demi menyelamatkan diri.
Perbesar
Ibu Ani (63) (kanan) bersama sejumlah warga yang mengungsi sebab rumahnya terendam banjir di RT 16 Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Foto: Ryan Iqbal/kumparan
Salah satunya adalah Ani (63), warga Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Banjir di wilayah tempat tinggalnya pada Jumat (23/1) malam mencapai ketinggian hingga dua meter. Ani bersama sejumlah warga RT 16 Pejaten Timur mengungsi di teras rumah tetangga yang berada di dataran lebih tinggi, menghindari genangan yang merendam rumahnya.
Banjir datang tanpa banyak jeda. Air naik dengan cepat, membuat Ani panik dan tak sempat menyelamatkan barang-barang miliknya.
“Langsung aja kita jalan, airnya udah segini, seleher. Cepet banget naiknya. Enggak bawa apa-apa, cuma bawa badan. Dari kemarin juga enggak ganti baju. Yang penting nyelametin diri,” ujar Ani saat ditemui kumparan.
Ia memilih pasrah melihat perabotan rumahnya terendam. Televisi, peralatan memasak, hingga kulkas ditinggalkan begitu saja.
Perbesar
Luapan Kali Ciliwung yang berada di belakang pemukiman warga di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (24/1/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan
“Sudah dibiarin aja. TV jungkir balik, tempat masak nasi, kulkas. Masih rezeki, ya gitu dah. Kita panik lihat air udah tinggi. Rumah dikunci, digembok, ditinggal. Kalau udah dijemput perahu, udah enggak mikirin barang, mikirin diri sendiri aja,” katanya.
Ani mengingat betul malam saat air mencapai puncaknya. Menurutnya, banjir sudah terjadi sejak pagi, sempat surut, lalu kembali naik menjelang malam.
“Udah banjir dari pagi, sempat surut jam tiga. Terus saya dikasih tahu, ‘entar siap-siap, air bakalan naik puncaknya jam enam maghrib.’ Pas jam enam, air beneran datang,” tuturnya.
Informasi soal kiriman air dari hulu ia peroleh melalui aplikasi pemantau tinggi muka air Katulampa di ponselnya.
Perbesar
Kondisi banjir yang mencapai 2 meter di Jl. Al Makmuriyah, Pejaten Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (24/1/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan
“Kan ada di hp, dari Bogor-nya. Udah dikasih tahu di situ,” ujar Ani.
Hingga Sabtu (24/1), saat kumparan berada di lokasi, banjir belum sepenuhnya surut. Ani pun terpaksa bermalam di rumah tetangganya. Setiap malam, ia mengaku sulit tidur.
“Iya, numpang. Enggak bisa tidur. Duduk aja. Kalau banjir mah enggak ada yang tidur,” katanya.
Ani telah tinggal di kontrakan kecil itu selama 14 tahun. Rumah tersebut berada tepat di tepi Kali Ciliwung, menjadikannya salah satu titik paling rawan banjir.
“Pas banget di belakang kali. Dari rumah saya keliatan kali itu,” ungkapnya.
Ia menyebut banjir hampir menjadi bagian dari keseharian hidupnya, terutama saat musim hujan.
“Kalau banjir kecil mah, sedengkul, hampir tiap hari. Kalau siaga 3 aja tuh, tiap hari banjir,” ujarnya.
Pengalaman terburuknya terjadi beberapa bulan lalu, saat bulan puasa.
“Puasa kemarin, puasa kedua, kita udah kelelep. Air masuk semua. Ini belum puasa aja udah kayak gini lagi,” katanya lirih.
Hidup berdampingan dengan sungai membuat Ani terus dihantui rasa cemas.
“Bukan capek lagi. Kalau udah musim hujan, malem aja udah enggak bisa tidur. Takut air naik,” katanya.
Ia sebenarnya ingin pindah dari kontrakan tersebut. Namun keterbatasan ekonomi membuat keinginan itu sulit terwujud.
“Saya ngontrak. Mau cari kontrakan yang lebih mahal, duitnya enggak ada. Bapaknya udah meninggal. Ya udah, mau banjir segimana pun, kita tahan aja,” ucapnya.
Di tengah keterbatasan itu, Ani hanya menyimpan satu harapan kepada pemerintah.
“Pengennya sih cepet digusur, terus direlokasi,” ujarnya.