Jakarta (ANTARA) - Fibrilasi atrium adalah jenis gangguan irama jantung atau aritmia yang ditandai dengan detak jantung yang tidak teratur dan sering kali cepat akibat gangguan impuls listrik di serambi (atrium) jantung.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, kondisi ini menyebabkan atrium berkontraksi secara tidak terkoordinasi (fibrilasi), sehingga aliran darah ke ventrikel menjadi tidak efisien.
Informasi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat yang dikutip Medical Daily pada 23 Januari 2026 menyebutkan, gejala umum fibrilasi atrium meliputi detak jantung tidak teratur, palpitasi (detak jantung cepat), kelelahan ekstrem, pusing, dan sesak napas.
Namun, gejala fibrilasi atrium sering kali samar, dan beberapa individu bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali.
Karena 30–60 persen orang dengan fibrilasi atrium mungkin awalnya tanpa gejala, banyak kasus ditemukan melalui pemeriksaan denyut nadi atau elektrokardiografi (EKG).
Mengidentifikasi gejala-gejala fibrilasi atrium sejak dini memungkinkan dokter untuk menyesuaikan pemantauan dan terapi guna mengurangi risiko komplikasi seperti stroke atau gagal jantung.
Penyebab fibrilasi atrium bersifat mencakup faktor struktural, elektrik, dan metabolik yang mengganggu ritme jantung normal.
Kondisi seperti hipertensi, penyakit arteri koroner, dan kelainan katup dapat menciptakan tekanan pada jaringan atrium, memicu gangguan listrik yang menyebabkan jantung berdetak cepat dan tidak terkoordinasi.
Selain penyakit kardiovaskular, faktor sistemik dan gaya hidup seperti apnea tidur, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, dan ketidakseimbangan tiroid juga memainkan peran penting.
Menurut siaran informasi United States National Heart, Lung, and Blood Institute, perubahan pada jaringan jantung dan sinyal listrik karena penuaan, tekanan darah tinggi, atau riwayat kejadian jantung sebelumnya merupakan akar penyebab umum fibrilasi atrium.
Sementara faktor seperti apnea tidur, genetika, dan peradangan menurut lembaga itu bisa semakin meningkatkan risiko fibrilasi atrium.
Gaya hidup juga dapat memicu episode fibrilasi atrium. Lonjakan kafein atau alkohol, dehidrasi, stres, dan obat-obatan stimulan dapat mempercepat detak jantung atau memicu aritmia pada individu yang rentan.
Fibrilasi atrium berkaitan dengan peningkatan risiko stroke, sebagian besar terjadi karena detak jantung yang tidak teratur mengubah aliran darah di dalam jantung.
Ketika atrium bergetar alih-alih berkontraksi secara efektif, darah dapat mengumpul, terutama di apendiks atrium kiri dan meningkatkan risiko pembentukan bekuan darah.
Bekuan darah ini dapat terlepas dan bergerak ke otak, menyebabkan stroke iskemik dengan defisit neurologis mendadak.
Menurut American Heart Association, orang dengan fibrilasi atrium dapat memiliki risiko stroke sekitar lima kali lipat dari orang yang tidak mengalami gangguan itu.
Selain itu, stroke yang disebabkan oleh fibrilasi atrium cenderung lebih parah dan melumpuhkan.
Penanganan fibrilasi atrium lebih dari sekadar mengendalikan irama jantung.
Perawatan yang efektif dapat menyeimbangkan peredaan gejala, perlindungan jantung jangka panjang, dan pencegahan stroke.
Gabungan pengobatan medis dengan penyesuaian gaya hidup dapat membantu mengurangi komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup individu yang mengalami fibrilasi atrium.







