Dampak Banjir-Longsor Gunung Slamet: 1 Orang Tewas
kumparanNEWS January 25, 2026 06:57 PM
Longsor dan banjir terjadi di lereng Gunung Slamet. Sejumlah desa di beberapa kabupaten di sekitar lereng Gunung Slamet terdampak.
Longsor dan banjir terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Jumat malam. Akibatnya, satu orang warga dilaporkan tewas. Ratusan warga lainnya terpaksa mengungsi.
Kapolres Pemalang mengatakan, luapan sungai di wilayah Kecamatan Pulosari juga mengakibatkan 1 orang meninggal. Korban terbawa derasnya arus luapan sungai Kali Penakir.
"Korban berjenis kelamin laki-laki, berinisial T, warga Dukuh Wanasari, Desa Penakir, Kecamatan Pulosari," kata Kapolres Pemalang AKBP Rendy Setia Permana, dalam keterangannya, dikutip Minggu (25/1).
T lalu ditemukan oleh warga di jembatan sungai Kali Penakir, wilayah Dukuh Tretep, Desa Sima, Kecamatan Moga, Sabtu (24/1) dini hari.
"Setelah menerima laporan dari warga, tim SAR gabungan bersama Polsek dan Koramil Moga langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit Muhammadiyah Rodliyah Achid Moga, Pemalang," kata Rendy.
Kapolres Pemalang mengatakan, sejumlah 92 warga terdampak luapan sungai di wilayah Desa Penakir telah dievakuasi ke Kantor Kecamatan Pulosari.
"Kami telah berkoordinasi dengan pihak terkait dalam pendirian posko darurat penanganan bencana, serta bekerjasama dalam pembersihan material banjir di lokasi kejadian," kata Kapolres Pemalang.
Dampak banjir dan longsor di Gunung Slamet juga melanda sejumlah daerah lainnya, termasuk Purbalingga.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Revon Hapinindriat di Purbalingga, mengatakan banjir bandang melanda Desa Serang dan Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, setelah aliran sungai meluap akibat tingginya intensitas hujan.
Akibat kejadian tersebut, kata dia, akses jalan kabupaten menuju Dusun Gunung Malang dan Dusun Bambangan terisolasi karena tertutup material banjir.
“Data sementara pengungsi di Desa Kutabawa, Dusun Bambangan RT 019 RW 05 sebanyak 14 rumah atau 21 kepala keluarga dengan 79 jiwa, serta RT 017 RW 05 sebanyak 10 kepala keluarga dengan 31 jiwa. Total pengungsi sebanyak 31 kepala keluarga atau 110 jiwa,” kata Revon dikutip dari Antara, Minggu (25/1).
Perbesar
Seorang anggota TNI menunjukkan aliran sungai bercampur lumpur di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (24/1/2026). Foto: Relawan/HO/Antara
Sementara di Kabupaten Banyumas, hujan dengan intensitas tinggi juga menyebabkan luapan air sungai bercampur lumpur di aliran Sungai Kali Pangkon, objek wisata Telaga Sunyi, dan Sungai Kalipelus, Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, yang berada di lereng Gunung Slamet.
Data BPBD Kabupaten Banyumas menyebutkan banjir lumpur tersebut terjadi sejak Sabtu (24/1), sekitar pukul 01.00 WIB, dengan ketinggian air diperkirakan kisaran 70-90 centimeter.
BPBD Kabupaten Banyumas bersama unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Sumbang dan aparat kewilayahan telah mendatangi lokasi untuk memantau kondisi terkini.
Warga sekitar juga diimbau untuk sementara tidak beraktivitas di sungai, khususnya di kawasan objek wisata.
Hingga Sabtu (24/1) pagi, kondisi luapan air di Sungai Kali Pangkon dilaporkan telah surut dan tidak ada laporan kerusakan permukiman maupun korban jiwa, mengingat lokasi aliran sungai relatif jauh dari kawasan hunian warga.
Perbesar
Warga berada di dekat bangunan yang rusak diterjang banjir bandang di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (25/1/2026). Foto: Oky Lukmansyah/ANTARA FOTO
Dampak ini juga dirasakan warga Guci, Tegal. Guci lagi-lagi diterjang banjir. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal M Afifudin menetapkan status darurat tersebut sebagai langkah penanganan darurat yang mengalami kerusakan bangunan maupun fasilitas di kawasan objek wisata itu.
"Kami memastikan tidak ada korban jiwa dan tidak ada rumah yang terdampak, kecuali beberapa fasilitas objek wisata dan tiga jembatan yang hilang. Oleh karena itu, kami menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan untuk penanganan darurat," katanya.
Beberapa fasilitas objek wisata yang rusak dan tertutup material adalah Pancoran 13, Pancoran 5, Pemandian Air Panas, sedangkan tiga jembatan yang hilang, yaitu dua jembatan yang berada di kawasan objek wisata serta jembatan penghubung Siramp dan Bumijawa.
Perbesar
Personil TNI berada samping bangunan yang rusak diterjang banjir bandang di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (25/1/2026). Foto: Oky Lukmansyah/ANTARA FOTO
Saat ini, debit air sungai Gung yang berada di kawasan objek wisata Guci masih terpantau normal meski curah hujan masih mengguyur di wilayah kawasan tersebut.
Ia mengatakan akibat tumpukan material berupa pasir dan batu, objek Pancuran 13, Pancuran 5, dan pemandian air panas ditutup total untuk masyarakat.
Kemudian, kata dia, sebagai upaya penanganan darurat, pihaknya akan mendesain kawasan objek wisata Guci agar lebih aman pasca-bencana.
Perbesar
Warga berada samping bangunan yang rusak diterjang banjir bandang di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (25/1/2026). Foto: Oky Lukmansyah/ANTARA FOTO
Menurut dia, Bupati Tegal mengarahkan kepada Camat Bojong dan Bumijawa agar masyarakat bisa menggunakan jalan lain, karena jembatan masih ditutup.
"Kemudian, 11 lokasi longsor yang terjadi di Sirampg dan Bumijawa hingga menuju wilayah Kabupaten Brebes sudah bisa dilalui kendaraan, karena sisa material yang menumpuk di jalan sekitar pukul 13.30 WIB sudah dibersihkan oleh BPBD, Polri, dan relawan," katanya.
Perbesar
Warga berada samping bangunan yang rusak diterjang banjir bandang di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (25/1/2026). Foto: Oky Lukmansyah/ANTARA FOTO