Puluhan Warga Tewas, Dedi Mulyadi Bongkar Dugaan Penyebab Bencana Tanah Longsor di Bandung Barat
January 25, 2026 11:33 PM

WARTAKOTALIVE.COM, BANDUNG- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyampaikan rasa duka mendalam terkait bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari

Seperti diketahui, bencana tanah longsor Cisarua menewaskan setidaknya 25 orang hingga Minggu (25/1/2025) petang.

Sementara, puluhan warga lainnya yang hilang belum ditemukan.

"Saya menyampaikan ucapan duka yang mendalam atas peristiwa bencana yang terjadi di Cisarua dan di berbagai tempat di Provinsi Jawa Barat," ujar Dedi dalam pernyataannya di Instagram @dedimulyadi71, Minggu (25/1/2026).

Dedi Mulyadi mengajak semua pihak untuk melihat musibah tersebut sebagai bahan introspeksi

Sebab, kata dia, kondisi alam saat ini banyak mengalami kerusakan akibat alih fungsi

Kondisi alam yang rusak adalah akumulasi dari berbagai kebijakan dan perilaku manusia yang selama ini abai terhadap keseimbangan lingkungan.

 Sehingga, fenomena ini bukan akibat dari salah satu pihak, melainkan kesalahan bersama.

Baca juga: Kronologi Dua Polisi Tewas Tergencet Mobil Dinas TNI di Tengah Proses Evakuasi Longsor Cisarua Jabar

Mirisnya, kata Dedi, longsor yang menimpa warga seringkali terjadi tanpa mereka harus melakukan kesalahan secara langsung.

"Longsor yang dialami oleh saudara kita di Bandung Barat menjadi catatan penting bahwa bencana bisa menimpa siapa saja tanpa orang tersebut melakukan perbuatan yang mengakibatkan bencana," sebutnya

Ia menyoroti perubahan besar pada kawasan perbukitan dan lereng gunung yang kini beralih fungsi menjadi kebun sayur dan bunga dengan sistem greenhouse.

Proses penanaman yang menggunakan media plastik, menurutnya, telah merusak daya dukung tanah dan mempercepat potensi longsor.

 Selain itu, Dedi juga menyinggung alih fungsi lahan persawahan menjadi kawasan perumahan, serta kondisi sungai yang mengalami pendangkalan.

Baca juga: Bencana Longsor Cisarua Bandung Barat, Hati Adi Remuk 11 Anggota Keluarganya Belum Ditemukan

Bantaran dan sempadan sungai yang seharusnya menjadi ruang hijau, kini justru berubah menjadi kawasan komersial.

"Itu fakta bahwa kita sudah berbuat salah terhadap areal-areal perbukitan. Kita sudah abai terhadap alam semesta." ujar Dedi Mulyadi.

Dedi menyebut manusia selama ini terlalu jauh mengeksploitasi bumi tanpa mempertimbangkan keharmonisan dan keselarasan hidup.

Padahal, manusia sejatinya hanya "menumpang" di bumi dan seharusnya menghormati alam sebagai ruang hidup bersama.

Ia pun mengajak semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk melakukan introspeksi secara jujur.

 Pemerintah diminta menyadari kesalahan dalam kebijakan tata ruang dan pengelolaan lingkungan, sementara masyarakat juga harus memahami tindakan yang bertentangan dengan alam pada akhirnya akan berbalik menjadi bencana.

"Sudah saatnya kita berintrospeksi diri untuk merubah seluruh perilaku buruk yang menjadikan alam menjadi bahan eksploitasi kita tanpa mempertimbangkan keharmonian hidup, keselarasan hidup agar kita yang numpang di bumi ini menghormati bumi sebagai tempat tumpangan kita."

"Untuk itu marilah kita bersama-sama menyadari pemerintah harus sadar akan kesalahannya. Masyarakat pun harus menyadari bahwa tindakan-tindakan yang bertentangan dengan alam pada akhirnya akan menjadi bencana dan menimpa siapapun tanpa melihat latar belakang kehidupannya," tegas Dedi Mulyadi.

Di akhir pernyataannya, Dedi Mulyadi menyampaikan duka mendalam atas bencana longsor yang terjadi di Cisarua serta di berbagai wilayah lain di Provinsi Jawa Barat.

Ia berharap peristiwa ini mampu menyadarkan semua pihak agar lebih bijak memperlakukan alam.

"Semoga kita menjadi manusia yang tersadarkan," demikian pernyataan Dedi Mulyadi.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya M Syafii mengungkap kendala yang dialami Tim SAR gabungan dalam proses evakuasi korban bencana longsor di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat.

Sementara itu, M Syafii menyebut, proses evakuasi korban bencana longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari kemarin ini terkendala kondisi cuaca.

Tak hanya cuaca, kondisi material longsoran yang masih berupa lumpur juga menjadi kendala tersendiri dalam proses evakuasi korban longsor Cisarua.

"Pertama pasti kita sangat ketergantungan dengan cuaca, mudah-mudahan hari ini lebih baik. Kedua adalah kondisi longsoran dimana masih berbentuk lumpur, sehingga akan menyulitkan dari kita," kata M Syafii dalam keterangan persnya, Minggu (25/1/2026) pagi, dilansir Kompas TV.

Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra, menyebut 25 jenazah korban longsor telah diterima Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat di posko Puskesmas Pasirlangu. Pada hari kedua, Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi 14 jenazah dari lokasi bencana.

"Kami melakukan sinkronisasi data dengan seluruh tim yang ada di lokasi. Hingga pukul 17.00 WIB, jumlah kantong jenazah yang dikirim ke posko DVI sebanyak 25 kantong," ujar Hendra di Puskesmas Pasirlangu, Minggu, 25 Januari 2026 petang.

80 orang hilang

M Syafii menyebut, informasi sementara total ada 113 orang korban dari 34 kepala keluarga yang terdampak longsor Cisarua.

"Dalam pelaksanaan operasi (pencarian korban) hari pertama, informasi sementara korban yang terdampak ada 113 korban dari 34 kepala keluarga, itu informasi awal," kata M Syafii dalam keterangan persnya, Minggu (25/1/2026) pagi, dilansir Kompas TV.

Sejauh ini, korban yang berhasil diselamatkan adalah 23 orang.

Sementara itu, masih ada sekitar 80 orang warga Cisarua yang dinyatakan hilang.

"Kemudian dari kejadian tersebut telah bisa kita selamatkan dengan jumlah 23 orang. Kemudian informasi yang juga kita terima bahwa masih ada 80 warga yang dinyatakan hilang," jelas M Syafii.

Dugaan prajurit TNI hilang

Kodam III/Siliwangi menanggapi kabar dugaan hilangnya 23 prajurit TNI setelah bencana tanah longsor menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, pada Sabtu (24/1/2026).

Informasi tersebut menyebutkan bahwa puluhan orang dilaporkan menjadi korban, termasuk dugaan keterlibatan anggota TNI di antara mereka yang hingga kini belum ditemukan.

 Kodam Siliwangi adalah Komando Daerah Militer atau komando kewilayahan TNI Angkatan Darat yang bertugas menjaga pertahanan di wilayah Jawa Barat dan Banten, dengan markas besar di Bandung.

Berdasarkan data sementara, longsor tersebut mengakibatkan delapan orang meninggal dunia, sementara 82 orang lainnya dilaporkan belum ditemukan.

Di tengah proses pendataan itu, muncul kabar bahwa 23 orang di antaranya merupakan prajurit TNI, meski hingga saat ini informasi tersebut masih dalam tahap penelusuran dan belum dapat dipastikan kebenarannya.

 Kepala Penerangan Kodam III/Siliwangi, Kolonel Inf Mahmuddin, mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan terkait dugaan tersebut.

Ia menegaskan belum memperoleh informasi pasti apakah ada anggota TNI yang termasuk dalam daftar korban selamat maupun korban yang masih hilang.

 Konfirmasi resmi, kata dia, akan disampaikan setelah proses verifikasi selesai dilakukan.

Mahmuddin menjelaskan, saat ini fokus utama aparat adalah proses evakuasi dan pencarian korban bersama tim gabungan.

"Upaya pencarian beberapa kali terkendala cuaca ekstrem, berupa hujan lebat disertai angin kencang, yang membuat kondisi di lokasi menjadi tidak aman bagi petugas. Aliran air dan material longsor yang masih bergerak juga menyulitkan penggunaan alat berat," ujarnya.

Dua polisi tewas

Di sisi lain, dua personel Polsek Cisarua meninggal dunia dalam kecelakaan setelah sepeda motor yang mereka kendarai terlindas dan terhimpit di antara dua truk TNI di jalur evakuasi, Sabtu (24/1/2026) sore.

Insiden terjadi di Jalan Cimeta, Kampung Cimeta, RT 03 RW 09, Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sekitar pukul 15.31 WIB.

 Dua personel yang gugur di tempat kejadian perkara (TKP) adalah Aiptu Hendra Kurniawan dan Aipda Muhammad Jerry Sonconery.

Baca juga: Longsor Terjang Bantaran Kali Ciliwung, Halaman Rumah Warga Kampung Gedong Depok Amblas 5 Meter

 Ketika itu, keduanya tengah mengendarai sepeda motor menuju Desa Pasirlangu untuk membantu penanganan bencana longsor.

Menurut Kapolsek Cisarua, Kompol A. Y. Yogaswara, menjelaskan bahwa sepeda motor korban melaju beriringan dengan sebuah truk milik TNI yang sedang melaksanakan latihan.

Di jalur yang sempit dan menurun, motor korban terjebak saat truk TNI di depan berhenti mendadak, sementara truk TNI di belakangnya gagal menghindar sehingga tabrakan beruntun tak terelakkan.

Kasatlantas Polres Cimahi, AKP Yudha Satyo Raharjo, mengonfirmasi bahwa kedua anggotanya meninggal dunia akibat luka fatal setelah terhimpit beban berat kendaraan militer tersebut.

  "Benar, kejadian saat personel sedang mobilisasi membantu penanganan bencana. Korban terjepit di antara dua truk TNI," ujar Yudha, Minggu (25/1/2026).

Ia menambahkan, evakuasi sempat terkendala karena posisi kendaraan yang sulit dijangkau di tengah medan curam.

Penjelasan Kapolda

Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Rudy Setiawan, saat meninjau posko bencana pada Minggu (25/1/2026), menegaskan bahwa kedua personel tersebut gugur dalam misi kemanusiaan. 

Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka, Kapolri memberikan penghargaan berupa kenaikan pangkat anumerta satu tingkat lebih tinggi. "Negara memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang gugur di medan pengabdian," tegas Rudy.

Jenazah kedua korban telah diserahkan kepada pihak keluarga dan dimakamkan secara militer pada Sabtu malam serta Minggu pagi. 

Sementara itu, Kepolisian Daerah Jawa Barat bersama Polisi Militer (PM) akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait aspek teknis kendaraan dan prosedur konvoi kendaraan berat di lokasi bencana guna mencegah insiden serupa terulang kembali.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.