Cilacap Kembangkan Wisata Kawasan Heritage, Kawasan Nol Kilometer Dibikin Ramah Pejalan Kaki 
January 26, 2026 08:09 AM

Syamsul Ingin Kawasan Nol Kilometer Ramah Pejalan Kaki 

 

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Bagi sejumlah kota, kawasan cagar budaya kini mendapat perhatian lebih.

Keberadannya ditata sedemikian rupa, selain sebagai estetika perkotaan, juga untuk menjadikan sebagai ikon pariwisata. 

Tak ketinggalan Pemerintah Kabupaten Cilacap, yang kini mengunggulkan kawasan Kota Lama atau Kawasan Heritage Titik Nol Kilometer melalui program revitalisasi.

Proyek yang sudah berjalan ini kembali berlanjut pada 2026 dengan dukungan anggaran sekitar Rp 4 miliar dari APBD. 

Penataan tahap lanjutan difokuskan pada pengembangan jalur pedestrian yang akan diperpanjang hingga terhubung dengan Stasiun Cilacap untuk memperkuat konektivitas kawasan heritage.

“Tahun ini penataan lanjutan jalur pedestrian diarahkan ke sekitar Stasiun Cilacap, sekaligus penataan lapangan dan revitalisasi Gedung Graha Pemuda menjadi Gedung Kesenian Cilacap,” kata Bupati Cilacap Syamsul Aulia Rachman.

Revitalisasi Gedung Graha Pemuda tersebut diproyeksikan menjadi ruang ekspresi seni dan budaya yang dapat menghidupkan kawasan Kota Lama.

Pengembangan kawasan Kota Lama di sepanjang Jalan Ahmad Yani dirancang sebagai proyek jangka menengah yang dikerjakan secara bertahap sejak 2025 hingga 2029.

“Pengembangan kawasan Kota Lama ini kita lakukan secara bertahap agar tertata dengan baik dan berkelanjutan,” ujar Syamsul.

Seluruh pembiayaan revitalisasi kawasan heritage bersumber dari APBD Kabupaten Cilacap melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

MENCOPOT POSTER - Petugas membersihkan sejumlah poster/spanduk yang menyalahi aturan.
MENCOPOT POSTER - Petugas membersihkan sejumlah poster/spanduk yang menyalahi aturan. (HO/IST/Istimewa/Pemkab Cilacap)

Namun, keterbatasan fiskal membuat Pemkab Cilacap belum bisa mengalokasikan anggaran secara maksimal pada tahap lanjutan 2026 ini.

“Inginnya kita memaksimalkan di tahun 2026 ini, tetapi karena ada tekanan fiskal, sementara kita anggarkan sekitar Rp 4 miliar,” jelas Syamsul.

Sejak diresmikan pada 31 Desember 2025, kawasan Titik Nol Kilometer Cilacap berkembang menjadi ruang publik favorit masyarakat.

Kawasan tersebut kini ramai dimanfaatkan warga untuk bersantai, berolahraga, hingga menikmati berbagai pertunjukan seni terbuka.

Syamsul menyadari, makin ramainya Titik Nol Kilometer Cilacap akan dihadapkan pada sejumlah tantangan, di antaranya bagaimana menjaga jalur pedestrian tetap berfungsi sebagaimana mestinya bagi pejalan kaki dan aktivitas wisata.

“Kawasan Titik Nol ini ruang publik untuk pejalan kaki dan wisata, jadi jalur pedestrian harus tetap aman dan nyaman untuk pengunjung,” ujar Syamsul.

Ia menegaskan bahwa aktivitas berjualan di atas trotoar tidak dibenarkan karena berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan wisatawan.

“Untuk pedagang asongan maupun yang menggunakan gerobak sudah kami siapkan tempat sementara,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Cilacap telah menempatkan para pedagang dan pelaku UMKM di lapangan yang berada di sekitar Tugu Titik Nol.

Namun demikian, Syamsul mengakui masih ditemukan pedagang yang nekat membuka lapak di jalur pedestrian, meski larangan telah dipasang.

Menurut Syamsul, persoalan tersebut telah dibahas bersama jajaran terkait untuk mencari solusi terbaik bagi penataan kawasan.

“Ini sudah kita rapatkan bersama, penertiban ini bukan untuk mematikan usaha, tapi untuk menata kawasan agar lebih tertib,” jelasnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, Satpol PP dan Dinas Perhubungan akan melakukan patroli rutin di kawasan Kota Lama.

“Nanti Satpol PP atau Dishub akan berkeliling secara rutin, terutama di hari-hari ramai, mungkin setiap dua jam sekali untuk mengingatkan,” katanya.

Selain lapangan, Pemkab Cilacap juga membuka opsi pemanfaatan halaman rumah warga, perkantoran, hingga aset BUMN di sekitar kawasan sebagai lokasi sementara UMKM.

Ia memastikan pemerintah daerah akan melakukan penataan lanjutan secara menyeluruh, termasuk menyiapkan lokasi khusus pedagang yang tetap dekat dengan Titik Nol.

“Lapangan akan kita tata dan pedagang akan kita carikan tempat yang tidak jauh dari situ,” katanya.

Syamsul menambahkan, penataan kawasan juga mencakup pengelolaan parkir kendaraan di area Kota Lama.

“Untuk parkir juga sama, tidak boleh ada yang parkir di bahu jalan. Namun pada momen tertentu seperti malam akhir pekan, akses kendaraan bisa dibatasi demi mendukung aktivitas wisata. Mungkin di waktu tertentu kita tutup, tapi di hari biasa kendaraan tetap boleh melintas,” ucap Syamsul. (Rayka Diah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.