Lewat Flashmob Pepadi Kota Semarang Dekatkan Anak Muda pada Seni Tradisi 
January 26, 2026 08:09 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Semarang memiliki cara yang unik untuk mengenalkan kesenian tradisional.

Flashmob tari tradisional Jawa menjadi sarananya. 

Alunan gamelan menggema pada momen Car Free Day (CFD) Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Minggu (25/1/2026).

Kawasan yang biasanya padat dengan hiruk pikuk kendaraan berubah menjadi panggung budaya terbuka. 

Ratusan pelajar SMP se-Kota Semarang menampilkan flashmob tari Jawa yang digagas oleh Pepadi Kota Semarang.  

Alunan gamelan tersebut pun mengiringi flashmob tari tradisional jawa dari para pelajar yang tampil dinamis dan energetik.

Aksi kolosal ini menarik perhatian masyarakat yang tengah menikmati suasana CFD. 

Flashmob atau kerumun kilas adalah sekumpulan orang yang berkumpul secara tiba-tiba di tempat umum untuk melakukan pertunjukan singkat—seperti menari atau menyanyi—lalu cepat membubarkan diri.

Aksi ini diatur melalui media sosial atau internet untuk tujuan hiburan, kejutan, atau ekspresi seni.

Flashmob tari tradisional Jawa di CFD Jalan Pahlawan, Minggu kemarin, bukan sekadar pertunjukan.

Di balik gerak tari tradisi yang ditampilkan, tersimpan pesan yang kuat mengenai pentingnya pengenalan dan pelestarian budaya pada generasi muda.  

Ratusan siswa SMP yang hadir dan terlibat menjadi simbol regenerasi, bahwa tari Jawa masih memiliki tempat di hati generasi muda.

Ketua Pepadi Kota Semarang, Anang Budi Utomo mengatakan, kegiatan ini merupakan langkah strategis yang ditempuh untuk mendekatkan generasi muda dengan seni tradisi Jawa, khususnya tari Jawa, melalui pendekatan yang kreatif dan sesuai minat generasi muda.

"Kegiatan flashmob ini adalah upaya kami dari Pepadi Kota Semarang untuk mendekatkan generasi muda pada tari sebagai seni tradisi Jawa,” kata Anang kepada Tribun Jateng. 

“Kami berharap anak-anak tidak hanya mengenal keseniannya, tetapi juga mencintai dan mempunyai rasa memiliki seni tradisi sebagai bagian dari identitas mereka," sambungnya. 

Menurut Anang, ruang publik di Kota Semarang seperti CFD merupakan medium yang efektif untuk mengenalkan seni tradisi kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Pada saat yang sama, hal itu sekaligus juga untuk menepis anggapan bahwa seni tradisi khususnya tari Jawa hanya milik generasi tua atau kalangan tertentu.

Eksistensi seni tradisi

Anang menambahkan, Pepadi Kota Semarang berkomitmen berperan aktif dalam menjaga eksistensi kesenian tradisi Nusantara.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, arus globalisasi dan budaya populer, Pepadi Kota Semarang bertekad tidak tinggal diam.

"Pepadi Kota Semarang siap menjadi garda terdepan dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kesenian tradisi Nusantara,” kata Anang, yang juga anggota DPRD Kota Semarang tersebut. 

“Ini merupakan tanggung jawab bersama, dan kami memilih untuk memulainya dari generasi muda," imbuhnya. 

Antusiasme para pelajar yang hadir terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung.

Pepadi Kota Semarang juga mengundang penari gagahan yang menarikan pethilan Sesaji Rajasuya dengan full kostum wayang orang.

Warga yang berada di Jalan Pahlawan berbondong-bondong mendekat dan mengikuti gerakan tarian serta menari bersama dengan penuh semangat dan antusias.

Bahkan, anggota Polwan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polrestabes Semarang juga mengikuti flashmob gerak tari Jawa bersama di hadapan publik.

Anang berharap, kegiatan semacam ini dapat digelar secara rutin sebagai bagian dari program pembinaan dan peleatarian seni budaya di Kota Semarang.  

"Kami harap ini mampu menumbuhkan cinta dan kebanggaan terhadap budaya, sekaligus memperkuat karakter generasi muda," ucapnya. (Eka Yulianti Fajlin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.