TRIBUNMANADO.CO.ID - Bayangkan dunia berubah total hanya dalam hitungan menit.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan sejumlah negara, mulai dari Iran di Timur Tengah hingga isu sensitif di Greenland, kembali memicu kekhawatiran global akan kemungkinan pecahnya Perang Dunia III.
Sebuah skenario yang disebut para pakar bisa berakhir jauh lebih cepat dan mematikan dari yang dibayangkan.
Peringatan keras itu disampaikan oleh Annie Jacobsen, pakar perang nuklir sekaligus jurnalis investigatif, yang menilai bahwa jika konflik nuklir meletus, sekitar 5 miliar manusia berpotensi tewas dalam waktu kurang dari satu jam setelah serangan pertama diluncurkan.
Baca juga: Keluarga Godbless Solang Dapati Satu Terduga Pelaku Penikaman Tak Ditahan, Ini Kata Polresta Manado
Dalam wawancaranya di podcast The Diary of a CEO, Jacobsen menggambarkan betapa tipisnya batas waktu antara dunia yang kita kenal dan kehancuran global.
Menurutnya, sejak rudal nuklir terdeteksi, umat manusia hanya memiliki kurang dari 90 menit sebelum peradaban berubah secara drastis sebuah perlombaan waktu yang nyaris tak memberi ruang untuk kesalahan.
Ia menilai, jika perang nuklir benar-benar terjadi, dampaknya akan berlangsung sangat cepat dan mematikan.
Dalam perhitungannya, sekitar 5 miliar orang berpotensi tewas hanya dalam waktu kurang dari satu jam setelah serangan nuklir pertama diluncurkan.
Jacobsen memaparkan gambaran kehancuran global itu dalam wawancara di podcast The Diary of a CEO.
Salah satunya, ia menyebut rudal balistik antarbenua hanya membutuhkan waktu sekitar 26 menit 40 detik untuk mencapai Pantai Timur AS jika diluncurkan dari Rusia.
"Dunia hanya punya waktu kurang dari 90 menit"
Lebih jauh, Jacobsen mengatakan umat manusia sesungguhnya hanya memiliki kurang dari 90 menit sebelum dunia berubah secara drastis jika perang nuklir meletus.
Sejak peluncuran nuklir terdeteksi, semua keputusan krusial berlangsung dalam hitungan menit.
Presiden Amerika Serikat misalnya, hanya memiliki sekitar 6 menit untuk menentukan serangan balasan melalui dokumen rahasia yang dikenal sebagai “Buku Hitam”.
Namun, kehancuran tidak berhenti pada ledakan nuklir semata. Jacobsen mengutip penelitian Brian Toon, profesor ilmu atmosfer, yang memperingatkan dampak lanjutan justru bisa jauh lebih mematikan.
Debu dan asap dari ledakan nuklir akan menutup sinar matahari, memicu penurunan suhu ekstrem atau nuclear winter.
Akibatnya, banyak wilayah di dunia akan tertutup salju selama bertahun-tahun dan sektor pertanian berpotensi gagal total.
“Sebagian besar dunia, terutama wilayah lintang tengah, akan tertutup lapisan es. Daerah seperti Iowa dan Ukraina bisa bersalju hingga 10 tahun,” ujar Jacobsen, dikutip dari The Economic Times (22/4/2025).
“Ketika pertanian gagal, manusia akan mati kelaparan,” tambahnya.
Selain itu, rusaknya lapisan ozon membuat paparan sinar matahari menjadi sangat berbahaya.
Dalam kondisi tersebut, manusia diperkirakan harus hidup di bawah tanah dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Jacobsen bahkan menyebut hanya dua negara yang memiliki peluang realistis untuk bertahan hidup dalam skenario terburuk, yakni Selandia Baru dan Australia, karena keduanya dinilai masih mampu menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
Sementara itu, sejumlah negara lain juga kerap dianggap relatif aman jika Perang Dunia III benar-benar pecah.
Penilaian ini umumnya didasarkan pada faktor netralitas politik, isolasi geografis, dan minimnya keterlibatan dalam konflik global, dikutip dari The Economic Times (24/11/2024).
Berikut adalah 10 negara yang sering disebut paling aman dalam skenario tersebut:
Netralitas Swiss telah menjadi fondasi kebijakan luar negerinya selama berabad-abad, dan secara resmi diakui sejak Kongres Wina pada 1815.
Negara ini juga tidak terlibat dalam perang apa pun sejak tahun tersebut.
Selain itu, perlindungan geografis berupa pegunungan Alpen, status sebagai negara terkurung daratan, serta keberadaan ribuan bunker perlindungan nuklir membuat Swiss dinilai sangat siap menghadapi krisis.
Lokasi Selandia Baru yang terpencil di Pasifik Selatan menjauhkannya dari pusat konflik global.
Meski memiliki hubungan diplomatik yang luas, negara ini cenderung menghindari keterlibatan militer langsung.
Berada di peringkat atas Indeks Perdamaian Global serta memiliki topografi pegunungan yang mendukung perlindungan alami, Selandia Baru kerap disebut sebagai salah satu tempat paling aman.
Isolasi geografis Islandia di Atlantik Utara membuatnya minim kepentingan strategis dalam konflik global.
Negara ini juga dikenal sebagai salah satu yang paling damai di dunia karena tidak pernah terlibat perang skala penuh.
Sebagai pulau terpencil, Islandia relatif aman dari dampak perang konvensional di Eropa, meskipun efek tidak langsung dari konflik nuklir besar masih mungkin dirasakan.
Sebagaimana dilaporkan surat kabar Inggris Metro (3/12/2025), Indonesia telah dikenal konsisten menerapkan politik luar negeri “bebas dan aktif” sejak era Presiden pertama, Ir. Sukarno.
Sebagai negara kepulauan dengan posisi strategis namun independen, Indonesia cenderung menjaga jarak dari konflik global dan menekankan peran perdamaian dunia.
Kebijakan ini terus dipertahankan oleh pemerintahan berikutnya, menjadikan Indonesia relatif netral dalam berbagai ketegangan internasional.
Terletak di kawasan Himalaya, Bhutan mengedepankan kebijakan “Kebahagiaan Nasional Bruto” yang berfokus pada perdamaian dan keberlanjutan.
Interaksinya yang terbatas dengan kekuatan global membuat negara ini jarang menjadi sorotan geopolitik.
Bhutan juga menyatakan netralitas sejak bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1971 dan terlindungi secara alami oleh wilayah pegunungan.
Kenetralan Irlandia dan keputusannya untuk tidak bergabung dengan NATO menjadikannya lebih kecil kemungkinan menjadi target dalam konflik berskala global.
Terletak jauh di Samudra Pasifik, Fiji berada di luar jalur utama konflik geopolitik dunia.
Negara ini memiliki angkatan bersenjata yang relatif kecil dan menempati peringkat tinggi dalam Indeks Perdamaian Global.
Kekayaan alam berupa hutan, mineral, dan sumber daya laut juga dinilai mendukung ketahanan hidup jangka panjang.
Isolasi geografis, kepadatan penduduk yang rendah, serta kelimpahan sumber daya alam menjadikan Australia target yang kurang menarik dalam konflik besar.
Faktor-faktor ini juga dinilai mendukung ketahanan pasca-perang.
Meski merupakan anggota NATO, Norwegia memiliki medan yang terjal, populasi yang relatif kecil, serta lokasi di wilayah Arktik, yang secara strategis dapat mengurangi dampak konflik.
Terletak di tepi barat Amerika Selatan, Chile dilindungi oleh Pegunungan Andes dan Samudra Pasifik.
Negara ini juga memiliki keanekaragaman sumber daya alam dan infrastruktur yang relatif maju, sehingga dinilai mampu bertahan dalam kondisi ekstrem.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini