TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Akses internet yang jual, penggunakan smartphone dan aplikasi membuat perjudian jadi lebih mudah dijangkau.
Fenomena judi online (judol) itu pun membawa dampak sosial ekonomi dan bahkan mental yang cukup serius.
Seperti yang pernah dialami oleh Age, warga Pekanbaru yang pernah terjerumus aktivitas judi online.
Ditemui di salah satu kopi di jalan H Imam Munadar, Senin (25/1/2026) Age blak-blakan.
Age mengaku aktivitas judol yang ia lakoni sempat membuat hidupnya hancur.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti total dari aktivitas judi online.
Judi online membenamkanya pada banyak masalah. Mulai utang dari pinjaman online hingga kartu kredit.
Kondisi itu makin parah hingga ia pernah melakukan aktifitas yang berkaitan dengan hukum.
"Terpaksa saya melakukan apapun demi menutupi utang dan untuk modal judol,"ungkapnya.
Warga jalan H Imam Munandar ini bahkan nyaris menjual ginjal ketika hutang yang membelitnya.
Baca juga: Tilap Uang Toko Rp 53 Juta Untuk Judi Online, Karyawan Ponsel di Pelalawan Dipolisikan
Age mengaku pertama kali kenal dengan judol pada tahun 2011 silam dari temannya. Pertamakali ia deposit atau mememasukan modal sebesar Rp 2,5 juta.
Dari modal itu Age mengaku ia mendapatkan untung. Diipicu iming-iming keuntungan itukah Age jadi gelap mata. Aktifitas judol telah menjadi candu.
Berulangkali menang dan kalah, Age terus mengapai harapan untuk dapat untung besar.
"Saya tambah lagi deposit menjadi Rp 5 juta. Kemudian terus bertambah Rp 15 juta" ujarnya.
Dari awalnya coba-coba, kemudian tertarik hingga Age mengakui judol telah menjadi candu baginya. Harapan untuk menang dan dapat untung dengan mudah itulah yang membuatnya lupa jalan keluar.
" Saya makin asik. Tidak peduli lagi soal kerugian. Karena didepan saya hanya terfikirkan menang dan dapat uang,"ungkapnya.
Baca juga: Judi Online di Siak Merebak: 457 Penerima Bansos Dinonaktifkan
Candu judol telah membuat Age makin berambisi. Ia terus menambahkan modal untuk bermain. Baginya makin banyak modal, makin besar keuntungan yang didapatkan.
Demikian setiap kali Age bermain, ia lupa soal berapa uang yang telah ia habiskan. Karena ketika ia menang, seperti ada kepuasan.
"Saya lupa bahwa sudah banyak modal yang saya tanam yang habis. Karena kemenangan dan untung tadi. Kondisi itulah yang tak disadari pemain judol saat ini," ungkapnya.
Age mengatakan, dari aktifitas judol, ia pernah dapat uang Rp 500 juta. Namun keuntungan itu ternyata hanya bersifat pancingan.
Karena ketika ia menambah lagi modal dengan jumlah yang banyak , lambat laut habis.
"Obsesi ingin balikan modal membuatnya jadi tertekan. Saya tetap berfikir bahwa saya bisa dapatkan modal saya lagi plus keuntungan. Namun, saya malah main terjerumus makin dalam," ujar Age.
Dalam posisi modal makin menipis, sementara ambisi mendapatkan untung besar, Age mengaku makin kehilangan kendali pada dirinya.
Ia mulai mendekati pinjaman online, kartu kredit demi bisa mendapatkan modal.
Namun, yang terjadi, Age makin terbenam. Masalah makin menumpuk, karena harapan tak sesuai kenyataan. Ia lebih sering kalah.
Hutang dari pinjol dan kartu kredit mulai mengejar. Tagihan besar harus ia lunasi. Namun, apa daya, ia benar-benar kesulitan.
Namun, ia masih terjebak pada ambisi bermain judol karena sudah candu. Sampai pada satu titik, Age melakukan hal yang bersentuhan dengan hukum.
Ibarat sakit bukannya diobati, Age malah makin menambah penyakit baru. Tidak hanya pinjol yang mengejarnya namun juga penjara.
" Saya hancur. Pada titik itu, saya terfikirkan untuk menjual ginjal. Karena saat itu saya mulai menyadari bahwa judol sudah terlalu jauh menjerumuskan saya," ungkapnya.
Sejak tahun 2021 Age berhenti pada aktifitas judol.Titik dimana ia mampu menahan diri tidak menjual ginjalnya.
Sejak itu, Age memilih melakukan hal yang lebih positif.
"Saya sudah ditempa oleh banyak masalah karena judol. Bersyukur saya masih berfikir positif untuk tidak mengambil keputusan menjual ginjal demi judol. Itu benar-benar menyadarkan saya," ujarnya
Age mengaku bersyukur karena ia cepat keluar dari kelompok (circle) pemain judol. Ia juga terfikrikan keluarga terutama orangtuanya.
" Alhamdulillah saya dapat nasehat dan dukungan dari orang sekitar. Pada akhirnya saya bisa melepas candu judol," beber Age.
Dari pengalamannya itu, Age menyebutkan bahwa pemain judol kerap terjebak oleh iming-iming. Keuntungan awal yang sengaja diberikan sampai kemudian candu.
Pada tahap candu inilah seseorang tak lagi terfikirkan apakah ia telah banyak rugi. Bagi mereka adalah ambisi dan harapan menang dan dapat uang.
Selain itu, orang-orang yang penyedia judol seperti tidak memberikan celah bagi pemain untuk berfikir logis lagi. Pengaruh agar pemain terus bermimpi menang dan dapat untung dilakukan dengan beberapa cara.
"Nomor handphone pemain sudah terintegrasi pada situs judol. Dengan demikian, pemain dikontrol. Dipengaruhi agar terus bermain lewat pesan yang dikirim melalui WhatsApp," ujar Age.
Pesan yang masuk dari pengelola judol berupa iming-iming modal kecil dan akan dapat untung besar. Dan pesan itu hampir setiap hari masuk. Pemain akan berada dalam kontrol mereka. Makanya keinginan berhenti kembali dipengaruhi untung besar lewat modal kecil.
"Tidak ada judol yang bikin kaya. Bagi yang menggantungkan hidup dari judol, sebaiknya berhenti. Karena akan semakin terjerumus dan menghancurkan dari banyak sisi. Keluarga terutama. Terburuknya akan mengambil keputusan mengakhiri hidup," ujar Age.
Menurut Age, akses bermain judol makin mudah. Deposit juga dengan nominal yang rendah. Jadi itu bisa menjangkau kalangan bawah.
Dengan modal kecil, judol mengimingi untung yang besar. Padahal sejatinya menurut Age itu omong kosong. Harapan yang hampa.
" Jangan bermimpi jadi kaya lewat judol. Apalagi yang modalnya kecil lalu berharap untung besar, itu tidak akan mungkin terjadi. Sebaiknya berhenti. Jauhi lingkungan judol, ambil sikap tegas untuk menata lagi hidup lewat cara yang lebih logis," nasehat Age.
(Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat)