BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Siang itu matahari bersinar terik. Jarum jam tepat menunjuk pukul 12.01 WIB. Suara jangkrik bersahutan, sementara silau dan panas matahari terasa menyengat hingga ke ubun-ubun.
Dari atas jembatan Sungai Mancung, Bangkapos.com mencoba melihat keberadaan seekor buaya yang dikenal warga Desa Mancing gemar menyantap kerupuk, Senin (26/1/2026) siang.
Dari atas jembatan, aliran sungai tampak cukup dalam. Dikelilingi pepohonan rimbun serta batang-batang kayu yang menjalar di sepanjang tepi sungai.
Saat itu, Kepala Desa (Kades) Mancung, Herlizon membawa tiga bungkus kerupuk. Satu di antaranya, diikat menggunakan tali rafia, lalu dilemparkan ke dalam sungai. Seperti sedang memancing ikan.
Tali ditarik dan dikendorkan secara perlahan, menciptakan bunyi di atas permukaan air untuk menarik perhatian sang buaya.
Namun, hampir satu jam setengah berada di lokasi, buaya yang ditunggu-tunggu tak juga menampakkan diri.
Kepala desa tampak heran. Sebab, dalam keseharian, buaya tersebut kerap dan mudah dijumpai di sungai. Namun siang itu, keberadaannya seolah menghilang.
Berbagai cara dicoba. kerupuk dipatahkan menjadi beberapa bagian dan dilemparkan ke berbagai sudut sungai.
Sayangnya, upaya tersebut tetap tak berhasil memancing kemunculan buaya yang diperkirakan memiliki panjang lima meter itu.
Lebih jauh, Kepala Desa Mancung, Herlizon menjelaskan asal muasal keberadaan buaya yang hobi mengkonsumsi kerupuk tersebut.
"Terkait asal muasal buaya makan kerupuk di Jembatan Desa Mancung, berawal dari pedagang kerupuk, menjual kerupuk di toko-toko di desa kami. Apabila kerupuk mereka sudah rusak, mereka pasti membuang ke sini, sekian banyak kerupuk yang rusak itu dibuang ke sungai," kata Herlizon kepada Bangkapos.com, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, kemunculan buaya di Sungai Mancung diduga karena kebiasaan yang terbentuk sejak lama.
Sekitar 2005-2006, buaya-buaya di sungai kerap muncul dan memakan kerupuk yang dibuang.
Menurutnya, kebiasaan para pedagang kerupuk yang membuang sisa dagangan ke sungai secara tidak langsung membuat buaya terbiasa mendekat, makan kerupuk dan menampakkan dirinya.
"Jadi karena kebiasaan pedagang kerupuk membuang kerupuk di sini muncullah, buaya-buaya itu sampai sekarang," terangnya.
Ia menyebutkan, jumlah buaya di Sungai Mancung diperkirakan ada tiga ekor dengan ukuran sekitar tiga hingga lima meter dan semuanya sudah terbiasa memakan kerupuk.
"Kalau jumlah buaya ada tiga ekor. Ukurannya ada yang tiga meter sampai lima meter," katanya.
Dia menjelaskan, kebiasaan hobi makan kerupuk, pernah diuji dengan melemparkan daging ayam ke sungai. Namun buaya tidak merespons dan tidak ingin memakannya.
Sebaliknya, ketika kerupuk dilemparkan, buaya justru langsung menerkamnya. Hal tersebut kata Herlizon, telah beberapa kali diuji oleh warganya.
"Kalau dikatakan makan kerupuk, sudah uji kami lempar ayam, buaya tidak mau makan sama sekali. Ia hanya mendatangi tidak digigit. Tetapi waktu kami lempat kerupuk, malah diterkam, itu sudah kami uji," terangnya.
Ia menjelaskan, buaya-buaya tersebut biasanya muncul saat kondisi air sungai sedang agak tinggi. Terutama pada fase pasang yang mulai menuju surut. Pada waktu-waktu itu, buaya hampir setiap hari terlihat muncul di kawasan Sungai Mancung.
"Kemunculan biasanya air agak tinggi, pasang menjelang ingin surutnya gitu, pasti muncul setiap hari di sini. Tetapi hari ini heran juga ia tidak muncul," kata Kades.
Dia menegaskan, hingga saat ini keberadaan buaya di Sungai Mancung belum pernah mengganggu masyarakat maupun orang lain.
Sungai tersebut juga masih menjadi tempat mata pencaharian nelayan yang menggunakan perahu untuk mencari udang dan kerap beraktivitas di kawasan itu tanpa pernah mengalami gangguan.
"Kondisi ini juga menjadi daya tarik sendiri, banyak desa lain sengaja datang ke sini hanya untuk melihat buaya. Dengan biaya murah, membawa kerupuk dan tali dapat melihat buaya sepuas puasanya," katanya.
Ia mengatakan, kedepan pihak desa belum menentukan pemanfaatan sungai tersebut, yang menjadi kawasan habitat buaya Sungai Mancung. Karena telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin melihat langsung buaya di lokasi.
"Hanya kami minta buaya di sini jangan di ganggu atau sakiti, jangan dilempat batu atau tombak, intinya jangan disakiti. Karena langkah melihat buaya sebesar itu sangat mudah di lihat, harusnya kita jaga bersama, karena menjadi daya tarik dan hiburan tersendiri," harapnya.
Senada disampaikan Yudi (50) nelayan asal Desa Mancung, yang hari-hari mencari ikan di Sungai Mancung dan sudah terbiasa bertemu dengan buaya.
Menurutnya, keberadaannya dinilai unik dan menarik untuk dilihat, sehingga hampir setiap hari banyak warga dan dirinya kerap berhenti sejenak untuk melihat buaya sambil memberinya makan.
"Kami melihat hampir setiap hari, ketika lewat sini pasti berhenti, untuk melihat buaya sambil memberikan makan kerupuk tersebut, tidak takut, sudah biasa dan tidak mengganggu," kata Yudi.
Menurutnya, nelayan tidak merasa takut karena pertemuan tersebut sudah menjadi hal biasa dan sejauh ini tidak pernah ada gangguan
"Sering, berjumpa pas naik perahu pernah ketemu. Tetapi tidak terlalu dekat. Tidak mengganggu juga, sudah biasa mereka itu," terangnya.
(Bangkapos.com/Riki Pratama)