Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Kawasan Batu Ampar, Kelurahan 1 Ilir, Palembang, menyimpan kisah legenda yang hingga kini masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Salah satu cerita rakyat yang paling dikenal adalah legenda Malin Kundang versi Palembang, yang dipercaya berkaitan erat dengan asal-usul nama Batu Ampar.
Menurut cerita turun-temurun warga setempat, Batu Ampar diyakini sebagai lokasi terjadinya peristiwa seorang anak durhaka yang dikutuk akibat tidak mengakui ibunya.
Kisah ini memiliki kemiripan dengan legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat, namun berkembang dengan latar dan detail lokal khas Palembang.
Legenda tersebut hidup di kawasan Jalan Sultan Agung, Lorong Batu Ampar, RT 01 RW 01, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.
Di wilayah ini, warga meyakini batu-batu besar yang masih dapat dijumpai merupakan bagian dari cerita rakyat yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Meski belum didukung catatan sejarah tertulis, legenda Batu Ampar tetap menjadi identitas budaya lokal masyarakat 1 Ilir.
Pegiat sejarah Palembang, Mang Dayat, menjelaskan bahwa nama “Batu Ampar” diyakini berasal dari banyaknya batu besar yang dahulu ditemukan di kawasan bantaran sungai.
Dalam versi legenda yang berkembang di Palembang, tokoh yang dikenal bukan Malin Kundang, melainkan Dampu Awang, seorang pedagang sukses asal Sumatera Selatan.
Dikisahkan, Dampu Awang merantau dan memperoleh kekayaan, namun saat kembali ke Palembang, ia tidak mengakui ibunya.
“Menurut kisah yang berkembang, Dampu Awang tidak berubah menjadi batu, melainkan menjadi burung. Batu-batu yang terhampar di kawasan Batu Ampar itu dipercaya sebagai sembako yang berubah menjadi batu,” ujar Mang Dayat melalui kanal YouTube pribadinya, dikutip Senin (26/1/2026).
Selain legenda Dampu Awang, kawasan Batu Ampar juga menyimpan jejak sejarah lainnya, berupa makam-makam kuno yang hingga kini masih diziarahi masyarakat. Salah satunya adalah makam Puyang Jago Laut, yang dipercaya sebagai seorang prajurit pada masa Kerajaan Palembang.
“Makam ini biasanya diziarahi sebelum orang melanjutkan ke makam Sabokingking. Puyang Jago Laut dikenal sebagai penjaga sungai atau pahlawan pada masanya,” ungkap salah satu warga setempat.
Kawasan 1 Ilir sendiri dikenal sebagai wilayah Palembang lama yang telah dihuni sejak ratusan tahun lalu dan menjadi pusat peradaban awal. Hingga kini, kawasan tersebut menyimpan sejumlah objek wisata religi dan sejarah, seperti makam Kawat Tekurep, Kambang Koci, Batu Ampar, serta makam-makam kuno lainnya.
Legenda dan situs sejarah yang ada menjadikan Batu Ampar bukan sekadar kawasan permukiman, melainkan ruang ingatan budaya yang merekam perjalanan panjang sejarah dan kepercayaan masyarakat Palembang.