TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini podcast Tribun Manado, pada Senin 26 Januari 2026.
Dr. Ivan Kaunang, SS MHum sebagai narasumber dalam tema Melestarikan Kebudayaan Sulawesi Utara.
Jurnalis Tribun Manado kali ini bersama David Kusuma.
Bagaimana perbincangan sebelengkapnya? Simak di sini.
Tribun Manado:
Selamat siang, Tribunners. Kembali bersama saya, jurnalis Tribun Manado, David Kusuma dalam program podcast pada siang hari ini. Siang hari ini kita membahas tema Melestarikan Kebudayaan Sulawesi Utara.
Untuk itu kita telah menghadirkan narasumber yang saat ini dikenal juga sebagai budayawan, Dr. Ivan Kaunang, SS MHum. Selamat siang, Mener. Selamat siang, pemirsa di rumah dan kita di sini.
Sebelum kita membahas topik-topik yang akan kita diskusikan, Mener. Mungkin lebih dulu boleh Mener memperkenalkan aktivitas sehari-hari ini, Mener. Apa yang dilakukan saat ini?
Dr. Ivan Kaunang:
Sehari-hari saya dosen akademisi di Fakultas Ilmu Budaya di Jurusan Ilmu Sejarah. Universitas Sam Ratulangi. Selain saya juga mengajar di Pasar Sarjana. Di program studi S2-S3 Linguistik. Dan di beberapa tempat, universitas swasta di Manado, tapi khusus Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila.
Tribun Manado:
Berarti Mener jadwal ini sangat padat. Terima kasih sudah menyempatkan diri hadir di jadwal narasumber di podcast kita ini, Mener.
Sebelum kita membahas Mener, saya ingin bertanya satu lagi, Mener. Ini kain ini apa yang benar-benar boleh diceritakan sedikit?
Dr. Ivan Kaunang:
Ini ketahanan sebagai sebuah simbol identitas ya. Supaya kelihatan bagian juga dari pelestarian budaya.
Jadi kalau yang ini batik Manado ya. Kebetulan dibuat atau diciptakan oleh seniman rupa Pak Elias Pangei. Dan ini waktu dibagikan di masa pelantikan Dewan Kesenian Kota Menado.
Tribun Manado:
Oh jadi masuk juga di Dewan Kesenian Mener ya?
Dr. Ivan Kaunang:
Ya, mereka masukkan sebagai penasehat. Mungkin karena sudah berkecimpung di bidang budaya kesenian, jadi sangat konsen di bidang itu.
Tribun Manado:
Nah Mener, mungkin kita mulai dulu Mener. Mungkin saya ingin bertanya bagaimana Mener melihat potret kebudayaan di Sulawesi Utara ini di tengah gempuran modernitas saat ini, Mener?
Dr. Ivan Kaunang:
Ya, kalau kita bicara gempuran dan kata modernitas, tentu kita mungkin bisa melihat ada satu teori. Teori globalisasi. Kaitan dengan budaya lokal yang kemudian ada unsur-unsur asing kemudian datang ke sini.
Bercampur baur, ada yang akulturasi, ada yang saling Menerima dan lain sebagainya. Jadi kita bisa lihat apa yang disebut misalnya dulu, zaman dulu itu klasik kuno, purba. Baru ada zaman sekarang, baru yang postmo.
Nah, sekarang ini kita sudah ada di era postmo. Jadi kalau dulu, kebudayaan itu, atau budaya-budaya tradisi itu yang dipertahankan adalah bentuk. Jadi kalau orang bilang, makan nih boleh baca cerita, sebegitu.
Bentuk yang dipertahankan. Tradisinya begitu kan? Baru selain di tempat makan, dapat juga nilai-nilai moralitas. Sopan santun, tradisi-tradisi, begini boleh, itu ini boleh, dan lain sebagainya.
Itu yang dipertahankan bentuk. Di zaman modern, sebuah kebudayaan itu harus berfungsi. Kalau tidak berfungsi, tidak akan digunakan.
Atau hilang secara perlahan. Nah, kita di era pos, wah lebih gila lagi di era posmo ini. Apalagi dengan generasi Z sekarang.
Sesuatu yang masa lampau itu ditinggalkan. Fukuyama sudah bilang gitu dalam tulisan. Apa yang dulu-dulu ditinggalkan.
Lihat ke depan. Nah, itu menjadi persoalan. Di era kekedian.
Pertanyaannya, di mana identitas dan karakter kita sebagai orang Sulawesi Utara. Orang Minahasa, orang Bolaang Mengondong, Sitaro, Siau, Tagulanan, Biaro. Orang Sanger, Orang Telau.
Di mana identitas kita kalau hilang kebudayaan kita. Dimana dasar pijakan kita untuk melangkah ke depan. Kalau identitas kita hilang.
Jadi, ada banyak pakar dan ahli mengatakan. Hancurkan dulu kebudayaannya. Hancurkan dulu masa lampaunya.
Hancurkan dulu identitasnya. Kita bisa kuasai suku bangsa itu. Karena kita, dari mana saya? Saya tidak tahu ini.
Tribun Manado:
Nah, kalau Mener melihat ini. Apa yang dulu masih kental di Sulawesi Utara. Kemudian sekarang mulai berkurang. Kalau yang Mener melihat ini. Dan bagaimana mungkin ke depannya itu bisa dipertahankan.
Dr. Ivan Kaunang:
Ya, orang mungkin mulai dari.
Apa sih yang dimaksud dengan melestarikan? Begitu ya. Baru menjawab ke situ. Boleh kan? Boleh, boleh.
Lanjut. Jadi, kalau kita bicara melestarikan. Berarti kita bicara merawat.
Menjaga, melindungi. Dan mewariskan. Kebudayaan masa lampau.
Apa yang kita wariskan dari budaya masa lampau. Atau tradisi-tradisi masa lampau. Yaitu nilai-nilainya.
Pemaknaannya. Di sana ada, sebab di sekolah-sekolah formal. Kita tidak ajarkan tentang yang tanda kutip itu sopan santun.
Selain ada di agama, kewarganegaraan, Pancasila. Tapi ada nilai-nilai lokal. Yang secara universal bisa diterima.
Misalnya menghormati orang yang lebih tua. Dan lain sebagainya. Jadi apa yang harus kita rawat? Ya, kalau sekarang kita bicara museum.
Itu melindungi dan merawat. Ada satu.
Tribun Manado:
Benda-benda di dalamnya.
Dr. Ivan Kaunang:
Ada di media gawai saya lihat. Dia tunjukkan itu. Benda-benda purbakala.
Lalu dia bilang, ini generasi muda. Lalu dia bilang, untuk apa ini? Cuma disimpan. Setelah itu ada.
Di dalam benda-benda budaya. Atau benda-benda peninggalan leluhur nenek moyang. Di situ ada nilai-nilai budaya identitas kita dan karakter.
Contoh. Kalau kita melihat senjata tradisional Minahasa misalnya. Santi misalnya.
Apa yang ada di situ? Menunjukkan apa? Kita itu bangsa yang satria. Warane. Pemberani.
Itu mau menunjukkan. Tapi orang luar melihat secara langsung tanpa mengetahui identitas. Oh ini kekerasan.
Memang ada satu dua kalau kita lihat. Orang menggunakan Santi kekerasan. Tapi kita bisa lihat.
Ketika eforia. Kebudayaan di setiap daerah mulai muncul. Terutama era 98 ke atas.
Ketika pemerintahan Soeharto jatuh. Muncul berbagai kebudayaan di seluruh Indonesia. Untuk menunjukkan identitasnya.
Tribun Manado:
Jati dirinya.
Dr. Ivan Kaunang:
Salah satu yang berkembang di daerah Sulawesi Utara. Lebih khususnya di Minasa adalah.
Kawasan. Begitu banyak anak muda dalam tanda kutip nakal. Setelah dia masuk di tempat kawasan.
Dengan pedang yang tajam. Bukan pedang kayu. Tapi dia mampu menjaga.
Dan sebagai seorang Satria Waranai tentu. Tidak sembarang menggunakan Santi ini. Untuk kekerasan.
Begitu kan. Jadi itu benda-benda budaya itu. Ada nilai-nilai budaya yang harus kita wariskan.
Pada generasi kini. Kalau kita lepas dari budaya. Sulit.
Banyak contoh kan. Banyak orang juga mengatakan. Mari kita mencontoh ke Tiongkok. Semakin jauh ekonomi mereka berkembang maju. Tapi peninggalan leluhur tetap dipertahankan.
Tribun Manado:
Filosofinya tetap.
Dr. Ivan Kaunang:
Kita di sini memang. Telah menjadi.
Pergeseran nilai. Ketika pemerintah kolonial datang. Dengan membawa kebudayaan yang baru.
Kebudayaan lama. Dalam tanda kutip. Hampir-hampir musnah.
Sekarang ini cuma unsur-unsur kecil. Yang tersisa. Apalagi ketika.
Belanda membawa agama Kristen. Bukan main. Dalam buku yang ditulis oleh Malonda.
Sompoy-sompoy. Orang-orang Minahasa itu harus dibakar. Atau harus dibuang ke sungai.
Atau ke laut dan lain sebagainya. Dan tradisi-tradisi yang tidak sesuai. Dengan ajaran gereja.
Dihapuskan. Kalau kita bicara buku apa. Itu yang ditulis oleh.
Saya sudah lupa penulisnya. Tapi dia tulis di buku itu begini. Salah satu suku bangsa.
Yang hampir hilang kebudayaannya. Adalah Minahasa. Terutama ketika bangsa asing masuk.
Dan membawa Kristen Katolik dan Protestan. Kalau mungkin di Muslim. Ini musrik ini.
Tidak sesuai dengan ajaran. Tapi syukur masih ada yang tersisa. Yang kemudian dikembangkan sekarang.
Tribun Manado:
Maksudnya benar nilai-nilainya itu. Bukan hanya peninggalan secara bentuk fisik. Seperti benda-benda itu. Tapi ada nilai filosofis di balik itu yang harus dipertahankan.
Dr. Ivan Kaunang:
Jadi kebudayaan itu. Bukan yang tanggible saja. Ada yang intangible. Seperti seni-seni lainnya. Seni musik, seni tari. Jadi bukan hanya yang material. Tapi ada juga yang inmaterial.
Tribun Manado:
Kalau yang inmaterial. Mungkin bisa dilihat di museum ya?
Dr. Ivan Kaunang:
Benda-benda seperti Waruga. Atau lesung batu. Atau peninggalan keris. Atau pedang peninggalan Imam Bonjol. Atau Diponegoro. Atau senjata-senjata yang digunakan dalam perang Minahasa Belanda tahun 1807-1808.
Perang Tondano. Dan lain sebagainya.
Tribun Manado:
Tapi ada filosofi nilai-nilai yang di balik itu yang harus dilestarikan juga.
Dr. Ivan Kaunang:
Jangan sampai punah. Hilang. Jadi kita harus rawat dan hidupkan nilai-nilainya untuk pemaknaan hari kini.
Tribun Manado:
Nah Mener, kalau Mener menilai bagaimana di Sulawesi Utara kan dikenal dengan filosofi Sitou Timou Tumou Tou. Sebagai mana praktik itu Mener melihat bagaimana masih kental di Sulawesi Utara atau bagaimana?
Dr. Ivan Kaunang:
Jadi tadi STM 4. Sitou Timou Tumou Tou. Manusia hidup untuk memanusiakan manusia yang lain. Itu ajaran leluhur kita juga. Walaupun orang kemudian mengatakan itu dipopulerkan oleh Sam Ratulangi. Tapi itu memang juga nilai universal.
Semua agama juga mengajarkan seperti itu. Tapi baguslah kita di Sulawesi Utara ada itu Sitou Timou Tumou Tou. Memang kadang-kadang nilai-nilai lama itu di zaman modern bahkan post-modern sekarang ini, era kekecauan seperti ini, itu dalam tanah kutip itu hampir hilang.
Orang Manado bilang nggak jatuh pakai. Bahkan seni-seni budaya itu dalam acara-acara formal pemerintahan pun itu cuma tampilan. Nanti semua baru tampil tau nih seni tari dan lain sebagainya.
Harusnya itu di depan, welcome. Welcome dance misalnya itu harus berada di depan sebetulnya. Tapi ya itulah.
Mengapa dia sudah mulai hilang? Itu kadang-kadang cuma ada di kognitif. Karena kalau kita bicara budaya, saya tanya ada berapa banyak program studi yang mengangkat kebudayaan di kampus-kampus. Kalau di sekolah-sekolah itu muatan lokal saja.
Baru, apakah di Sulawesi Utara itu secara politik, budaya sebagai panglima? Tidak. Politik sebagai panglima. Berdebat lebih bagus orang di sini.
Berdebat secara politik. Tapi unsur-unsur budaya belum. Kalau di daerah lain, katakanlah Jogja, Bali, budaya itu sebagai panglima.
Apapun itu harus dilihat dari unsur budaya. Identitas karakter, nilai budaya yang ada. Baru kita berpolitik.
Kalau orang disini, unsur kesekian yang namanya budaya. Gitu kira-kira.
Tribun Manado:
Bisa tidak, Mener? Seperti di Bali ya, memadukan budaya dan pariwisata. Di Sulawesi Utara, bisa tidak?
Dr. Ivan Kaunang:
Oh, sangat bisa. Itu sudah lama disuarakan. Saya tahun berapa itu di Pemkot jadi staf khusus untuk penyusunan RA. Apa itu? PMD atau perencana pembangunan. Jangka pendek, jangka panjang. Unsur-unsur budaya, saya masuk di situ.
Unsur-unsur budaya saya sampaikan. Di banyak kesempatan, di Dinas Pendidikan Kebudayaan, di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, itu disampaikan. Hanya persoalan selalu, mohon maaf, bukan kritik, tapi membangun.
Misalnya begini, sudahkah pemerintah, kota, kabupaten, provinsi menempatkan posisional orang-orang tertentu di bidang-bidang yang memang benar mereka kuasai? Kebudayaan misalnya. Tapi kalau mereka salah tempatkan orang, salah lagi. Karena begini, itu ada hubungan dengan pemimpin.
Kalau pemimpin kita hobi olahraga sepak bola, yang berkembang itu sepak bola. Begitu kan? Selalu orang bilang begitu. Tapi realitas menunjukkan begitu.
Namun sekarang, kita kasih kesempatan dan salut kepada gubernur yang sekarang di YSK. Kebetulan, misalnya di bidang pariwisata, staf khususnya teman saya, Dr. Derevi Malalantang dari STIPAR, kan? Dulu saya juga mengajar di situ. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata.
Baru mungkin yang kurang di bidang kebudayaan. Coba kita lihat museum kita, kan? Baru saja direnovasi. Tapi ada, kita kurang melindungi benda-benda perubahan dari situ.
Mungkin 10 tahun lalu ada guci dari Tiongkok abad 12, apakah itu sekarang masih ada? Nah ini persoalan. Kita kurang merawat dan mengeksplor itu sebab kalau kita bicara wisata, wisata yang seperti itu, itu wisata minat khusus.
Jadi promosi kita harus tepat. Misalnya kita kirim di orang-orang yang memerlukan benda-benda perubakala. Jadi kalau kita promosi di situ, tepat.
Mereka akan datang lihat. Misalnya, waktu kita promosi orang-orang yang suka pantai, kita punya pantai. Tapi, selancar mungkin tinggal cari.
Mungkin di Sanger atau di Bitung, ada yang ombak-ombak besar. Harus tepat promosinya. Jadi, itu.
Sekarang sedang diusahakan oleh Pak Gubernur untuk memadukan dengan kebudayaan dan perwisata. Nah, sorry, saya baru-baru ini diundang oleh KSBN. Ada organisasi baru, ketuanya Pak Dr. Anders Ferdinand Memengkam, koordinator staff khusus.
Itu KSBN, Komite Seni Budaya Nusantara. Di sini wilayah. Pusatnya Jakarta.
Di sini disebut wilayah. Biasa kan disebut pemda. Tapi di sini disebut wilayah.
Nah, saya ditempatkan di ketua bidang manuskrip, sejarah, dan perubakala. Selain yang lain-lain. Ada koordinator lain.
Tapi itu utamanya melaksanakan undang-undang nomor berapa ini, tahun 70-berapa itu tentang pemajuan kebudayaan.
Tribun Manado:
Sekarang sudah ada kementerian kebudayaan sendiri.
Dr. Ivan Kaunang:
Nah, itu juga untuk membantu pemerintah bagaimana budaya yang dalam tanda kutip tidak ada uang, akan diuangkan di pariwisata.
Iya kan? Cuma memang ya kalau kita bicara budaya, mungkin perlu ada sosialisasi, pencerahan kepada masyarakat umum. Karena kalau kita bicara perwisata, sebagai contoh, misalnya cuma contoh ya. Dulu saya kuliah di Bali, hampir 3 tahun mengambil dokter di kajian budaya.
Itu, di Bali itu, satu hari itu 4 trip. Dan ada peraturan daerah, tidak boleh kemana-mana. Ya paling cuma 1-2 yang bagus.
Terakhir kan belanja, shopping. Nah kalau kita, karakter kita, ini berhubungan dengan karakter lagi, itu ada budaya. Karakter kita, kalau ada tamu, itu langsung mau kasih semua.
Iya kan? Padahal misalnya ya, trip bunaken cukup bunaken. Kalau ditanya Manado Tua, besok pak, peraturan daerah melarang. Kalau trip bunaken, bunaken.
Tidak boleh ke Siladen, Nain, atau Manado Tua. Kan begitu? Tapi kalau kita, karakter kita, ada tamu, semua pulau tolong kasih. Iya kan? Termasuk Pasir Putih yang depan Nain itu, semua tolong kasih.
Padahal, trip bunaken, trip Manado Tua, trip Siladen, supaya apa? Lama tinggal wisatawan, dolar beredar sini sekian hari. Kalau tolong kasih 1 kali, besok dong pulang. Selesai.
Tidak akan maju terhampir para wisata. Iya kan? Baru sekarang ini, kalau pemerintah tidak membina sanggar-sanggar seni yang dapat menyumbang pada aspek destinasi wisata budaya, susah. Contoh, wisatawan datang.
Kita mau cari Maengket. Di mana? Setiap waktu cari. Kita mau cari Kawasaran.
Kita mau cari Kulintang. Di mana? Kalau di daerah-daerah yang para wisatanya maju, seperti di Bali dan Jogja, misalnya Tari Kecak, kita sudah bisa dapat. Di mana kan? Bayar 50 ribu, sekian jam duduk.
Kalau di sini, kita cari Kawasaran di mana? Mesti cari dulu. Memang ada usaha pemerintah Kota Manado membuat pasar tematik di warisana. Tapi itu cuma spasial.
Cuma waktu-waktu tertentu, mungkin hari ulang tahun Kota Manado. Sekarang sudah sepi. Bagaimana me-manage itu? Saya kira penentu kebijakan lebih tahu.
Kira-kira begitu.
Tribun Manado:
Ini juga benar. Mungkin ada kaitan dengan bahasa daerah ini.
Ada beberapa di Minahasa, Bolaang Mongondow, Nusa Utara. Ada beberapa yang hampir punahlah seperti di bahasa Ponosakan, mungkin di daerah Minahasa Tenggara. Juga anak-anak muda sekarang mungkin sudah kurang fasih berbahasa daerah terutama bahasa daerah Minahasa. Bagaimana menurut Mener?
Dr. Ivan Kaunang:
Ini bukan baru. Sudah lama. Karena saya juga bergaul di kebudayaan, jadi ini bukan hal yang baru.
Memang itu setiap suku bangsa atau daerah itu masalah ini sama. Bahasa paling banyak itu di Papua. Tapi mungkin dari 100 tinggal 25 atau 30.
Setiap hari ada bahasa yang punah. Termasuk tadi kalau di Sulawesi Utara, menurut penelitian balai bahasa, di daerah Mitra sana, Ponosakan sana itu, sudah pengguna bahasa ibu itu semakin kurang.
Mengapa? Ya itu. Karena kita tidak membina kebudayaan itu secara sustainable. Penentu kebijakan dulu, kalau baru sekarang, enggak apa-apalah kalau sekarang.
Memang kalau dibilang kenapa seperti ini, ada sekolah-sekolah tertentu di Minahasa Utara, mungkin di Tomohon, sudah melaksanakan bahasa lokal. Baru mereka tanya di sekolah-sekolah, sebenarnya jangan lagi jadikan itu pembuatan lokal, atau cuma kalau mata kuliah pilihan. Jangan lagi.
Itu sudah wajib harus. Kalau anda sekolah di Bali, mata pelajaran bahasa Bali itu penting. Orang daerah susah menjadi juara kelas.
Karena dia mau jatuh di nilai itu. Biar matematika bahasa Inggris 8 sampai 9, tapi di bahasa daerah, karena diberlakukan sama. Nah kita di sini, dinas pendidikan terutama, benar, di antaranya beberapa sudah menyadari akan hal itu.
Tapi mau eksekusi ini, kan susah sekali. Yang pertama, perlu ada persiapan guru-guru. Dan guru-guru itu jangan ambil formalitas ada pendaftaran, rupa sekarang PNS atau PPK, susah.
Nggak mau lulus mereka. Jadi perlu direkrut orang-orang tua, atau anak muda yang tahu bahasa, duduk bersama, susun kurikulum. Untuk bahasa lokal, pembuatan lokal.
Baru bagaimana proses mengajarnya. Nah gitu kan? Baru bisa masif. Ada kebijakan tertentu, kepala dinas atau gubernur, seluruh sekolah di Minahasa Utara, harus melaksanakan bahasa Tonsea, siapapun dia.
Begitu juga di Mitra sana. Bahasa apa? Pasan, Ratahan, Ponosakan. Di Tomohon, bahasa Tombulu, Tondano, bahasa Tondano.
Dan sebagainya. Sangir, bahasa Sangir. Nah kalau di Sangir memang, masih sangat kental.
Anak-anak kecil, anak-anak muda itu masih menggunakan bahasa. Tapi kita di daerah Minahasa, Bitung, Tondano, ya sudah sangat kurang. Dan ya itu tadi saya bilang.
Pemerintah harus membuat kebijakan tegas, ada perdanya begitu misalnya, atau perkap, supaya di sekolah itu diajarkan bahasa lokal. Dan bukan hanya pilihan. Sudah wajib harus ambil.
Supaya mereka tahu bahasa. Nah usaha-usaha kita seperti di kampus, kampus kita kan, Fakultas Ilmu Budaya. Kita juga ya hanya dalam taraf penelitian.
Membuat kamus, dalam rangka pemertahanan bahasa lokal. Membuat kamus, atau penelitian, ungkapan-ungkapan budaya tradisional, yang memiliki nilai dan makna yang positif. Gitu.
Saya sendiri walaupun orang Tombulu, ini tahu bahasa Tumpulu. Saya lahir di Kotamobagu.
Tribun Manado:
Nah Mener, ada yang Mener cerita terkait itu tadi.
Apa? Pedang tadi atau Santi itu. Sebelum acara ini. Saya juga sempat melihat Mener tampil di acara.
Dr. Ivan Kaunang:
Pesona.
Tribun Manado:
Pesona itu ya.
Dr. Ivan Kaunang:
Pesona Indonesia.
Tribun Manado:
Itu salah satu penelitian. Mener, boleh dicerita sedikit itu Mener? Terkait mungkin ada, seperti di Minahasa kan ada slogan I Yayat U Santi itu. Mungkin bisa Mener cerita itu.
Dr. Ivan Kaunang:
Iya. Slogan dulu ya yang tadi. I Yayat U Santi.
Jadi mengacungkan pedang. Jadi artinya, jadi setiap suku bangsa itu tentu berbeda-beda ya. Ada suku bangsa tertentu, kalau sudah cabut pedangnya atau kerisnya, itu harus digunakan.
Pamali kalau tidak digunakan kan, saya tidak menyebut suku bangsa mana. Tapi ada suku bangsa tertentu, bahkan di Sulawesi ini, kalau sudah cabut pedangnya atau kerisnya, itu harus sudah digunakan. Itu secara adat istiadatnya, begitu.
Nah di Tanah Minahasa, Iyayatusanti mengacungkan pedang, saya sudah siap kalau Anda maju. Jadi ada taraf-taraf, ada negosiasi dulu, musyawarah, mufakat, baku atur, kalau bagaimana-bagaimana, terpaksa kita cabut. Kan begitu.
Nah, berkaitan dengan senjata tradisional, setiap suku bangsa itu memiliki senjata tradisional.
Tribun Manado:
Dari Sabang sampai Merauke, pasti ada gambar itu, parang
Dr. Ivan Kaunang:
Ada yang pendek, ada yang sedang, ada yang panjang. Pendek seperti di Jawa, keris.
Kalau secara umum, pisau. Pisau dapur. Tapi ada nama-nama khusus yang saya tidak hafal.
Tribun Manado:
Seperti kalau di Kalimantan ada ya, mandau begitu.
Dr. Ivan Kaunang:
Tapi ada satu hal. Orang Minahasa itu, bukan tidak ada panah. Ada. Hanya untuk berburu. Dan orang Minahasa, pantang dalam tanah kutip, kalau berperang pakai panah. Itu hanya untuk berburu. Orang Minahasa, setelah saya pelajari dari senjata tradisional, kalau berkelahi dan berperang, itu harus berhadap-hadapan. Kalau pakai panah itu, jauh tuh. Gitu kira-kira ya. Tapi sekali lagi, di dalam, ternyata kita kaya. Senjata tradisional. Ada senjata pendek yang dengan berbagai nama, sedang dan panjang. Panjang yang tombak. Untuk jarak jauh atau apa. Di pedang-pedang ini, ada pamor istilahnya. Atau pedang itu bilah. Di situ ada pamor, ada gambar-gambar. Dan gambar-gambar itu khas daerah. Nah, berkaitan dengan pelestarian, sekarang ada sudah replika. Artinya dibuat kembali, dilestarikan kembali, dirawat, dijaga.
Jadi, dan kadang-kadang kita sulit membedakan mana yang senjata warisan Nenek Moyang, atau yang dipakai dalam perang Tondano dulu, perang Minahasa dulu. Dan mana yang baru. Yang baru dibuat oleh, ada di Sulawesi Utara sini, di Minahasa, ada namanya komunitas biji besi Malesung.
Mungkin sekali-kali bisa diundang. Nanti mereka bercerita. Biji besi dapat dari mana? Bukan dari Jawa atau dari Jepang.
Di daerah kita banyak besi. Bahkan dalam bentuk model pasir.
Cuma mereka tidak umbar ke umum. Nanti semua ambil di sana. Jadi tambang besi, ya kan? Gitu.
Baru bagaimana mereka mengolah, membuat, supaya kualitasnya bagus. Jadi, kata mereka ya, sebuah pesanti, itu kalau tidak ada sarungnya, bisa jadi jahat. Betul tidak, Toh? Jadi ada sarungnya.
Sarungnya juga ada nama, ada ukiran-ukiran, termasuk gagangnya. Ada ukiran-ukiran. Nah, itu, apa namanya, pedang-pedang seperti itu bisa menjadi pedang pusaka.
David juga. Mereka tanya sama saya, Pak Ivan suka, Pak Ivan kalau saya buatkan pedang untuk dijadikan pusaka keluarga. Jadi pusaka itu ada dua definisi ya.
Ada pusaka dulu dengan pusaka modern. Ini saya sebut pusaka modern. Saya bilang, saya cuma mau untuk souvenir di rumah. Prom di dinding gitu ya. Tapi karena dia pedang, tentu kalau saya terancam, saya bisa gunakan. Kalau jadi gitu.
Tribun Manado:
Misalkan ada di rumah, ada perampok, pencuri, terpaksa digunakan.
Dr. Ivan Kaunang:
Nah, ini mereka buat sesuai kebutuhan saya.
Tribun Manado:
Dan ini, tetap dibuat tajam begitu.
Dr. Ivan Kaunang:
Ini akan menjadi pusaka ketika David wariskan kepada anak. Anak David akan bilang, punya Ayah ini, pusaka yang disimpan dari dulu. Bukan begitu?
Tribun Manado:
Apalagi sudah cucu ketiga.
Dr. Ivan Kaunang:
Jadi sudah seperti itu ya. Dan di sana ada nilai-nilai karakter orang Minahasa.
Tribun Manado:
Nah, Mener. Salah satu juga yang sering saya baca kalau di Tanah Minahasa ini, demokrasi itu ternyata sudah dimulai mungkin ratusan tahun lalu.
Dr. Ivan Kaunang:
Pemilu pertama lokal, di daerah Sulawesi Utara, Minahasa.
Tribun Manado:
Jadi, mungkin masyarakat Sulawesi Utara untuk memilih itu sebenarnya bukan lagi gontok-gontokan begitu. Karena demokrasi ternyata sudah ada dulu. Sejak, mungkin Mener bisa cerita ini, pembagian tanah, lahan, kita tahu seperti apa. Itu cerita itu, saya mau tanya dulu, Mener. Itu bagaimana menurut Mener? Itu sebagai budaya atau apa? Itu cerita yang nyata atau bagaimana Mener?
Dr. Ivan Kaunang:
Ya, itu cerita yang nyata. Ada banyak orang-orang, keluarga-keluarga Minahasa di zaman modern sekarang ini, itu masih melaksanakan demokrasi di rumah. Karena apa? Pertama, Minahasa itu tidak punya kerajaan. Dibanding dengan daerah-daerah tertangga. Siau, ada kerajaan Siau. Sangir, ada banyak kerajaan.
Talaud, ada kerajaan. Bolmong, Molaang, Mongondow, itu sudah dua kerajaan. Nah, kita di sini tidak punya kerajaan.
Kita memilih seorang Tonaas atau seorang pemimpin. Tonaas itu tahu orang Tonaas itu sakti, berwibawa, berkarisma. Kita memilih seorang Tonaas itu berdasarkan kemampuan orang itu.
Jadi, kalau dia mampu menindungi kelompok Taranaknya, keluarganya, dia kita angkat sebagai Tonaas keluarga. Pemimpin sebuah Taranak. Dan di saat dia tidak mampu lagi, dia sudah tahu. Dia akan mengundurkan diri. Ada Tonaas baru akan mengganti. Itu zaman dulu ya.
Nah, begitu juga. Kalau Tonaas-Tonaas bertemu semua. Pemimpin-pemimpin bertemu. Ketika misalnya mau perang, mereka sudah tahu si Tonas A kalau perang. Sehingga kemudian di jaman sekarang kita sebut dia Tonas Perang, ya kan? Di jaman dulu, kalau misalnya ada orang meninggal, orang mati, oh Tonas ini khusus penguburan. Di waktu menanam, oh Tonas ini punya keahlian untuk menanam atau memanen padi, misalnya.
Nah, sekarang tidak lagi dengan politik, kepartaian atau apalah. Orang mau pilih pemimpin sudah ditentukan oleh partai. Sekarang berdasarkan uang banyak, punya jabatan tertentu, tidak lagi melihat.
Tribun Manado:
Atau hanya repopuler. Kan begitu.
Dr. Ivan Kaunang:
Jadi kalau dulu memang demokrasinya seperti itu. Orang saling menghargai kelebihan satu dengan yang lain. Oh dia pantas, bukan saya.
Tapi itu kemudian ketika VOC datang, pemerintah kolonial datang. Mengapa di Minahasa cuma ada sekolah laki-laki? Sekolah perempuan tidak ada. Itu ada hubungan dengan Maria Walanda Maramis, kan? Yang kemudian dia berjuang mendirikan pikat supaya ada sekolah perempuan.
Tapi kita bicara laki-laki dulu. Hanya ada sekolah laki-laki karena sesudah mereka tamat, itu dipersiapkan untuk mengurus administrasi di Benteng. Membantu kolonial.
Perempuan tinggal saja di rumah. Nanti suatu saat akan dilamar dan menikah. Itu yang kemudian diperjuangkan oleh pahlawan Maria Walanda Maramis.
Dengan mendirikan pikat percintaan ibu kepada anak turun temulunya tahun 1917. Nah, baru di Minahasa dulu ada sekolah yang namanya Hovland School. Sekolah Raja.
Jadi semua raja-raja di tetangga Minahasa datang sekolah di Tondano. Dan kepala-kepala walak atau sekarang camat-camat, bupati pengen sekolah di situ. Cuma laki-laki. Perempuannya nggak.
Jadi itu juga berkaitan dengan politik yang kemudian bergeser. Orang dulu mau cari jabatan di masa kolonial kan mesti dalam tanda kutip pilih sogok. Bawa sesuatu. Nah, itu kemudian berkembang sampai sekarang. Kita mau naik jabatan bagaimana kan? Mesti cari muka dulu.
Harusnya, mari kalau kita kembali ke nilai-nilai moral lama. Lihat kapasitas seseorang. Dia hebat di sini, cocok ditempatkan di sini.
Lihat rekam jejaknya, kira-kira begitu. Secara pemerintahan, politik, kalau mau orang-orang di politik. Kalau orang-orang di universitas juga lihat lain lah.
Meskipun ada sekolah di Jepang, di Australia, atau di Udayana. Cocok dia ditempatkan sebagai ini. Tapi kan sekarang tidak. Tanda kutip, gitu lah kira-kira.
Tribun Manado:
Jadi nilai budaya itu harus kita ambil sebenarnya untuk berdemokrasi sekarang.
Dr. Ivan Kaunang:
Kalau tadi bicara demokrasi kan, memang demokrasinya awal di Minahasa.
Karena pemilu lokal pertama di Indonesia di Minahasa. Sebelum ada pemilu tahun 1951 atau tahun 1955 secara nasional. Itu partai-partai keluarga dulu.
Maksudnya partai Kaunang, partai Supit, atau partai apa? Keluarga dulu. Tapi tetap, karena dulu kan kentara sekali budaya. Maksudnya kalau orang luar mengatakan karma. Tapi kalau di sini tidak enak, nanti leluhur marah. Itu bukan bidang saja. Bidang saya, kan. Jadi ya begitu kira-kira.
Tribun Manado:
Nah Mener, kalau di zaman sekarang bagaimana mengemas kebudayaan lokal ini agar di mata generasi milenial, generasi Gen Z, lebih menarik mungkin karena Gen Z atau generasi milenial kurang tertarik kebudayaan yang, kata mereka, yang lampau-lampau itu. Bagaimana mengemas ini Mener?
Dr. Ivan Kaunang:
Memang tidak mudah ya. Karena kalau kita langsung, belum tentu akan diterima. Itulah sebabnya memang harus sustainable, continue. Apa namanya? Dan untuk melesterikan kebudayaan itu bukan hanya, ya semua stakeholder lah.
Pemerintah, gereja, kelompok ulama di masjid dan lain sebagainya. Itu juga semua harus berperan. Bukan hanya rakyat biasa.
Nah kalau itu berperan, sekolah pertama itu sekolah dalam keluarga. Dan berjenjang terus sampai ada kebijakan pemerintah. Tapi tentu mengikuti situasi zaman sekarang.
Misalnya lomba film budaya lokal tapi digital. Supaya generasi muda itu merasa tertarik. Dan kalau mau menulis atau membuat film-film tradisi, dia harus belajar buku-buku lama.
Dicarita lah, oh begini itu orang dulu. Baru dihadirkan pada pemaknaan kekinian. Contoh sekarang kan mapalus, itu dalam kognitif orang Minahasa itu ada.
Yang orang bilang gotong royong. Tapi mafalus itu sebetulnya bukan gotong royong. Bagian dari gotong royong.
Mapalus itu lebih besar dari gotong royong. Mapalus ada di dalam, di dalam gotong royong itu. Jadi kalau gotong royong kan seperti daerah-daerah lain, misalnya kerja bakti.
Saya boleh tidak hadir kalau cuma gotong royong. Saya kirim orang pengganti. Saya kirim uang.
Bahkan bisa saja, saya datang bawa makanan, memberi fasilitas pada mereka, lalu saya hanya duduk-duduk santai. Tapi saya sudah gotong royong kan? Kalau mapalus tidak boleh begitu. Orangnya harus datang, bekerja sama-sama tepat waktu, dan pulang sama-sama.
Terlibat langsung. Kalau tidak bisa datang, apa alasannya? Bisa diganti pada hari yang lain. Itu, mapalus.
Ma itu sebuah aktivitas. Palus itu baku saling. Saling apa? Tenaga.
Itu kan tradisi... Lebih luas makna. Tradisi mafalus itu kan tradisi ladang. Apa? Kebun dulu.
Tradisi ladang dulu. Orang Indonesia petani di zaman lampau. Jadi kalau kita dapat peta tanah mau cangkul, saya di sini, Anda di sana, teman satu di sini.
Nah kalau dia lemah, saya harus bantu. Supaya selesai sama-sama. Sebab kalau dia belum selesai, kita belum boleh pulang. Itu ekonomi desa dong. Iya. Bekerja sama-sama dan bahagia sama-sama. Sejahtera sama-sama. Kan begitu?
Tribun Manado:
Termasuk itu mungkin melihat dulu, mungkin saya dengar saling mapalus membantu misalkan ada keluarga kita yang mau menikah.
Dr. Ivan Kaunang:
Nah itu kurang bertransformasi nilai di era modern. Oh gitu. Di zaman sekarang, jadi dalam tanda kutip seperti arisan. Sudah seperti arisan. Yang lalu anak saya menikah, mereka bawa ikan. Saya bawa ikan sekarang. Itu sudah arisan. Tapi memang substansi kebersamaan masih ada. Nilai-nilainya masih ada. Nilai-nilainya kebersamaan, persatuan, itu masih ada.
Tribun Manado:
Mener, Mener juga sebagai akademisi bagaimana menjembatani dengan pengambil kebijakan ini terkait itu tadi, melestarikan kebudayaan.
Dr. Ivan Kaunang:
Nah, mungkin dari awal saya sudah sentil-sentil sedikit. Salah satu alat untuk menjembatani adalah bentuk pencerahan seperti hari ini.
Ini kan bukan cuma satu dua orang yang dengar. Mudah-mudahan, staf-staf gubernur dengar juga ini. Ada hal yang bisa diambil.
Kedua, saya banyak terlibat di komunitas-komunitas budaya. Baik yang pemerintah bentuk maupun di luar kampus. Ini juga kita punya hasil-hasil yang kita eksplor di berbagai media gawai.
TikTok atau apa. Mudah-mudahan, penentu kebijakan juga lihat-lihat itu. Lalu, apa? Atau misalnya, kemarin tanggal 24, saya berinisiatif dengan beberapa orang teman, sembilan orang kita.
Kita membentuk Manado Institute. Saya direkturnya. Jadi kita diskusi pertama tanggal 24 itu.
Jam 3 sampai jam 11 malam. Cukup lama. Kita kasih ambil tema Manado dulu, kini, dan masa depan dengan perspektif nilai masa kini.
Pemaknaan masa kini. Jadi itu dulu-dulu yang pernah ada. Kalau orang mau hadirkan di hari kini bagaimana? Kira-kira begitu.
Dan mudah-mudahan, organisasi seperti ini bisa banyak menyumbang kepada pemerintah. Termasuk tadi KSBN, itu juga sebetulnya dalam tanda kutip underbown-nya pemerintah. Staf-staf khusus ada di situ.
Jadi kita mengembangkan kebudayaan untuk membantu pemerintah dalam pembangunan sosial budaya.
Tribun Manado:
Jadi tergantung juga siapa yang memimpin. Kalau dia suka main kolintang, pasti dia yang berkembang. Kalau dia suka berkembang, betul. Kalau dia suka olahraga, pasti berkembang.
Dr. Ivan Kaunang:
Tapi sekali lagi, itu pendekatannya kepada generasi muda lewat pendidikan. SD, SMP, SMA. Memang di daerah-daerah tertentu seperti Tomohon, kadisnya bagus juga, dia peduli kebudayaan. TIF juga itu hasil diskusi-diskusi yang cukup lama.
Kemudian jadi Tomohon International Flower Festival. Festival. Menado, sayang sekali figurannya sudah tidak ada, festival figura.
Padahal sebelum-sebelum Melikota sebelumnya, festival figura itu ada. Itu sebenarnya bagus untuk menghidupkan dan melestarikan kebudayaan daerah. Bahkan dia berdampak secara ekonomi, UMKM.
Misalnya, kalau kita lihat di daerah lain seperti Semarang, kegiatan-kegiatan festival itu luar biasa. Ini bisa menghidupkan penjahit-penjahit baju busana untuk menampilkan. Baru kemudian untuk pertanian, apa yang akan diekspos di bidang pertanian, di festival-festival seperti itu dan lain sebagainya.
Kalau di luar negeri, mungkin di Spanyol ada festival tomat. Kita bisa mencontoh, bukan ikut-ikut, tapi kita elaborasi sedemikian, lupa sesuai nilai-nilai lokal yang ada. Misalnya, di Modoinding, mengapa kita tidak buat festival kentang? Bisa, kan? Bisa ada banyak kentang. Atau gimana?
Tribun Manado:
Mener, terasa bincang-bincang ini sudah setengah jam lebih. Sebelum kita mengakhiri, tapi Mener, mungkin ada pesan-pesan untuk pemerintah atau stakeholder lainnya untuk menjaga kestarian budaya di Sulawesi Utara ini, agar generasi seterus-terusnya tetap mewarisi nilai-nilainya ini, Mener. Mungkin ada pesan-pesan yang ingin disampaikan. Di sini, Mener.
Dr. Ivan Kaunang:
Memang kalau kita bicara kebudayaan, nilai budaya, itu di zaman sekarang tidak seperti membalikkan telapak tangan. Seperti kalau kita bicara ekonomi, tapi sekali lagi, sebuah bangsa yang meninggalkan seni budaya atau identitas budaya masa lampau, suatu saat bangsa itu akan kehilangan peradabannya di era ke depan.
Sebuah bangsa yang maju secara politik, bangsa itu melahirkan ahli-ahli politik di luar negeri sebagai corong bangsa, tapi sebuah negara yang membangun secara ekonomi akan hadir ekonomi-ekonomi yang jauh. Tapi sebuah bangsa yang tidak membangun kebudayaan, suatu saat bangsa itu akan hilang dari peradaban. Itu saja.
Tribun Manado:
Betul sekali. Karena nilai-nilai kebudayaan itu tetap harus diwarisi sampai generasi mendatang.
Dr. Ivan Kaunang:
Identitas kita. Jati diri kita. Siapa kita.
Tribun Manado:
Ya, demikian Tribunners, perbincangan kita dengan Dr. Ivan Kaunang, SS MHum, yang di tengah kesibukannya sebagai dosen, akademisi, juga budayawan, masih menyempatkan diri, hadir di podcast di Tribun Manado. Nanti mungkin kita bisa berjumpa dalam tema-tema berikutnya yang benar-benar mungkin. Demikian Tribunners, perbincangan ini. Selamat siang dan sampai jumpa.
Tonton videonya di Youtube:
(TribunManado.co.id/Ang)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK