Mundur Munggah Madep Kali, Puluhan Rumah di Bibir Sungai di Kota Yogya Bakal Ditata Tahun Ini
January 27, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali melanjutkan upaya penataan kawasan permukiman di sejumlah titik bantaran sungai pada tahun ini.

Melalui konsep Mundur Munggah Madep Kali (M3K), puluhan rumah yang berbatasan langsung dengan aliran sungai bakal bersolek guna meningkatkan kualitas hidup dan sanitasi.

Analisa peta dan penataan

Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dinas Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta, Sigit Setiawan, mengaku tengah menyelesaikan proses analisa.

Rangkaian analisa mendalam tersebut menyangkut peta jalan dan proyeksi penataan sungai yang akan digencarkan selama empat tahun ke depan.

"Yang jelas, target lokasinya adalah wilayah yang belum memiliki jalan inspeksi, akses sanitasinya buruk, dan warganya sudah siap untuk ditata," tandasnya, Senin (26/1/26).

Wilayah sasaran di 2026

Untuk tahun 2026, Sigit menyebut, sejumlah titik krusial sudah masuk dalam radar pembangunan yang tersebar di beberapa wilayah titik kelurahan.

Antara lain, kelanjutan pembangunan rumah di Kampung Lampion Kotabaru sebanyak 8 unit, kemudian di kawasan Pringgokusuman 8 unit, dan Terban 6 unit.

​Berbeda dengan pemugaran biasa, penataan kawasan bantaran sungai kali ini menggunakan metode peremajaan dengan konsolidasi lahan. 

Artinya, rumah-rumah eksisting akan dibongkar total dan dibangun kembali menjadi hunian dua lantai selaras konsep munggah yang diusung dalam M3K.

"Konsepnya rumah dibongkar dan dibangun dua lantai. Sisa tanah eksisting nantinya digunakan untuk jalan inspeksi dan prasarana permukiman, seperti IPAL komunal," cetusnya.

Sigit mengungkapkan, sesuai aturan teknis dalam penataan dengan konsep M3K, bangunan rumah wajib mundur minimal 3 meter dari bibir sungai. 

​Selain tiga lokasi utama tersebut, program M3K dengan metode pemugaran juga direncanakan menyasar kawasan Notoprajan, Keparakan, Pakuncen, dan Cokrodiningratan.

"Untuk jumlah pastinya di lokasi-lokasi itu masih kami rencanakan sesuai ketersediaan anggaran. Perkiraan total ada sekitar 40 unit rumah yang akan tertangani," terangnya.

Anggaran Rp6,5 miliar 

Terkait pendanaan, Pemkot Yogyakarta sejauh ini telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp6,5 miliar untuk menyukseskan program tersebut. 

Sigit memperkirakan, setidaknya ada 200 jiwa yang akan merasakan dampak langsung dari proyek penataan hunian yang lebih sehat dan layak.

"Kami masih fokus pada lahan yang berstatus SG (Sultan Ground). Kami perkirakan setiap rumah dihuni 5 jiwa, sehingga kalau 40 rumah totalnya ada 200 jiwa," katanya.

Sementara, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyebut konsep M3K yang sudah digencarkan beberapa tahun terakhir menjadi solusi jangka panjang.

Tiga sungai besar: Winongo, Code, dan Gajahwong

Penataan akan dibagi dalam empat termin yang menyasar tiga sungai besar yang membelah Kota Pelajar, yakni Sungai Winongo, Code, dan Gajahwong.

Melalui konsep ini, Pemkot bakal memundurkan bangunan dari bibir sungai, menaikkan elevasi bangunan, hingga mengubah arah hadap rumah ke sungai.

Maka, tujuan akhir dari M3K bukan sekadar estetika, tetapi keselamatan dan kemudahan mitigasi bencana, lantaran jalan inspeksi di sepanjang tepian sungai dapat terealisasi.

"Jadi nanti depannya (rumah) ada jalan untuk inspeksi. Ini penting agar jika terjadi keadaan darurat atau perlu pemeliharaan sungai, aksesnya sudah tersedia dan rumah warga tidak lagi langsung bersentuhan dengan bibir sungai yang rawan," urainya. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.