Rumah Produksi Barongsai di Semarang Timur Kebanjiran Pesanan Jelang Imlek
January 27, 2026 06:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menjelang Imlek, rumah produksi barongsai di Semarang Timur kebanjiran pesanan.

Selain dari Pulau Jawa, pesanan itu juga datang dair Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Rumah produksi barongsai di Jalan Hiri III Nomor 6, Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, selalu sibuk, sejak awal Januari 2026.

Rangka rotan menumpuk, kepala barongsai berjajar setengah jadi, bau cat bercampur lem mengisi udara.

Chandra Wiro Utomo, atau yang lebih dikenal dengan nama Tionghoanya, Oei Wie Hong, mengakui, produksi barongsai menjelang Imlek tahun ini berjalan tidak serapi tahun-tahun sebelumnya.

“Agak kacau, biasanya pesanan itu masuk dua sampai tiga bulan sebelumnya. Ini banyak yang baru pesan Januari, mepet semua,” kata Chandra saat ditemui Tribun Jateng, Senin (26/1/2026).

Lonjakan pesanan mendadak membuat bengkel yang sudah bertahan hingga generasi keempat ini sempat kewalahan.

Beberapa bahan baku bahkan sempat menipis karena tak terkejar suplai.

Padahal, pelanggan Chandra datang dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Untuk satu set barongsai, ia mematok harga di kisaran Rp 6,5 juta.

“Satu set itu dapat kepala, badan, dua celana, sama dua sepatu,” papar Chandra.

Menariknya, meski permintaan meningkat, Chandra memilih tidak menaikkan harga dibandingkan tahun lalu.

Menurutnya, kondisi pasar masih stagnan.

“Nggak naik, nggak turun. Yang berat itu justru orderannya yang datang barengan,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Berbarengan

Proses pembuatan barongsai di bengkel Chandra masih mengandalkan keterampilan tangan. 

Dimulai dari pembuatan rangka rotan, lalu ditempel, dilukis, hingga tahap akhir pemasangan bulu.

“(Pembuatan) satu kepala barongsai bisa memakan waktu lima sampai tujuh hari,” kata Chandra. 

“Tapi karena momennya (kedatangan order) barengan, kami kerjain kolektif. Rangka semua dulu, tempelan bareng, lukis bareng, baru pasang bulu,” katanya.

Dari sekian banyak pesanan, yang paling menyita perhatian adalah naga ukuran jumbo.

Panjangnya mencapai 47 meter dengan diameter badan sekitar 60 sentimeter dan lingkar hampir dua meter.

“Itu pesanan dari Singkawang dan Ketapang, Pontianak. Minggu lalu masih ada di sini, sekarang sudah berangkat,” ungkap Chandra.

Cuaca hujan sempat menjadi kendala, terutama saat proses pengeringan.

Namun, ia menyebut, timnya masih mampu mengendalikan produksi.

Untuk Imlek 2026 sendiri, pesanan barongsai di bengkel Chandra berada di kisaran puluhan set.  

Namun secara keseluruhan, dalam setahun, produksi barongsai di tempat ini bisa menembus ratusan unit, seiring barongsai yang kini sudah masuk cabang olahraga resmi dan rutin dipertandingkan.

Desain fleksibel

Ciri khas barongsai produksi bengkel Chandra terletak pada fleksibilitas desain.

Berbeda dengan produk impor yang sudah jadi, bengkel ini melayani pesanan sesuai permintaan warna dan karakter.

“Pembeli itu suka request, warna tertentu, bentuk tertentu. Kalau impor kan sudah jadi. Nah, di sini bisa custom,” katanya.

Saat ini, Chandra dibantu enam karyawan.

Bahan baku sebagian berasal dari dalam negeri, namun untuk bulu-bulu tertentu masih harus impor karena belum tersedia di Indonesia.

Soal keberlanjutan usaha hingga generasi keempat, Chandra menyebut satu kunci utama.

“Trust. Kepercayaan. Kalau nggak dipercaya, ya nggak mungkin order datang terus,” ujarnya.

Untuk pesanan menjelang Imlek 2026, bengkel ini sudah menutup pemesanan.

Order baru hanya dilayani untuk periode setelah Imlek.

“Sekarang sudah close order. PO (Pre-order) lagi setelah Imlek,” katanya.

Di tengah gempuran produk impor dan makin banyaknya perajin, bengkel barongsai di sudut Semarang Timur ini tetap bertahan.

Bukan semata karena tradisi, tapi karena kepercayaan yang dijaga dari generasi ke generasi seperti rangka rotan yang lentur, tapi kuat menopang kepala naga. (Rezanda Akbar D)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.