TRIBUNNEWS.COM - Harga emas dunia mencatat tonggak bersejarah pada perdagangan Senin (26/1/2026) setelah menembus level 5.000 dolar AS per ons untuk pertama kalinya.
Kenaikan ini memperpanjang reli kuat emas di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Pada pukul 03.23 GMT atau 10.23 WIB, harga emas spot naik 1,98 persen menjadi 5.081,18 dolar AS per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor intraday di 5.092,71 dolar AS per ons.
Jika dikonversikan ke mata uang Indonesia, harga 5.081,18 dolar AS per ons setara sekitar 85–86 juta rupiah per ons.
Sementara itu, rekor intraday 5.092,71 dolar AS per ons berada di kisaran 85,6–86,3 juta rupiah per ons, tergantung nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat transaksi.
Di sisi lain, emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari turut menguat 2,01 persen ke level 5.079,30 dolar AS per ons, yang setara sekitar 85–86 juta rupiah per ons, bergantung pada pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS.
Lonjakan ini menjadi salah satu kenaikan paling signifikan dalam sejarah perdagangan logam mulia.
Sepanjang 2025, harga emas tercatat melonjak sekitar 64 persen, dan sejak awal 2026 telah bertambah lebih dari 17 persen.
Analis menilai reli emas dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik.
Faktor-faktor tersebut mencakup meningkatnya ketegangan geopolitik global, ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter di negara-negara ekonomi utama, serta kekhawatiran investor terhadap stabilitas sistem keuangan dunia.
Analis pasar senior Capital.com, Kyle Rodda, mengatakan lonjakan harga emas mencerminkan krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Amerika Serikat dan aset berbasis dolar.
Baca juga: Harga Emas Dunia Hari Ini Meroket, Bagaimana Harga di Pegadaian?
Menurutnya, sejumlah keputusan kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai tidak konsisten dalam beberapa pekan terakhir telah mengguncang pasar global.
Ancaman tarif yang berubah-ubah menjadi salah satu pemicu utama kegelisahan investor.
Trump sempat membatalkan rencana tarif terhadap Uni Eropa terkait isu Greenland, namun kemudian mengancam mengenakan tarif 100 persen terhadap Kanada jika negara tersebut memperdalam kerja sama dagang dengan China.
Selain itu, Trump juga mengancam tarif 200 persen terhadap anggur dan sampanye Prancis sebagai bagian dari tekanan diplomatik terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Langkah-langkah tersebut dinilai memperburuk ketidakpastian kebijakan perdagangan global.
“Pemerintahan AS telah menciptakan keretakan permanen dalam tatanan kepercayaan yang selama ini berlaku, dan emas kini dipandang sebagai satu-satunya alternatif yang aman,” kata Rodda kepada Reuters.
Daya tarik emas semakin menguat seiring melemahnya dolar AS.
Pada awal pekan, dolar tertekan akibat penguatan yen Jepang dan spekulasi pasar menjelang pertemuan Federal Reserve, sehingga investor mengurangi eksposur terhadap mata uang AS.
Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli internasional dan mendorong peningkatan permintaan global.
Investor juga terus meninggalkan obligasi pemerintah dan mata uang utama dalam fenomena yang disebut pelaku pasar sebagai “perdagangan penurunan nilai.”
Direktur Metals Focus, Philip Newman, memperkirakan tren kenaikan emas masih akan berlanjut meski potensi koreksi jangka pendek tetap ada.
Ia memproyeksikan harga emas dapat mencapai kisaran 5.500 dolar AS per ons hingga akhir tahun.
Sebagai gambaran, harga 5.500 dolar AS per ons setara sekitar 91–93 juta rupiah per ons, dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di kisaran 16.500–16.900 rupiah per dolar AS.
Baca juga: Harga Emas Melejit, Tembus 5.000 Dolar AS untuk Pertama Kalinya Gara-gara Gejolak Global
Bank sentral global tercatat terus mengakumulasi emas secara agresif sebagai upaya diversifikasi cadangan devisa.
Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh sektor resmi mencapai rata-rata 60 ton per bulan, jauh di atas level sebelum 2022.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga meluas ke seluruh sektor logam mulia.
Harga perak melonjak 5,79 persen ke 108,91 dolar AS per ons, setara sekitar 1,80–1,84 juta rupiah per ons, setelah mencetak rekor intraday di 109,44 dolar AS per ons atau sekitar 1,81–1,85 juta rupiah per ons.
Harga platinum naik 3,77 persen ke 2.871,40 dolar AS per ons, setara sekitar 47,4–48,5 juta rupiah per ons, dan sempat menyentuh rekor 2.891,60 dolar AS per ons atau sekitar 47,7–48,9 juta rupiah per ons.
Sementara itu, paladium menguat 3,2 persen ke 2.075,30 dolar AS per ons, setara sekitar 34,2–35,1 juta rupiah per ons, menjadi level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Kinerja perak dinilai sangat menonjol setelah menembus level 100 dolar AS per ons untuk pertama kalinya pekan lalu.
Reli tersebut mencerminkan kombinasi minat investor ritel, pembelian berbasis momentum, serta ketatnya pasokan fisik di pasar global.
Analis Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, menilai lonjakan harga emas mencerminkan pergeseran besar dalam tatanan global.
Menurutnya, tembusnya harga di atas 5.000 dolar AS per ons menjadi sinyal kuat bahwa selera risiko investor belum sepenuhnya pulih.
Pelaku pasar kini mencermati apakah reli emas mampu bertahan di level rekor atau akan menghadapi tekanan ambil untung.
Namun, analis sepakat bahwa keberhasilan menembus 5.000 dolar AS per ons merupakan momen penting yang kembali menegaskan peran emas sebagai aset aman utama di tengah gejolak global.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)