Kisah Nelayan Pesisir Timur Jambi Hantam Ombak 4 Meter Saat Anomali Cuaca Awal Tahun
January 27, 2026 09:48 AM

"Kalau ombak arahnya dari utara. Tapi angin ini enggak bisa diprediksi. Kadang tenang, tiba-tiba kencang" 
Sulaiman
Nelayan Kampung Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Sore itu, Senin (19/1/2026), mendung menggelayuti pesisir timur Jambi. Sejumlah nelayan tampak merapikan jaring di tepi kuala. Beberapa perahu bermesin kecil ukuran tiga gross ton (GT) hanya terikat di tambatan. Penampakan seperti itulah yang terlihat di Kampung Laut, Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, setiap akhir dan awal tahun.

Biasanya, saat sore, nelayan bersiap menghadapi laut lepas di kawasan ambang luar, lokasi utama mencari udang dan ikan.

Namun, cuaca ekstrem yang melanda perairan Provinsi Jambi sejak akhir 2025 hingga awal 2026, berdampak langsung pada aktivitas nelayan pesisir timur.

"Cuaca ekstrem ini sejak akhir tahun kemarin. Awal tahun masih begitu. Karena pengaruh cuaca, sebagian nelayan ada yang ke laut, ada juga yang memilih tidak,” ujar Sulaiman (26) saat dijumpai Tribun Jambi, Senin (19/1/2026).

Nelayan muda dengan nama panggilan Leman itu menceritakan cuaca buruk mulai dirasakan sejak akhir November hingga memasuki Desember 2025. Kondisi tersebut berlanjut hingga Januari awal tahun ini.

Berhari-hari Tak Melaut, Angin Sulit Diprediksi

Dia bertutur, gelombang tinggi mulai muncul sejak akhir November dan semakin terasa memasuki awal Desember. 

Arah ombak umumnya datang dari utara, sementara arah angin sulit diprediksi karena kondisi pancaroba yang disertai hujan.

MEMUTUSKAN TIDAK MELAUT - Nelayan di Tanjabtim
BALIK - Nelayan di Kampung Laut, Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, tidak jadi melaut karena ombak tinggi, Senin (12/1).

"Kalau ombak arahnya dari utara. Tapi angin ini enggak bisa diprediksi. Kadang tenang, tiba-tiba kencang," katanya.

Leman menuturkan, gelombang tinggi mulai dirasakan ketika kapal nelayan keluar sekitar lima mil dari bibir pantai. Semakin ke tengah laut, kondisi ombak kian berbahaya.

"Kalau sudah di atas lima mil, ombak bisa dua sampai tiga meter. Kadang bisa sampai empat meter," ujarnya.

Akibat cuaca tersebut, Leman mengaku sudah enam hari tidak melaut. Terakhir kali ia turun ke laut sekitar tanggal 5 atau 6 Januari 2026. "Sudah hampir seminggu enggak ke laut. Pagi tadi sebenarnya mau berangkat, tapi lihat angin kencang, akhirnya batal," tuturnya.

Berubah Tiba-tiba di Mendahara Ilir

Nelayan di wilayah Kecamatan Mendahara Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, pun menuturkan senada. Gelombang laut yang kuat disertai angin kencang menjadi ancaman serius bagi keselamatan nelayan saat melaut.

Ibnu Hajar (55), nelayan, menutuirkan cuaca laut saat ini tidak menentu dan dapat berubah secara tiba-tiba. 

"Sekarang ombak sangat kuat. Kalau nelayan ingin melaut harus berhati-hati dan melengkapi peralatan seperti pelampung untuk berjaga-jaga saat keadaan darurat, karena cuaca di laut sedang tidak menentu," katanya kepada Tribun Jambi, Sabtu (17/1/2026).

Menurutnya, angin kencang dan gelombang laut mulai terasa meningkat sejak akhir 2005 hingga sekarang. 

"Kalau dibandingkan 10 sampai 20 tahun terakhir, angin dan gelombang mulai sangat kuat sejak tahun 2005 sampai 2026 saat ini. Sekarang cuaca di laut sulit diprediksi," ujarnya.

Cuaca ekstrem seperti hujan deras yang disertai angin kencang, kata dia, berpotensi menimbulkan bencana.

Gelombang laut yang tinggi dapat menyebabkan kapal nelayan karam, sementara hujan berkepanjangan berisiko memicu longsor.

Ibnu menceritakan pengalamannya saat masih bermukim di bantaran sungai. Pada kondisi cuaca ekstrem, rumah-rumah di tepian sungai kerap mengalami longsor hingga hanyut terbawa arus.

"Sebelumnya saya tinggal di tepian sungai. Kalau cuaca seperti sekarang, tidak jarang rumah di bantaran sungai longsor dan barang-barang hanyut," tuturnya.

Dia mengungkapkan tantangan terbesar nelayan adalah perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak saat berada di tengah laut.

"Kadang pas berangkat ke laut angin dan ombak tidak ada, tapi setelah sampai di tengah laut cuaca berubah mendung, angin kencang, dan gelombang menjadi kuat," jelasnya.

Beberapa kali, dia mengalami kejadian nyaris karam saat melaut. "Saya sendiri sudah sering hampir karam, bukan sekali dua kali," ungkapnya.

Karena risiko yang tinggi, Ibnu mengaku tidak jarang memilih untuk tidak melaut demi keselamatan. "Apalagi kalau cuaca seperti ini, terkadang saya lebih memilih tidak melaut karena risikonya tinggi, walaupun beberapa kali saya juga nekat," jelasnya.

Perahu 3 GT Menantang Gelombang Besar

PERAHU 3GT - Perahu yang biasa digunakan nelayan di Kampung Laut, Kelurahan
PERAHU 3GT - Perahu yang biasa digunakan nelayan di Kampung Laut, Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Senin (12/1/2026).

Dalam kesehariannya, nelayan Leman menggunakan perahu berukuran tiga GT yang biasanya diisi dua hingga empat orang awak. 

Mesin ukuran 3 GT, biasanya digunakan nelayan skala kecil atau tradisional untuk beroperasi di perairan pesisir, berbeda dengan kapal besar yang bisa mencapai puluhan atau ratusan GT dan beroperasi lebih jauh dari pantai.

Sistem melaut dilakukan harian. Berangkat pagi dan kembali sore hari. Tergantung kondisi cuaca.

Dia menuturkan, nelayan di Kampung Laut menggunakan beberapa jenis alat tangkap. Di antaranya alat tangkap udang ketak atau udang mantis, udang ronggeng, serta alat tangkap ikan seperti senangin dan bawal. Selain itu, nelayan juga menggunakan trawl (pukat) udang untuk menangkap udang kapur, udang kuning, dan udang gogo.

Pilih Menunggu

Kondisi itu membuat sebagian nelayan memilih menunggu cuaca membaik. Bagi mereka, keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama dibanding memaksakan diri melaut di tengah gelombang tinggi dan cuaca yang tak menentu.

Cuaca ekstrem yang melanda perairan pesisir Jambi dalam beberapa pekan terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh pengepul hasil laut. Salah satunya pada komoditas udang layan atau udang ronggeng.

Burhan, penampung udang ikan di kawasan pesisir, mengatakan cuaca ekstrem berpengaruh besar terhadap jumlah tangkapan nelayan. Namun, untuk harga, sejauh ini belum menunjukkan perubahan signifikan.

"Kalau dari tangkapan memang berpengaruh. Tapi kalau harga masih stagnan, belum naik dan belum turun," kata Burhan.

Dia menjelaskan, fluktuasi harga udang sebenarnya lebih dipengaruhi momen tertentu, salah satunya menjelang perayaan Imlek. Pada periode tersebut, permintaan biasanya meningkat karena udang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Tionghoa.

"Biasanya kalau ada kenaikan itu pas dekat-dekat Imlek. Karena konsumsi orang China. Kalau sekarang ya masih turun naik, belum ada perubahan ke arah lebih tinggi,” ujarnya.

Saat ini, harga udang di tingkat pengepul dinilai belum stabil. Burhan menyebut ada perbedaan harga yang ditawarkan pengepul kepada nelayan, tergantung kesepakatan dan strategi masing-masing.

"Di sini harganya enggak menentu. Ada yang ngambil di bawah Rp100 ribu per ekor, ada yang Rp100 ribu, tergantung trik-trik pengepul beli ke nelayan," katanya.

Faktor Keselamatan

Cuaca ekstrem juga membuat aktivitas melaut berkurang drastis. Banyak nelayan memilih tidak turun ke laut karena mempertimbangkan faktor keselamatan dan biaya operasional.

"Sekarang tangkapan berkurang karena sebagian nelayan enggak berlaut. Cuaca enggak kondusif, jadi mereka mikir-mikir dulu mau ke laut, karena biaya operasional juga,” jelas Burhan.

Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem ini sudah berlangsung sekitar setengah bulan hingga satu bulan terakhir. Fenomena tersebut, kata Burhan, hampir selalu terjadi setiap awal tahun. "Biasanya awal tahun memang cuaca pasti ekstrem. Dari tahun ke tahun begitu. Biasanya berlanjut sampai bulan tiga," ungkapnya.

Tak semua nelayan mampu bertahan di tengah cuaca buruk. Hanya nelayan dengan kapal besar dan kondisi armada yang kuat yang masih berani melaut.

"Kalau yang kapalnya kecil, mereka enggak bisa nempuh cuaca ekstrem. Yang masih ke laut itu nelayan dengan kapal yang lumayan besar dan kokoh,” katanya. 

Waspada hingga 31 Januari

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jambi memprediksi potensi banjir rob dan gelombang laut di wilayah pesisir Jambi hingga 31 Januari 2026.

BMKG mencatat gelombang ekuator Rossby terpantau cukup aktif dalam beberapa hari terakhir. Gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sekitar ekuator tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.

Kondisi itu turut memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Jambi.

Prakirawan Cuaca BMKG Jambi, Rendy HB, menyebut ketinggian gelombang laut di perairan pesisir Jambi diperkirakan berkisar antara 0,1-1,25 meter.

Potensi banjir rob diprediksi terjadi dalam dua periode.

"Potensi pertama terjadi pada 18 hingga 21 Januari, kemudian berpeluang kembali muncul pada 26 hingga 31 Januari 2026," ujar Rendy saat ditemui di kantor BMKG Jambi, Sabtu (17/1/2026).

Menurutnya, banjir rob diperkirakan melanda tujuh wilayah pesisir timur Provinsi Jambi. Wilayah tersebut meliputi Sabak Timur, Nipah Panjang, Sadu, Berbak, Tungkal Ilir atau Kuala Tungkal, serta Kecamatan Seberang Kota di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

BMKG mengimbau masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir timur Jambi untuk meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat diminta mengamankan barang-barang elektronik dan perabot rumah tangga yang dinilai penting.

TANGKAPAN LAUT - Hasil tangkapan laut dari nelayan di Kampung Laut, Kelurahan Tanjung Solok
TANGKAPAN LAUT - Hasil tangkapan laut dari nelayan di Kampung Laut, Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Senin (12/1/2026).

Selain itu, warga juga disarankan menyimpan surat-surat berharga dan barang penting di tempat yang lebih tinggi dan aman. "Jika air sudah masuk ke dalam rumah, segera matikan aliran listrik untuk menghindari risiko korsleting," kata Rendy.

Puncak pasang air laut, kata dia, umumnya terjadi pada pagi atau sore hari, terutama saat fase bulan baru, yang biasanya berlangsung pada Januari hingga Februari. 

BPBD Surati Kecamatan di Pesisir

Berdasarkan peringatan BMKG, ketinggian gelombang di pesisir timur Tanjabtim berkisar antara 3-4 meter.

Sekretaris BPBD Tanjung Jabung Timur, Indra Sakti Gunawan, mengatakan pihaknya telah menyurati seluruh kecamatan pesisir untuk meneruskan imbauan kepada nelayan agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak memaksakan diri melaut.

"Untuk wilayah pesisir timur, BMKG menyampaikan tinggi gelombang mencapai 3 sampai 4 meter. Kami sudah mengirimkan surat ke kecamatan untuk mengimbau nelayan agar berhati-hati,” ujar Indra, Senin (19/1/2026).

Cuaca laut yang ekstrem tersebut telah memicu kecelakaan laut. BPBD mencatat, dalam beberapa hari terakhir terjadi dua kejadian kapal tenggelam di perairan Kuala Timur akibat gelombang tinggi.

“Sudah ada dua kejadian kapal tenggelam. Satu orang meninggal dunia dan tiga orang berhasil diselamatkan,” katanya.

Kondisi laut saat ini masih berisiko, terutama bagi kapal nelayan berukuran kecil. Oleh karena itu, nelayan diminta menunda aktivitas melaut hingga kondisi cuaca kembali membaik.

BPBD Tanjung Jabung Timur juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan cuaca laut dan potensi dampaknya terhadap keselamatan masyarakat pesisir.

"Kami masih dalam tahap kesiapsiagaan. Perkembangan situasi akan terus kami pantau dan kami sampaikan," ujarnya. (Tribunjambi.com/Rifani Halim/Khusnul Khotimah/Syrillyus Krisdianto)

Gelombang Tinggi di Pesisir Jambi

  • Cuaca ekstrem di Jambi
  • Gelombang laut bisa mencapai 3-4 meter
  • Diprediksi hingga akhir Januari 2026
  • Nelayan tidak melaut
  • Nelayan kehilangan pendapatan

Baca juga: Terungkap Dalang Penyebab Tewasnya Remaja di Kerinci Jambi dalam Parit

Baca juga: Sosok Herman Deru, Gubernur Sumsel Larang Truk Batu Bara Kena Dampak ke Jambi dan Bengkulu

Baca juga: Kecelakaan Fatal Hari Ini di Jalan Nasional Muaro Jambi, Motor vs Truk Pengendara Meninggal

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.