TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Wabah virus nipah sedang terjadi di India.
Ditemukan 2 kasus, dengan salah satu pasien dalam kondisi kritis.
Baca juga: Ada Wabah Virus Nipah di India: Kenali Gejala, Risiko dan Pencegahannya
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang berpotensi menyebabkan gangguan serius pada manusia dan memiliki angka kematian yang tinggi
Seberapa bahaya penyakit ini?
Pakar kesehatan sekaligus Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, virus ini memiliki masa inkubasi antara 4 sampai 21 hari.
Gejala sering bermula dari keluhan seperti flu (“flu-like illness”) dengan demam, sakit kepala, nyeri otot dan lemah.
Baca juga: Virus Nipah Kembali Jadi Sorotan Global, Ini Alasan Dunia Perlu Kembali Waspada
Namun ada, masalah utama yang terjadi kemudian yakni gangguan paru dan gangguan di otak.
"Biasanya dimulai dari paru bermula dari batuk, sesak napas, lalu terjadi pneumonia yang kalau tidak tertangtani dapat timbul gagal napas" kata dia di Jakarta ditulis Selasa (27/1/2026).
Lalu, ada gangguan otak dapat berupa ensefalitis atau radang otak, yang pada sebagian kasus terjadi meningitis.
Biasanya pasien menunjukkan berbagai gejala neurologis seperti kebingungan, gangguan kesadaran, kejang dan bahkan koma.
Bahkan kalau sudah berat maka angka kematiannya dapat sampai 40 - 75 persen menurut data WHO atau organisasi kesehatan dunia.
"Sayangnya, hingga kini belum ada vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah ini, dan tidak ada juga obat spesifiknya," tutur dia.
Di dunia sudah ada sekityar 750 kasus sejak 1998-1999 yang bermula sari Malaysia, dan hingga kini letusan kasus sudah pernah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipna dan Singapura.
Virus Nipah bersifat zoonotik, awal menular dari binatang (seperti kerleawar, babi dan lainnya) ke manusia, walaupun akhirnya dapat menular antar manusia seperti di India sekarang ini.
Karena itu ujar Tjandra, Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan khusus.
Thailand sudah melakukan skrining di bandara Suvarnabhumi dan juga Don Mueang, khususnya untuk pendatang dari negara bagian West Bengal, dan memberlakukan kartu kewaspadaan kesehatan "Health Beware Card".
Begitu juga Nepal melakukan skrining di bandara internasionalnya, Tribhuvan International Airport.
Sementara Taiwan pada 16 Januari 2026, memberlakukan peringatan Level 2 "kuning" bagi warganya yang punya rencana bepergian ke daerah Kerala.
"Cukup banyak kunjungan warga India ke Indonesia maka nampaknya perlu pengamatan khusus, setidaknya untuk mereka yang datang dari daerah Kalkuta dan West Bengal," tegasnya.
Ia juga menyarankan, Indonesia baiknya juga waspada dan mengikuti secara ketat perkembangan penularan yang ada, baik di India maupun di berbagai negara tetangga.
Virus nipah di India, bermula dari dua orang perawat di kota Barasat , negara bagian West Bengal India.
Satu perawat yang pria sudah membaik, tetapi satu lagi yang wanita masih dalam kondisi kritis di ICCU.
Dari dua orang kasus awal itu maka penyakit lalu menyebar ke sedikitnya ke tiga orang.
Setidaknya, kini ada sekitar 100 orang kontak erat dari kasus-kasus itu yang kini dalam karantina dan pengawasan ketat otoritasi kesehatan India.