TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap virus Nipah, banyak orang masih memandang penyakit ini semata sebagai ancaman medis.
Padahal, di balik fatalitasnya yang tinggi, Nipah menyimpan persoalan jauh lebih kompleks dan senyap.
Virus Nipah sendiri adalah penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus.
Gejala biasanya muncul dalam 4 hingga 14 hari setelah terpapar, meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.
Pada kasus berat, virus ini dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut hingga ensefalitis (peradangan otak) yang fatal.
Baca juga: Ada Virus Nipah di India, Menkes: Indonesia Siap Antisipasi
Dokter, sekaligus epidemiolog Dicky Budiman, menegaskan bahwa Nipah tidak bisa dipahami hanya dari kacamata kesehatan klinis.
Penyakit ini justru menjadi cerminan krisis relasi antara manusia, hewan, dan lingkungan yang rapuh.
“Nipah itu bukan sekedar virus mematikan, tapi juga dia adalah penyakit ekologi sosial,"ungkap Dicky pada keterangannya, selasa (27/1/2026).
Menurut Dicky, Nipah merupakan contoh nyata penyakit zoonosis yang lahir dari interaksi kompleks berbagai faktor.
Mulai dari kerusakan ekosistem, deforestasi, urbanisasi yang tak terkendali, hingga perilaku manusia yang berisiko.
Pola konsumsi yang tidak sehat, keamanan pangan yang rendah, praktik peternakan dengan biosekuriti lemah, serta mobilitas manusia yang tinggi memperbesar peluang terjadinya penularan.
Semua itu diperparah oleh sistem kesehatan yang belum kuat, termasuk lemahnya deteksi dini dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan.
Dalam konteks ini, Nipah disebut sebagai sentinel disease, penyakit penanda adanya krisis One Health, yakni kondisi ketika kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan gagal berjalan harmonis.
Dicky mengingatkan, potensi Nipah bukan hanya milik negara lain. Indonesia memiliki faktor risiko yang serupa, termasuk keberadaan kelelawar buah sebagai reservoir alami virus.
Faktor sosial budaya juga berperan. Pada kelompok masyarakat tertentu, aktivitas masuk hutan, kontak dengan satwa liar, hingga konsumsi buah yang terkontaminasi kotoran hewan menjadi pintu masuk infeksi.
Yang membuat Nipah berbahaya, lanjut Dicky, justru karena ia sering muncul tanpa gejala khas dan tidak selalu dalam bentuk wabah besar.
“Hal krusial tentang Nipah yang jarang difahami publik, atau bahkan tenaga kesehatan lain adalah, bahwa Nipah itu tidak selalu harus wabah besar. Justru berbahaya karena sering senyap Nipah ini,"paparnya.
Infeksi Nipah kerap luput terdeteksi karena gejala awalnya tidak spesifik. Pada tahap awal, keluhannya bisa menyerupai flu, tifoid, atau bahkan demam berdarah.
Di sisi lain, sistem surveilans di banyak negara, termasuk Indonesia, belum sensitif terhadap virus ensefalitis baru.
Akibatnya, diagnosis sering terlambat dan pasien sudah berada dalam kondisi berat saat teridentifikasi.
Risiko terbesar bukan ledakan kasus besar, melainkan outbreak kecil yang mematikan.
Penularan antar manusia memang tidak masif, tetapi sangat berbahaya karena terjadi melalui kontak dekat dengan cairan tubuh.
Rumah sakit bahkan kerap menjadi titik penguat penularan ketika pasien indeks tidak dikenali sejak awal.
Tingginya angka kematian Nipah bukan semata karena keganasan virus, melainkan karena dunia medis belum memiliki alat spesifik untuk melawannya.
Tidak tersedia vaksin maupun antivirus khusus. Virus ini menyerang otak, menyebabkan ensefalitis yang sulit ditangani.
Bahkan pada pasien yang sembuh, risiko gangguan neurologis jangka panjang hingga kekambuhan masih membayangi.
Lebih lanjut, menjawab kekhawatiran publik soal kemungkinan munculnya penyakit serupa, Dicky menyampaikan jawaban tegas berdasarkan kajian global health security.
“Nah sebetulnya ancaman terbesar ke depan bukan nipah yang lama, tapi yang disebut dengan nipah like diseases,"pungkasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)