TRIBUN-BALI.COM - Pemahaman penggunaan sirine banjir untuk mengurangi risiko korban banjir masih banyak belum dipahami oleh masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali pun menegaskan pemasangan sirine banjir di Denpasar bukan untuk mencegah banjir melainkan mengurangi risiko korban.
Hal tersebut diungkapkan oleh, Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, Selasa (27/1).
“Sirine ini tidak ada hubungannya mencegah banjir tapi ini mengurangi risiko korban, kalau urusan mengurangi banjirnya itu masalah lain seperti masalah drainase, masalah tata ruang, sampah, tutupan hijau, dan lain-lain,” jelasnya.
Gede Teja menjelaskan, sirine yang dipasang sejak awal Januari ini diprioritaskan di bantaran sungai Kota Denpasar yang sempat terdampak banjir besar hingga menelan korban jiwa pada September 2025 lalu.
Dengan adanya peringatan dini banjir maka masyarakat dapat lebih cepat mengevakuasi diri dan barang berharga sehingga mengurangi risiko dari bencana.
Baca juga: LOMBA Ogoh-ogoh di Badung, Gunakan Undagi Luar Nilai Pasti Dikurangi, Harus Gunakan Undagi Lokal
Baca juga: PAKET Setengah Kilo Ganja Dipesan via Medsos, BNNP Bali Bongkar Sindikat Sumatra, 3 Pemuda Diamankan
Cara kerjanya sendiri, sirine pertama akan berbunyi ketika air naik 50 cm atau sekitar badan pemancing yang kerap duduk di bawah sungai, narasi peringatannya meminta masyarakat waspada dan keluar dari area tersebut.
Sirine kedua akan berbunyi ketika air sungai menyentuh detektor kedua setinggi 160 cm, narasi peringatan akan meminta masyarakat siaga evakuasi mandiri.
Dan sirine ketiga akan berbunyi berulang kali, ini menandakan air sudah meluap melampaui bantaran sungai setinggi 266 cm yang artinya masyarakat harus segera menyelamatkan diri dan barang berharga.
“Saat awal pemasangannya, sejumlah masyarakat beropini bahwa alarm tersebut membuat panik, namun BPBD Bali menegaskan saat ini mereka sudah menjalankan proses sosialisasi ke masyarakat sekitar sirine banjir,” terangnya.
Belum lama ini, BPBD Bali juga mengumpulkan perangkat desa di sekitar enam titik sirine termasuk pedagang di Pasar Kumbasari yang dilintasi aliran Tukad Badung.
Ia ingin memastikan kegunaan sirine banjir ini dipahami oleh masyarakat, sehingga selain penduduk sekitar secara bertahap BPBD Bali akan mengumumkan kehadiran inovasi ini ke seluruh masyarakat Bali.
“Ini adalah sirine pertama yang kita punya di Bali, saat kejadian banjir di September lalu tidak ada satupun sirine banjir sehingga muncul kebutuhan-kebutuhan itu, kemudian kita berhasil menyiapkan di enam titik tapi belum sosialisasi dia sudah bunyi karena air naik akhirnya masyarakat panik,” ujarnya.
“Tapi itu hal positif, bahwa masyarakat merespons informasi dan sigap, prosedur evakuasinya masih kurang tepat akan kami perbaiki melalui sosialisasi tapi kami minta semuanya mendukung, bila perlu nanti kita tambah sirinenya,” sambungnya. (sar)
Dalam rangka mengurangi risiko banjir, BPBD Bali sendiri memanfaatkan bantuan PLN sebesar Rp200 juta untuk membuat inovasi sirine banjir mulai dari penyiapan detektor, sirine, hingga sosialisasi.
Jika dihitung kebutuhannya, untuk 391 sungai di Bali setidaknya setiap kabupaten/kota butuh 20 unit sirine, sehingga BPBD Bali mendorong pemerintah kabupaten/kota dan dunia usaha bahu membahu menghadirkan alat ini.
“Di Jembrana saja butuh sekitar 18, Tabanan juga perlu, Karangasem juga itu di luapan Sungai Betel juga kondisinya mirip dengan Tukad Badung Denpasar, Gianyar juga, jadi sekarang kerentanan bisa meningkat ya belum lagi penambahan jumlah penduduk di bantaran sungai,” pungkasnya. (sar)