Kolaborasi Calon Rektor USK untuk Peradaban Global
January 28, 2026 12:35 AM

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, ketua Komisi B Dewan Profesor USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

UNIVERSITAS Syiah Kuala (USK) bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah simpul harapan, mercusuar keilmuan, dan penjaga integritas berbasis Syariah Islam di Serambi Mekkah.

Sejarahnya yang bermula dari Fakultas Ekonomi pada 1959, sebelum akhirnya resmi menjadi universitas pada 1961, telah membuktikan ketangguhannya sebagai pelopor pembangunan sumber daya manusia Aceh. Kontribusi sivitas akademikanya untuk bangsa dan dunia merupakan bukti nyata dari amanah besar yang diembannya.

Kini, di tahun 2026, USK berada di ambang momen penting: pemilihan rektor untuk periode 2026-2030. Dari enam bakal calon, telah tersaring tiga nama terbaik, Guru Besar dan dosen berprestasi dengan rekam jejak kepemimpinan yang tak diragukan. Mereka adalah aset terbaik USK.

Proses demokrasi yang sehat telah memilih tiga calon terkuat. Namun, justru di sinilah peluang emas terbuka. Alih-alih memandang proses ini sebagai kompetisi yang berakhir dengan satu pemenang dan dua “pecundang,” mari kita lihat ini sebagai seleksi alamiah yang menghasilkan dream team kepemimpinan USK.

Ketiga calon, dengan latar belakang keilmuan, pengalaman manajerial, dan jaringan yang berbeda-beda, sebenarnya adalah potongan puzzle yang saling melengkapi. Visi untuk memajukan USK tidak mungkin dibebankan hanya pada satu pundak. Era sekarang membutuhkan kepemimpinan kolegial, kolaboratif, dan berbasis tim.

Mengapa Kolaborasi adalah Sebuah Keniscayaan

Pertama, kompleksitas tantangan pendidikan tinggi. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), tantangan universitas di era 2026-2030 meliputi peningkatan daya saing global (QS/WUR Ranking), akreditasi internasional, kemandirian finansial, link and match dengan industri, digitalisasi kampus, serta penguatan penelitian dan inovasi berdampak masyarakat.

Baca juga: Membangun Aceh: Menyatukan Kearifan Lokal dan Kemajuan Ekonomi

 Di level nasional, USK berkompetisi dengan ratusan PTN/PTS. Di level global, tekanan untuk publikasi internasional dan kolaborasi riset transnasional semakin kuat. Mustahil satu orang menguasai semua bidang ini secara mendalam.

Kedua, model kepemimpinan universitas kelas dunia bergeser. Banyak universitas terkemuka mengadopsi model kepemimpinan bersama (shared leadership). Rektor berperan sebagai primus inter pares (yang pertama di antara yang setara), didukung oleh wakil rektor yang benar-benar kuat dan memiliki mandat penuh.

Wakil rektor bukan sekadar “pembantu,” melainkan pemimpin di bidangnya yang memiliki visi sejalan dengan rektor. Proses seleksi ketat yang telah memunculkan tiga calon terbaik ini sebenarnya sudah menyediakan bahan baku untuk membentuk tim kepemimpinan yang solid.

Ketiga, meminimalisir risiko “lost generation” kepemimpinan. Dalam banyak kasus, figur kepemimpinan kuat yang kalah dalam pemilihan cenderung memilih untuk menarik diri, fokus pada penelitian, atau bahkan beralih ke institusi lain. Ini merupakan kerugian besar bagi organisasi.

USK berisiko kehilangan kapasitas, jaringan, dan gagasan segar dari dua calon terbaiknya yang tidak terpilih sebagai rektor. Padahal, mereka telah “teruji dalam kepemimpinan di lembaga pendidikan” seperti disebutkan dalam narasi awal. Membiarkan kapasitas mereka tidak termanfaatkan dalam struktur kepemimpinan adalah pemborosan sumber daya intelektual yang tak termaafkan.

Blueprint Kolaborasi: Dari Kompetisi Menuju Sinergi

Oleh karena itu, paradigma perlu diubah. Proses pemilihan tidak berakhir dengan pengumuman pemenang, tetapi dengan perekayasaan kolaborasi strategis. Berikut adalah usulan konkret membangun sinergi tiga calon rektor terpilih:

Rektor sebagai Integrator dan Visioner Utama. Calon yang meraih suara terbanyak tentu sah menjadi Rektor USK 2026-2030. Dia adalah “kapten tim” yang bertugas menyatukan visi, membangun komunikasi strategis, dan menjadi wajah USK ke luar. Tugas pertamanya bukan membentuk kabinet dari nol, tetapi merangkul dua calon lainnya untuk menduduki posisi strategis.

Dua Calon Lain sebagai Wakil Rektor Bidang Kunci. Berdasarkan latar belakang dan keahlian masing-masing (yang bisa diasumsikan mencakup bidang Akademik & Riset; Keuangan, Aset, dan Bisnis; serta Kerja Sama dan Inovasi), kedua calon lainnya harus diangkat sebagai Wakil Rektor.

Penugasannya harus berdasarkan kesepakatan bersama (business agreement) yang jelas tentang target kinerja, ruang gerak, dan dukungan sumber daya. Ini bukan “hadiah pelipur lara,” tetapi pengoptimalan aset terbaik. Misalnya, calon dengan jaringan internasional kuat dapat memimpin Kerja Sama dan Inovasi, sementara calon dengan rekam jejak pengelolaan fakultas besar dapat memimpin bidang Akademik.

Pembentukan Dewan Strategis USK (Board of Strategic Advisors). Jika skenario Wakil Rektor tidak memungkinkan karena berbagai pertimbangan, alternatif brilian adalah membentuk Dewan Strategis yang diketuai oleh Rektor dan beranggotakan dua calon lainnya, ditambah beberapa tokoh eksternal (industri, alumni internasional).

Dewan ini bertugas memberi masukan kebijakan, mengawal rencana strategis, dan membuka jaringan. Posisi ini setara, prestisius, dan memiliki pengaruh nyata.

Skema Job-Sharing dan Portfolio-Based Leadership. Kepemimpinan tidak harus terkungkung dalam struktur formal. Tiga pimpinan ini dapat membagi portofolio proyek strategis USK berdasarkan keahlian.

Misalnya, satu memimpin proyek World Class University dan akreditasi internasional, satu memimpin pengembangan endowment dan kewirausahaan kampus, dan satu lagi memimpin program pengabdian masyarakat berbasis Syariah Islam dan kebencanaan. Mereka bertanggung jawab langsung kepada rektor dan bekerja dalam tim proyek.

Manfaat dan Dampak yang Akan Diperoleh

Skema kolaborasi ini akan menghasilkan dampak multiplier yang luar biasa:

Stabilitas dan Kontinuitas: Transisi kepemimpinan berjalan mulus karena “tim inti” sudah terbentuk dan saling memahami.

Pengambilan Keputusan yang Lebih Berkualitas: Kebijakan dihasilkan dari diskusi antar pemikir terbaik, mengurangi bias dan celah kesalahan.

Akselerasi Pencapaian Visi: Dengan pembagian tugas berdasarkan keahlian, program-program strategis dapat dijalankan secara paralel dan lebih cepat.

Meningkatkan Reputasi dan Daya Tarik: Citra USK sebagai universitas yang matang, inklusif, dan mengedepankan kebersamaan akan menarik minat calon dosen, peneliti, dan mahasiswa terbaik.

Mewujudkan Nilai Syariah Islam secara Nyata: Nilai musyawarah, keadilan, memanfaatkan potongan terbaik (al-a’lam), dan menjaga ukhuwah Islamiyah serta persatuan (shaff) dapat diimplementasikan dalam tataran manajemen modern. Ini menjadi contoh konkret bagi masyarakat Aceh.

Memanen Buah Demokrasi yang Beradab

Proses demokrasi di USK telah berjalan dengan baik, menghasilkan tiga calon terbaik. Sekarang adalah waktunya untuk memanen buah dari proses tersebut dengan cara yang cerdas dan berkelanjutan. Memilih satu rektor sambil “menganggurkan” dua kapasitas kepemimpinan terbaik lainnya adalah kemewahan yang tidak dapat ditolerir dalam kompetisi pendidikan tinggi yang ketat saat ini.

Masyarakat Aceh menaruh harapan besar pada USK. Harapan itu akan terjawab jika kepemimpinan USK ke depan mampu menyatukan potensi, bukan memecah belahnya. Kepada ketiga calon terhormat, sejarah memanggil Anda bukan hanya untuk menjadi pemenang dalam pemilihan, tetapi untuk menjadi pahlawan dalam kolaborasi.

Kepada Majelis Mawi Amanat (MWA), Senat USK dan seluruh sivitas akademika, mari jadikan momen ini sebagai lompatan budaya organisasi: dari budaya kompetisi semata menuju budaya sinergi unggulan.

Dengan menyatukan tiga kekuatan terbaik ini, USK bukan hanya siap memimpin Aceh, tetapi juga berkontribusi lebih besar lagi untuk Indonesia dan dunia, dengan landasan Syariah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Bersatu memimpin, bersama mencerahkan untuk Aceh dan Peradaban dunia.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.