TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Dalam meminimalisir adanya gagal panen di Kabupaten Tabanan yang dikenal dengan lumbung padi, Perum BULOG meminta para petani untuk melek asuransi pertanian. Apalagi saat ini cuacara ekstrim yang terjadi sangat berdampak pada hasil pertanian di Tabanan.
Hal itu pun terungkap pada kegiaatan sosialisasi asuransi pertanian bagi petani di Kabupaten Tabanan, Bali yang diinisiasi BULOG pada Rabu 28 Januari 2026. Kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dilaksanakan merupakan program BULOG Peduli Petani.
"Kegiatan ini menjadi upaya konkret untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran petani terhadap pentingnya perlindungan risiko usaha tani, khususnya di tengah ancaman perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta potensi bencana alam," ujar Direktur SDM dan Transformasi Perum BULOG, Sudarsono Hardjosoekarto.
Baca juga: Puluhan Penghuni Kos di Jembrana Tak Lapor Diri, Mengaku Baru Tingga 7 Hari hingga 3 Bulan
Pihaknya menyebutkan kegiatan asuransi juga sebagai tindaklanjut Undang-Undang Pangan nomor 18 Tahun 2012. Diakui ada pada undang-undang itu ada pasal yang menyabutkan terkait dengan asuransi untuk para petani karena dampak cuaca atau iklim
Diakui pada sosialisasi ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai manfaat asuransi pertanian sebagai perlindungan finansial, mekanisme pendaftaran, proses klaim, hingga pentingnya sikap antisipatif dalam menghadapi berbagai risiko usaha tani.
Baca juga: D’Tik Festival 2026 Digelar Serangkaian HUT ke-238 Denpasar, Ada Lomba Buat Video AI
Dengan pemahaman tersebut, petani diharapkan memiliki jaring pengaman yang memadai agar kegiatan pertanian tetap berjalan secara berkelanjutan meski dihadapkan pada kondisi yang tidak menentu.
"Jadi petani akan diberikan pemahaman asuransi konvensional dan parametrik. Dalam hal ini harus ada data suhu, curah hujan yang akan menjadi patokan bersama antara petani dan penyedia asuransi dalam hal ini Askrindo. Bahka. Klaim asuransi sangat mudah dengan menggunakan sistem parametrik membuat klaim bisa cair otomatis berdasarkan indikator tertentu, seperti curah hujan di bawah ambang batas atau hasil panen yang turun di bawah standar," bebernya.
Dalam asuransi ini masing-masing kabupaten akan diberikan asuransi Rp 50 juta. Hanya saja saat ini baru tabanan yang digunakan percontohan dalam penerapan ansuransi Askrindo.
Hardjosoekarto menilai bahwa asuransi pertanian merupakan instrumen strategis dalam membangun ketahanan pangan dari hulu.
"Pada intinya melalui Program TJSL BULOG Peduli Petani, kami ingin mendorong petani agar lebih siap dan terlindungi. Risiko usaha tani harus dikelola secara profesional dan terstruktur, salah satunya melalui pemahaman serta pemanfaatan asuransi pertanian sebagai jaring pengaman utama," ujarnya.
Diakui kegiatan ini sejalan dengan pilar pembangunan sosial dalam Program TJSL BULOG dan mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara BULOG, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.
"Kami mendorong petani yang lebih tangguh, teredukasi, dan berdaya saing, sekaligus berkontribusi nyata dalam menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan," imbuhnya
Dipilihnya Tabanan karena Kabupaten Tabanan dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Provinsi Bali dengan luas lahan pertanian sekitar 19.000 hingga 23.000 hektare yang ditopang oleh sistem subak. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian, sehingga upaya mitigasi risiko yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak guna menjaga keberlangsungan usaha tani dan kesejahteraan petani.
Sosialisasi sendiri dihadiri Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Subagia dan 35 peserta lainnya yang terdiri dari petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan pemangku kepentingan sektor pertanian di Tabanan. (*)