Ekonom UMS Bongkar Kesalahan Fatal Gen Z Saat Mulai Investasi
Universitas Muhammadiyah Suraka January 28, 2026 03:59 PM
SURAKARTA - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, generasi muda didorong untuk melek finansial dan memulai investasi sejak dini. Namun, Pakar Ekonomi (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., mengingatkan pentingnya strategi diversifikasi dan pemahaman risiko sangat penting dalam investasi untuk meminimalkan kerugian yang signifikan.
Dalam pandangannya, anak muda saat ini memiliki akses informasi yang lebih cepat dan insting yang cukup tajam dalam melihat peluang pasar. Kendati demikian, Anton menekankan satu prinsip dasar yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu diversifikasi portofolio atau tidak menempatkan seluruh modal dalam satu instrumen yang sama.
"Rumusnya sebenarnya cuma satu, don't put your eggs in one basket. Jangan taruh telur pada satu keranjang yang sama. Portofolionya harus disebar, tujuannya agar ketika terjadi risiko di satu instrumen, aset di tempat lain masih aman dan masih memberikan keuntungan," ungkapnya memberikan analogi, Minggu (25/1)
Ia menyarankan agar anak muda memisahkan tujuan keuangannya. Untuk tabungan masa depan, disarankan memilih instrumen konservatif seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi. Sementara untuk yang ingin mencari pertumbuhan aset lebih cepat, bisa mengalokasikan sebagian kecil dana 'uang jajan' untuk instrumen high risk seperti saham atau kripto, dengan catatan harus siap dengan risikonya.
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si.
zoom-in-whitePerbesar
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si.
Ekonom UMS tersebut juga mengapresiasi fenomena anak muda yang mulai belajar trading dan investasi melalui aplikasi yang legal dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurutnya, pengalaman rugi di awal adalah bagian dari proses belajar mental investor yang tangguh, asalkan tidak menggunakan uang kebutuhan pokok.
"Investasi itu harus siap dengan kerugian yang mungkin tumbuh. Kalau uang investasi rugi kok sambat (mengeluh), berarti belum siap. Anak muda sekarang pintar, mereka tahu porsi mana yang buat tabungan, mana yang buat main-main cari tambahan uang jajan," tambahnya.
Menutup sarannya, ia menekankan pentingnya kemampuan analisis fundamental dan teknikal sebelum terjun ke pasar modal. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya sikap rasional dan untuk tetap waspada terhadap aplikasi investasi bodong yang menawarkan keuntungan tidak masuk akal dalam waktu singkat.
"Sebaiknya pilih yang sudah terdaftar di OJK dan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Situasi ekonomi makin uncertain (tidak pasti), jadi akan lebih baik kalau anak muda punya portofolio investasi yang lengkap selain pekerjaan utama mereka," tutupnya. (Al/Humas)
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.