TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Lahan persawahan di Kelurahan Rorotan dan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, terendam banjir akibat curah hujan tinggi, membuat petani terancam merugi karena gagal panen.
Banjir merendam area persawahan dengan ketinggian air mencapai sekitar 60 sentimeter sejak beberapa hari terakhir.
Genangan air membuat petani kesulitan memanen padi, bahkan harus menerjang banjir dan menggunakan terpal untuk mengangkut hasil panen.
Menurut para petani, banjir terjadi akibat hujan deras yang turun terus-menerus serta saluran irigasi yang sempit sehingga air tidak mengalir dengan lancar.
Kondisi tersebut membuat air bertahan lama di area persawahan.
"Sulit sekali panen kalau seperti ini. Padinya rusak karena terendam air," kata Narsih, salah satu petani di Rorotan, Rabu (28/1/2026).
Selain merusak tanaman padi, banjir juga berdampak pada kualitas gabah yang dihasilkan.
Padi yang terendam air menjadi busuk dan tidak layak jual dengan harga normal.
Petani lainnya, Sahali, menyebut lahan sawah miliknya yang luasnya hampir dua hektare sudah terendam banjir selama berbulan-bulan.
"Ini sudah gagal panen. Padinya hancur kena air, harga jualnya juga turun jauh," ujarnya.
Sahali menuturkan, harga gabah yang biasanya bisa dijual hingga sekitar Rp 600 ribu per kuintal kini turun drastis menjadi sekitar Rp 400 ribu per kuintal akibat kualitas yang menurun.
Para petani berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan mengatasi persoalan banjir, terutama dengan membenahi saluran irigasi yang dinilai tidak lagi mampu menampung debit air saat hujan deras.
Sebagai informasi, kawasan persawahan di Kecamatan Cilincing merupakan salah satu wilayah pertanian terluas di Jakarta dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak petani setempat.