Ekspor Karet Sumut 2025 Turun Hampir 2 Persen, Harga Naik Tak Cukup Dongkrak Volume
January 28, 2026 06:12 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Kinerja ekspor karet Sumatera Utara sepanjang 2025 masih tertahan. Di tengah harga yang cenderung menguat, volume ekspor justru menyusut akibat lesunya permintaan global dan gangguan produksi.

Data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) Sumut mencatat, total ekspor karet asal Sumut pada 2025 mencapai 249.379 ton, turun 4.997 ton atau 1,97 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 254.376 ton.

Capaian ini masih jauh dari kondisi normal ekspor karet Sumut yang berada di kisaran 500–600 ribu ton per tahun.

Menariknya, penurunan volume terjadi saat harga karet SICOM TSR20 justru meningkat. Sepanjang 2025, rata-rata harga mencapai 177,11 sen AS per kilogram, lebih tinggi dibandingkan 174,34 sen AS per kilogram pada 2024.

Kenaikan harga tersebut dinilai belum cukup kuat mendorong ekspor karena pasar global masih melemah.

“Permintaan dari sektor otomotif dan manufaktur di sejumlah negara tujuan belum pulih. Ini berdampak langsung pada serapan karet alam,” ujar Edy Irwansyah, Sekretaris Eksekutif GAPKINDO Sumut, Selasa (28/1/2026).

Sepanjang 2025, karet Sumut diekspor ke 39 negara. Lima pasar utama masih didominasi Jepang (31,71 persen), Amerika Serikat (18,04 persen), Brasil (10,11 persen), Tiongkok (8,60 persen), dan India (5,80 persen). Ketergantungan pada pasar besar ini membuat ekspor Sumut rentan terhadap fluktuasi ekonomi global.

Kawasan Eropa tetap menjadi pasar strategis dengan 19 negara tujuan, dipimpin Spanyol (19,80 persen), Italia (18,42 persen), dan Jerman (12,30 persen). Namun, pelaku usaha masih dihadapkan pada penyesuaian kebijakan dan standar pasar yang kian ketat.

Selain permintaan, faktor cuaca ekstrem di negara-negara produsen karet dunia seperti curah hujan tinggi, banjir, dan badai lokal turut menghambat produksi dan pengolahan.

Penyesuaian stok di negara tujuan, tekanan biaya produksi, serta dinamika kebijakan perdagangan global juga ikut menekan kinerja ekspor.

Di sisi lain, kenaikan harga sepanjang 2025 mencerminkan pengetatan pasokan global yang belum sepenuhnya pulih.

Untuk pasar Eropa, penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan ketertelusuran dan jaminan bebas deforestasi baru akan berlaku 30 Desember 2026 bagi perusahaan besar dan menengah, serta 30 Juni 2027 untuk usaha mikro dan kecil.

Penundaan ini memberi waktu tambahan bagi eksportir untuk menyiapkan kepatuhan.

Memasuki 2026, produksi karet alam diperkirakan masih stagnan akibat penuaan tanaman, keterbatasan peremajaan kebun, dampak perubahan iklim, serta fluktuasi minat petani karena biaya input dan ketidakpastian harga.

“Penguatan produktivitas kebun, percepatan peremajaan, peningkatan mutu dan ketertelusuran bahan baku, serta diversifikasi pasar ekspor menjadi kunci agar karet Sumut tetap berdaya saing,” kata Edy.

(cr26/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.