TRIBUNJATIM.COM - Andi (38) nekat menghabisi nyawa rekan kerjanya Wulandari (50) yang sering menggoda.
Padahal Andi yang merupakan warga asal Pemulutan Selatan, Ogan Ilir, Sumatera Selatan itu sudah mempunyai istri dan anak.
Andi dan Wulandari adalah pegawai di SPPG.
Andi bekerja sebagai OB.
Sedangkan Wulandari adalah pegawai di SPPG tersebut.
Baca juga: Buntut Dugaan Keracunan, 3 SPPG di Tulungagung Dihentikan Sementara
Nyawa Wulandari dihabisi di Desa Gaung Asam, Kecamatan Belida, Kabupaten Muara Enim, Kamis (22/1/2026).
Korban bernama Wulandari (50) warga Plaju, Palembang yang juga pekerja di SPPG sama dengan tersangka ditemukan warga di semak-semak bekas kebun nanas dengan kondisi ada bekas jeratan tali di leher dan kakinya terdapat bekas luka.
Andi mengaku peristiwa itu terjadi pada hari Kamis 22 Januari 2026 lalu, berawal ketika ia hendak pergi ke Desa Gaung Asam, Muara Enim, untuk mengembalikan terpal yang ia pinjam.
Sehari sebelumnya, korban mengajak tersangka pergi jalan-jalan, namun tersangka menolak karena akan berangkat ke Gaung Asam di hari Kamis.
"Saya mau berangkat ke dusun balikan terpal ke tempat mamang saya, mau naik travel," ujar Andi.
Saat An hendak berangkat dari SPPG, korban memaksa ikut dengannya sehingga Andi memutuskan untuk membonceng korban menggunakan sepeda motor korban.
"Karena dia maksa mau ikut, yasudah pakai motor dia saja," katanya.
Di perjalanan, An mengaku merasa terganggu karena korban terus memegang dan menggerayanginya di atas sepeda motor.
Karena terlanjur kesal, ia menghentikan laju kendaraan sepeda motor dan menjegal kaki korban hingga terjatuh.
Tak sampai disitu ia juga menekan dada korban, karena korban melakukan perlawanan ia menjerat leher menggunakan jilbab yang dikenakan korban.
"Kesal pak dia nak peluk saya terus, saya sudah punya istri. Sempat melawan (korban) makanya saya lilit pakai jilbab. Tahu pak kalau dia mati karena ada darah dan lidahnya menjulur keluar," tuturnya.
Kemudian korban ia tinggalkan di semak-semak di dekat bekas kebun nanas, lalu membawa sepeda motor korban hingga ke wilayah Lembak.
Motor korban ia tinggalkan disana.
"Motor korban saya tinggalkan di Lembak kuncinya juga saya buang, beberapa ratus meter berjalan saya lanjut pulang ke Palembang naik travel," tutupnya.
Adapun motif pembunuhan yang dilakukan oleh tersangka lantaran kesal karena mengaku sering diganggu oleh korban, sedangkan tersangka sudah memiliki istri dan anak.
"Kalau dari pengakuan tersangka dia kesal karena sering diganggu korban, padahal tersangka sudah punya istri dan anak," kata Kapolsek Ilir Barat I Kompol Fauzi Saleh.
Merasa tak tenang usai membunuh korban, tersangka kemudian menyerahkan diri ke kantor Polsek Ilir Barat I, Palembang pada Selasa, 27 Januari 2026 sekira pukul 20.00 WIB.
Kapolsek Ilir Barat I Kompol Fauzi Saleh mengatakan, tersangka sehari-hari bekerja sebagai OB di salah satu SPPG di Palembang lalu menyerahkan diri ke Polsek.
"Pelaku mendatangi rumah salah satu anggota kami lalu dibawa ke Polsek dan mengakui kalau dia yang membunuh perempuan tersebut," ujar Fauzi, Rabu (28/1/2026).
Berdasarkan hasil identifikasi dan keterangan tersangka, korban bernama Wulandari (50) seorang pekerja di SPPG yang sama dengan tersangka, korban beralamat di Plaju.
"Pelaku dan korban adalah rekan kerja sama-sama di SPPG, pelaku sebagai OB dan korban tukang cuci ompreng," katanya.
Motif pembunuhan yang dilakukan oleh tersangka lantaran kesal karena mengaku sering diganggu oleh korban, sedangkan tersangka sudah memiliki istri dan anak.
"Kalau dari pengakuan tersangka dia kesal karena sering diganggu korban, padahal tersangka sudah punya istri dan anak," katanya.
Setelah pelaku menyerahkan diri, pihaknya menyerahkan pelaku ke Polres Muara Enim untuk diproses lebih lanjut di sana.
"Diserahkan ke Satreskrim Polres Muara Enim untuk diproses di sana," katanya.
Sementara An, saat dijumpai mengaku kalau merasa tidak tenang setelah menghabisi korban.
Akhirnya ia memberanikan diri datang ke rumah seorang anggota polisi dan mengakui perbuatannya.
"Memang sudah dari kejadian mau nyerahkan diri pak, tapi masih belum berani. Tidak tenang rasanya. Sudah tahu risikonya pak, saya tanggung sendiri," ujar Andi.