TRIBUNSUMSEL.COM -- Isu reshuffle kabinet merah putih Prabowo Gibran berhembus sejak beberapa hari belakangan.
Adapun 7 nama menteri digadang terkena perombakan dari kabinet yang baru berjalan lebih 1 tahun.
Salah satu menteri yang diisukan bakal diganti yakni Meutya Hafid.
Diketahui, Meutya Hafid menjabat Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia.
Ia memiliki darah Soppeng dari almarhum ayahnya Anwar Hafid.
Meutya Hafid merupakan mantan jurnalis Metro TV.
Pada 18 Februari 2005 atau 20 tahun lalu, Meutya Hafid dan rekannya juru kamera Budiyanto diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di Irak.
Kontak terakhir Metro TV dengan Meutya Hafid adalah pada 15 Februari, tiga hari sebelumnya.
Mereka akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005 atau disandera selama 168 jam (7 hari dan 7 malam).
Sebelum ke Irak, Meutya Hafid juga pernah meliput tragedi tsunami di Aceh.
Pada tanggal 28 September 2007, Meutya me-launching buku yang ia tulis sendiri, yaitu 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun turut menyumbangkan tulisan untuk bagian pengantar dari buku ini.
Meutya Hafid pernah bekerja sebagai jurnalis di Metro TV.
Ia juga sempat menjadi pembawa acara di beberapa acara televisi.
Adapun Meutya Hafid menjadi seorang jurnalis dari 2001 hingga 2008.
Meutya sebelumnya menjadi anggota DPR RI pada 2010 menggantikan Burhanuddin Napitupulu yang meninggal dunia.
Dirinya juga sempat menjabat sebagai Ketua Komisi I DPR RI periode 2019-2024.