Financial Literacy dan Financial Behavior di Tengah Tren Digital Payment
January 28, 2026 10:29 PM

Penulis: Nursyiamah, SE
Mahasiswa Magister Manajemen Pasca Sarjana Universitas Lancang Kuning

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Perkembangan teknologi keuangan di Indonesia terlihat jelas dari semakin masifnya penggunaan e-wallet dan layanan paylater dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Inovasi ini memberikan kemudahan karena transaksi dapat dilakukan secara cepat, praktis, dan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat tanpa proses yang berbelit. Tidak mengherankan jika instrumen keuangan digital telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan konsumsi.

Meskipun demikian, kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi yang perlu diwaspadai. Transaksi non-tunai sering kali mengaburkan persepsi pengeluaran karena tidak melibatkan uang fisik, sehingga mendorong individu lebih mudah melakukan pembelian impulsif. Selain itu, skema paylater dengan konsep “tunda bayar” dapat membuat pengguna kurang memperhitungkan kemampuan finansialnya, yang pada akhirnya meningkatkan risiko akumulasi utang jangka pendek. Sehingga perkembangan teknologi  keuangan ini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kemudahan transaksi digital meningkatkan inklusi keuangan dan efisiensi pengelolaan uang. Namun di sisi lain, kemudahan ini juga mendorong perilaku konsumtif impulsif karena transaksi terasa “tidak kasat mata”.

Kondisi ini menegaskan bahwa literasi keuangan (financial literacy) menjadi aspek krusial di tengah pesatnya digitalisasi. Pemahaman yang memadai mengenai produk dan layanan keuangan digital memungkinkan masyarakat menyadari adanya biaya tambahan, bunga, serta dampak jangka panjang dari keputusan finansial yang diambil. Tanpa bekal literasi keuangan (financial literacy)  yang cukup, penggunaan e-wallet dan paylater cenderung didorong oleh faktor kemudahan dan tren, bukan oleh pertimbangan keuangan yang matang.

Di samping itu, perilaku keuangan (financial behavior) turut menentukan apakah teknologi keuangan membawa manfaat atau justru masalah. Perilaku keuangan (financial behavior)  yang sehat tercermin dari kemampuan mengelola anggaran, mengendalikan dorongan konsumtif, serta memprioritaskan kebutuhan dibandingkan keinginan. Oleh karena itu, penguatan literasi keuangan (financial literacy)  perlu dibarengi dengan pembentukan perilaku keuangan (financial behavior)  yang bertanggung jawab agar digitalisasi keuangan benar-benar berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan sebaliknya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.