Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua terus mendukung program ketahanan pangan nasional yang diwujudkan melalui kegiatan penyemaian 50 kilogram padi varietas Inpari 42 di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) seluas 1,2 hektare, Rabu (28/01/2026).
Program ini melibatkan secara aktif warga binaan sebagai bagian dari pembinaan berbasis produktivitas.
Kegiatan penyemaian tersebut diikuti oleh 20 orang warga binaan yang telah memenuhi syarat dan dinyatakan layak melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).
Pembinaan ini didampingi langsung oleh Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Atambua, Andra Sukabir.
Baca juga: Lapas Atambua Latih Warga Binaan Olah 10 Kilogram Lele Jadi Abon
Andra menjelaskan, penyemaian padi merupakan tahap awal yang sangat menentukan keberhasilan produksi pertanian.
Oleh karena itu, warga binaan dibekali edukasi praktis terkait teknik penyemaian yang benar guna menghasilkan bibit berkualitas.
“Bibit padi yang disemaikan akan dirawat secara intensif selama 20 hingga 30 hari sebelum masuk masa tanam serentak. Selama periode tersebut, dilakukan pengairan rutin, pemupukan awal, serta pengendalian hama agar pertumbuhan bibit optimal,” jelas Andra.
Ia menambahkan, pembinaan pertanian tidak berhenti pada tahap penyemaian semata, melainkan mencakup seluruh siklus pertanian. “Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pengolahan lahan sawah, pemupukan, perawatan tanaman, hingga proses panen. Ini bagian dari pembinaan keterampilan yang komprehensif,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Atambua, Bambang Hendra Setyawan, menegaskan kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, khususnya dalam penguatan pembinaan kemandirian warga binaan.
“Melalui kegiatan pertanian ini, kami menanamkan nilai kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab. Warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dipersiapkan agar memiliki keterampilan yang bermanfaat saat kembali ke masyarakat,” kata Bambang.
Salah satu warga binaan berinisial Riko Seran mengaku merasakan manfaat langsung dari program tersebut. Ia menilai kegiatan pertanian memberikan semangat baru selama menjalani masa pembinaan.
“Kami merasa tetap produktif dan berguna. Ilmu bertani yang kami dapatkan di sini sangat berarti dan bisa menjadi bekal untuk membuka usaha pertanian setelah bebas nanti. Ada rasa bangga ketika melihat bibit yang kami semai tumbuh subur dan bisa ikut mendukung ketahanan pangan,” ungkap Riko. (gus)