Thailand Bakal Perketat Aturan Tarik Tunai Usai Ditemukan Transaksi Mencurigakan
kumparanBISNIS January 29, 2026 05:19 AM
Bank sentral Thailand bakal memperketat pengawasan penarikan uang tunai dalam jumlah besar dari ATM setelah mendeteksi transaksi mencurigakan bernilai jutaan dolar AS.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap aliran dana ilegal dan stabilitas ekonomi nasional.
Mengutip Bloomberg, Bank Sentral Thailand tengah menyiapkan aturan baru yang akan memperketat kontrol atas penarikan uang tunai berskala besar.
Melalui kebijakan tersebut, perbankan akan diwajibkan melakukan uji tuntas yang lebih ketat serta melaporkan penarikan uang di atas batas tertentu.
Langkah pengawasan ini diambil setelah bank sentral menemukan dua transaksi tidak biasa, masing-masing bernilai lebih dari USD 6 juta yang terjadi beberapa hari sebelum pemilihan nasional pada 8 Februari 2026. Penarikan dana tersebut dinilai berpotensi merusak perekonomian jika tidak segera ditangani.
“Kami menemukan penarikan sebesar 250 juta baht siapa yang membutuhkan 250 juta baht dalam bentuk tunai?” kata Gubernur Bank Sentral Thailand, Vitai Ratanakorn, dalam sebuah seminar ekonomi pada hari Rabu (28/1).
“Kami juga menemukan penarikan lain sebesar 200 juta baht yang dilakukan sepenuhnya dalam uang kertas 100 baht. Inilah saatnya bank sentral harus bertindak karena aktivitas semacam ini merusak perekonomian,” imbuhnya.
Total penarikan tunai tersebut hampir mencapai USD 15 juta dan terjadi di saat Komisi Pemilihan Umum Thailand tengah menyelidiki dugaan praktik pembelian suara.
Sebuah survei yang dikutip media lokal Bangkok Post menunjukkan lebih dari seperempat calon pemilih bersedia mendukung kandidat yang menawarkan uang tunai.
Perbesar
Ilustrasi Bank Bank Sentral Thailand. Foto: Poetra.RH/Shutterstock
Vitai mengatakan bank sentral berencana memberlakukan aturan baru dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Dalam aturan tersebut, bank akan diwajibkan melaporkan penarikan tunai di atas ambang batas yang diperkirakan berada pada kisaran 3 juta hingga 5 juta baht.
Meski demikian, ia menegaskan tidak berspekulasi apakah penarikan besar yang terjadi belakangan ini terkait langsung dengan pemilu.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya lebih luas bank sentral untuk mengatasi persoalan struktural di luar kebijakan moneter konvensional, khususnya aliran dana yang berkaitan dengan ekonomi bawah tanah yang dinilai menghambat pertumbuhan jangka panjang.
“Tidak ada yang membutuhkan 3 juta hingga 5 juta baht tunai untuk membeli sesuatu. Jika Anda membeli tanah atau aset, itu dapat dilakukan melalui transfer atau cek,” ungkap Vitai.
Menurutnya, mendorong transaksi elektronik akan membuat arus dana lebih mudah dilacak dan membantu menekan aktivitas ilegal. “Jika transaksi bergerak melalui sistem perbankan, masalah uang gelap menjadi jauh lebih mudah dikelola,” tambahnya.
Perbesar
Ilustrasi Bank Bank Sentral Thailand. Foto: charnsitr/Shutterstock
Vitai, yang baru menjabat sebagai gubernur kurang dari empat bulan, mengungkapkan bahwa bank sentral sebenarnya telah lama memiliki kewenangan hukum untuk memantau pergerakan uang tunai dalam jumlah besar, namun jarang digunakan.
“Kami telah memiliki wewenang ini selama beberapa dekade, tetapi kami belum menggunakannya. Jika kami tidak bertindak, tidak ada orang lain yang akan bertindak,” katanya.
Selain penarikan tunai, bank sentral juga memperketat pengawasan perdagangan emas. Mulai awal Maret, diberlakukan batas harian sebesar 50 juta baht untuk perdagangan emas secara daring. Kebijakan ini hanya berlaku untuk transaksi baru, bukan emas yang sudah dimiliki investor, dan ambang batas tersebut dapat ditinjau ulang.
Thailand juga memperkenalkan aturan pelaporan baru yang efektif berlaku sejak 26 Januari, yang mewajibkan pedagang emas domestik utama melaporkan transaksi di atas 20 juta baht.
“Kenaikan harga emas menciptakan tekanan langsung pada baht. Saya berharap langkah-langkah ini mengurangi penjualan dolar dan membantu menstabilkan mata uang,” tutur dia.
Baht tercatat menguat hampir 10 persen dalam setahun terakhir, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia menurut data Bloomberg. Penguatan tersebut, yang sebagian dipicu aktivitas perdagangan emas, memberi tekanan tambahan pada sektor ekspor dan pariwisata.
Vitai menegaskan bank sentral telah melakukan intervensi agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar, tanpa melanggar ketentuan internasional.
“Kami telah bertindak dengan kapasitas penuh untuk mengelola baht, tanpa melampaui batas hingga manipulasi mata uang,” katanya.