SURYA.co.id – Suasana riuh di salah satu sudut kota Surabaya seketika berubah mencekam saat seorang ibu hamil membutuhkan bantuan medis mendesak.
Di tengah situasi hidup dan mati tersebut, Dokter Rosa muncul sebagai pahlawan tanpa jubah.
Aksi heroiknya kini tak hanya viral, tapi juga menuai perhatian langsung dari Menteri Kesehatan.
Hari itu, Selasa (20/1/2026), Dokter Rosa tengah menjalani rutinitasnya sebagai pengemudi taksi online.
Mobil melaju seperti biasa, hingga tiba-tiba suasana di dalam kabin berubah drastis.
Penumpangnya, Sirka Mariana, mulai merintih menahan kontraksi hebat.
Tak ada ruang bersalin. Tak ada bidan. Tak ada peralatan medis lengkap.
Yang ada hanyalah sebuah mobil, seorang ibu yang hampir melahirkan, dan waktu yang terus menekan.
Dalam hitungan detik, Rosa mengambil keputusan krusial. Ia menghentikan kendaraan di lokasi aman, mengatur posisi penumpang, dan memanfaatkan peralatan seadanya.
Naluri medisnya mengambil alih, ia bukan lagi sopir, melainkan tenaga kesehatan yang berpacu melawan risiko.
Sebagaimana dilaporkan wartawan SURYA.co.id, aksi spontan ini terekam kamera warga dan memicu decak kagum netizen.
Baca juga: Kisah Heroik Dokter Rosa di Surabaya: Bantu Persalinan Darurat hingga Dipanggil Menkes
Di ruang sempit itu, Rosa membantu proses persalinan darurat dengan penuh kehati-hatian.
Beberapa menit yang terasa seperti selamanya pun berlalu.
Ketegangan akhirnya pecah saat tangisan bayi terdengar memenuhi kabin mobil.
Seorang bayi laki-laki dengan berat 2,7 kilogram lahir dengan selamat.
Rasa lega bercampur haru menyelimuti momen tersebut.
Sirka Mariana berhasil melewati masa kritis, sementara bayinya segera mendapatkan pertolongan lanjutan setelah dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
Keselamatan ibu dan anak menjadi penutup bahagia dari situasi yang nyaris berujung tragedi.
Aksi luar biasa itu cepat menyebar dan menjadi viral, menyentuh emosi publik yang menyaksikan bagaimana kemanusiaan hadir di tempat yang tak terduga.
Pesan itu datang dari dr Iwan Trihapsoro yang mewakili Kementerian Kesehatan.
Kejutan belum berhenti. Setelah komunikasi singkat via WhatsApp, Rosa menerima telepon langsung dari Wakil Menteri Kesehatan, dr Benjamin Paulus Octavianus.
Bahkan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang tengah berada di Surabaya meminta bertemu langsung.
Pertemuan berlangsung Kamis (22/1/2026) di Rumah Sakit Vertikal Krembangan.
Dalam kesempatan itu, Menkes memberikan apresiasi atas dedikasi Rosa, sebuah contoh nyata semangat Indonesia Sehat 2026, di mana tenaga medis hadir tanpa batas ruang dan kondisi.
Di balik aksi heroik yang menyentuh jutaan orang, Dokter Rosa adalah ASN di RSUD dr Doris Sylvanus, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Airlangga, Surabaya.
Statusnya sebagai mahasiswa membuatnya belum bisa membuka praktik.
Sebagai orang tua tunggal yang membesarkan dua anak tanpa dukungan sistem, ia memilih menjadi sopir taksi online demi bertahan hidup.
“Semua harus saya jalani sendiri,” tuturnya.
Dedikasi itu akhirnya berbuah manis.
Selain apresiasi dari aplikator, Universitas Airlangga membebaskan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebagai bentuk penghargaan atas keteladanan dan pengabdian Rosa.
Meski muncul kritik dari sebagian akademisi soal realitas dokter yang harus bekerja di luar profesinya, Rosa memilih bersyukur.
“Apa pun itu, saya sangat berterima kasih atas semua perhatiannya,” pungkasnya.
Kisah Dokter Rosa mengingatkan kita bahwa kemanusiaan masih sangat kental di sekitar kita, hadir di tengah kemacetan, keterbatasan, dan situasi genting.