Laporan Kontributor TribunJabar.id, Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Kabupaten Sumedang masih menghadapi tantangan serius dalam upaya pengendalian HIV/AIDS. Sepanjang tahun 2025, tercatat 165 kasus baru HIV di wilayah Sumedang, meski angka tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sumedang, Retno Ernawati, menyebutkan bahwa data tersebut telah terkonfirmasi secara resmi melalui Dinas Kesehatan dan terintegrasi dengan sistem nasional.
“Data kasus baru selama 2025 memang sekitar 165 kasus. Angka ini sudah dikonfirmasi dengan provinsi dan masuk dalam Sistem Informasi HIV/AIDS secara nasional,” katanya kepada TribunJabar.id, di Kantor Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Sumedang, Rabu (28/1/2026).
Retno menjelaskan, secara keseluruhan jumlah Orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Sumedang saat ini berada di kisaran 400-an orang. Meski demikian, ia menilai penurunan kasus baru menjadi sinyal positif dari berbagai upaya pencegahan, edukasi, serta pendampingan yang terus dilakukan lintas sektor.
“Kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus baru ini sebenarnya menurun. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian mulai menunjukkan hasil,” katanya.
Baca juga: Bumi Perkemahan Kiara Payung Sumedang, Tempat Berkemah yang Luas dan Asyik Bersama Sahabat
Ketua TP PKK Kabupaten Sumedang, Susi Gantini di tempat yang sama mengatakan bahwa pendekatan berbasis keluarga, nilai moral, dan agama memiliki peran yang sangat penting untuk memutus mata rantai penularan HIV.
Menurut Susi, PKK Sumedang lebih memfokuskan perannya pada upaya preventif, terutama melalui edukasi keluarga dan generasi muda.
“Kami di PKK bergerak lebih ke hulu, bagaimana mencegah sejak awal. Sebagai Bunda Generasi Berencana, saya melihat pentingnya menghindari seks bebas dan pernikahan dini sebagai langkah pencegahan agar tidak muncul kasus-kasus baru,” katanya.
Istri Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir ini menilai, fondasi agama merupakan benteng utama dalam membentuk perilaku sehat dan bertanggung jawab, khususnya bagi anak dan remaja.
“Nilai agama itu fondasi yang sangat penting. Kalau fondasinya kuat, insyaallah bisa menghindari perilaku negatif yang berisiko,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat Sumedang untuk bersama-sama menerapkan pola hidup sehat dan meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama dalam pergaulan sehari-hari.
“Banyak kasus terjadi karena anak-anak kurang terawasi, sehingga pergaulannya menjadi bebas. Ini tanggung jawab bersama, terutama orang tua,” katanya.
Selain pengawasan, Susi menekankan pentingnya pendekatan keluarga yang penuh kasih sayang. Menurutnya, anak-anak kerap mencari perhatian dan penerimaan di luar rumah ketika kebutuhan emosional mereka tidak terpenuhi di lingkungan keluarga.
“Pendekatan dengan kasih sayang itu penting. Jangan sampai anak mencari perhatian di luar karena tidak mendapatkannya di rumah,” katanya. (***Kiki Andriana***)