TRIBUNJATIM.COM - Pria yang kesehariannya bekerja sebagai petugas kebersihan belakangan jadi sorotan karena ternyata punya segudang harta.
Kesehariannya jadi petugas kebersihan, ternyata pria bernama Koichi Matsubara itu punya penghasilan pasif.
Penghasilan aktifnya sebagai petugas kebersihan sebenarnya hanya kurang lebih Rp 11 jutaan.
Tetapi, penghasilan pasifnya ternyata bisa mencapai miliaran rupiah pertahun.
Kisah pria asal Jepang yang sebenarnya sudah kaya raya tetapi tetap ingin jadi petugas kebersihan itu dibicarakan warganet.
Pria bernama Koichi Matsubara (56) itu memiliki penghasilan pasif lebih dari 30 juta yen (Rp 3,3 miliar) per tahun
Dilansir Tribunjatim.com dari 8days.sg via TribunStyle, Kamis (29/1/2026), Koichi Matsubara bekerja tiga kali seminggu dengan durasi kerja empat jam per shift.
Ia bertugas membersihkan area umum dan menangani perawatan ringan di sebuah kompleks apartemen di Tokyo.
Pendapatan bulanannya dari pekerjaan tersebut hanya sekitar 100.000 yen (Rp 11 juta), jauh di bawah rata-rata gaji bulanan di Tokyo yang mencapai 350.000 yen (Rp 38,5 juta).
Lahir dari keluarga dengan orang tua tunggal dan kondisi ekonomi terbatas, Matsubara sejak muda bercita-cita hidup mandiri secara finansial.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, ia mulai bekerja sebagai buruh pabrik dengan gaji awal sebesar 180.000 yen per bulan.
Dengan gaya hidup hemat dan pengelolaan keuangan yang cermat, dalam beberapa tahun ia berhasil menabung sekitar 3 juta yen.
Tabungan itu digunakannya untuk membeli sebuah apartemen studio sebagai langkah awal membangun aset.
“Saya mengambil langkah-langkah untuk menghindari kekosongan dan melunasi hipotek lebih awal, serta secara bertahap menambah jumlah properti saya.” katanya.
Baca juga: Sudah Jual Rumah dan Harta, TKI Gagal Kerja di Jepang karena Tertipu LPK, Ada yang Bayar Rp 150 Juta
Hasil dari perencanaan keuangan jangka panjangnya kini terlihat jelas.
Matsubara telah memiliki tujuh unit apartemen sewaan yang tersebar di Tokyo dan sekitarnya.
Selain properti, ia juga aktif berinvestasi di pasar saham dan reksa dana.
Meski kini secara finansial ia telah mencapai kebebasan, Matsubara tetap memilih menjalani hidup sederhana dan hemat.
Ia tinggal di apartemen yang terjangkau, memasak sendiri di rumah, memiliki ponsel pintar standar, dan lebih suka bersepeda.
Ia juga tidak membeli baju baru selama lebih dari satu dekade.
Matsubara menikmati pekerjaannya yang sederhana karena memberinya kesempatan untuk tetap aktif secara fisik, menjaga ketajaman pikiran, dan mempertahankan kesehatan mental.
Bagi dirinya, nilai dari pekerjaan tersebut bukan lagi terletak pada besarnya gaji, melainkan pada manfaat nonmateri yang ia rasakan setiap harinya.
"Setiap pagi, saya bangun, bersih-bersih, dan merapikan semuanya. Rasanya sungguh menyenangkan," ujarnya.
Menurut laporan, ia akan menerima pensiunnya saat berusia 60 tahun, dan ingin sekadar menjalani kehidupan yang bermakna tanpa memamerkan kekayaannya.
“Saya berharap bisa melakukan sesuatu setiap hari, tetap sehat, dan berpikir sendiri,” tambahnya.
Netizen terkesan dengan kisah Matsubara, banyak yang memujinya atas keterampilan mengelola keuangan dan pandangan hidupnya.
Matsubara bahkan mendapat julukan "jutawan tak terlihat".
Ia dipuji karena tetap aktif dan mengutamakan kesehatan meskipun telah mencapai tujuan keuangannya.
Baca juga: Nominal Uang yang Dikeluarkan Negara Ikut Iuran Dewan Perdamaian, Menkeu Purbaya Turuti Presiden
Jika ingin hidup sejahtera dengan gaji yang tinggi, negara Jepang bisa menjadi pilihan terbaik.
Negara yang berjuluk Negeri Sakura itu membutuhkan sekitar 40.000 tenaga kerja dari Indonesia di berbagai sektor.
Hal itu diungkap oleh Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanegara.
Ia menjelaskan jika Indonesia saat ini baru mengirimkan 25.000 tenaga kerja.
Baca juga: Pantas Perusahaan di Jepang Naikkan Gaji Karyawan 5,25 Persen, Krisis Tenaga Kerja Tetap Parah
Puluhan ribu tenaga kerja dari Indonesia tersebut bergerak di bidang pertanian, kelautan, perawatan dan konstruksi.
Menurut keterangan Menteri Transmigrasi, tenaga kerja Indonesia di Jepang mendapat gaji sekitar Rp 25 juta hingga Rp 55 juta dalam sebulan.
"Dan yang lebih menarik dan membahagiakan kita saat ini adalah bahwa ternyata mereka, masyarakat Jepang sangat nge-value (menilai) tenaga kerja di Indonesia karena keramahtamahannya, hospitality-nya," ujar Iftitah, dilansir dari Kompas.com, Kamis (2/10/2025).
Bahkan, tenaga kerja dari Indonesia dianggap nomor satu dibanding negara lain.
Sehubungan dengan kebutuhan tenaga kerja ini, pemerintah Indonesia dan Jepang akan bekerja sama memberikan pelatihan untuk membangun daerah transmigrasinya.
Dengan demikian, para pencari kerja bisa menjadikan hal ini sebagai kesempatan mendapat peluang berkarier di Negeri Sakura.
Sebelum mencari tahu kesempatan bekerja di Jepang, perlu mengetahui berapa biaya hidup dan perbandingannya dengan Indonesia.
Lantas, berapa biaya hidup di Jepang dan bagaimana perbandingannya dengan di Indonesia? Bagaimana rincian kebutuhan jika hidup di Jepang?
Biaya hidup di Jepang vs Indonesia
Dilansir dari Numbeo, perkiraan biaya hidup satu orang di Jepang dalam sebulan rata-rata sebesar 134.533 yen Jepang atau Rp 15.241.000 tanpa sewa rumah.
Sementara untuk keluarga yang terdiri dari 4 orang, biaya hidupnya rata-rata 475.691 yen Jepang atau Rp 53.862.000 tanpa sewa rumah.
Rata-rata gaji orang Jepang sendiri sebesar 310.616 yen Jepang atau Rp 35.190.000 per bulan.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, biaya hidup di Jepang 98,7 persen lebih tinggi.
Di Indonesia sendiri, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa orang Indonesia rata-rata menghabiskan Rp 751.789 untuk makanan dan non-makanan sebesar Rp 1.500.556 per bulan pada tahun 2024.
Rincian biaya hidup di Jepang
Biaya hidup di Jepang cukup tinggi, terutama untuk makan, transportasi, tagihan bulanan, dan sewa hunian.
Berikut rincian rata-rata biaya hidup di Jepang:
Makanan dan bahan pokok:
Makan di restoran murah: 1.000 yen Jepang atau sekitar Rp 113.000.
Makan di restoran menengah berdua: 5.500 yen Jepang atau sekitar Rp 623.000.
McMeal (McDonald’s): 750 yen Jepang atau sekitar Rp 85.000.
Daging sapi (1 kg): 2.843 yen Jepang atau sekitar Rp 322.000.
Apel (1 kg): 762 yen Jepang atau sekitar Rp 86.300.
Susu (1 liter): 223 yen Jepang atau sekitar Rp 25.200.
Cappucino: 479 yen Jepang atau sekitar Rp54.000 per gelas.
Transportasi:
Tiket sekali jalan: 220 yen Jepang atau sekitar Rp 24.900.
Tiket bulanan: 8.638 yen Jepang atau sekitar Rp 979.000.
Tarif taksi minimal: 600 yen Jepang atau sekitar Rp 68.000.
Bensin (1 liter): 174 yen Jepang atau sekitar Rp19.700.
Tagihan bulanan:
Biaya listrik, air, pengelolaan sampah (apartemen standar seluas 85 persegi): 25.414 yen Jepang atau sekitar Rp 2,88 juta.
Internet unlimited: 5.126 yen Jepang atau sekitar Rp 581.000.
Paket data dan telepon (10GB ke atas): 3.883 yen Jepang atau Rp 439.700.
Pendidikan anak:
TK swasta per bulan: 48.306 yen Jepang atau sekitar Rp 5,47 juta.
SD internasional per tahun: 1.962.158 yen Jepang atau sekitar Rp 222 juta.
Pakaian dan sepatu:
Jeans Levi’s: 7.064 yen Jepang atau sekitar Rp 800.000.
Sepatu Nike: 9.081 yen Jepang atau sekitar Rp 1,03 juta.
Sepatu kulit pria: 12.886 yen Jepang atau sekitar Rp 1,46 juta.
Hunian:
Apartemen 1 kamar di pusat kota: 87.131 yen Jepang atau sekitar Rp 9,87 juta per bulan.
Apartemen 1 kamar di pinggiran: 59.517 yen Jepang atau sekitar Rp 6,73 juta per bulan.
Apartemen 3 kamar di pusat kota: 193.054 yen Jepang atau sekitar Rp 21,88 juta per bulan.
Harga beli apartemen di pusat kota: 899.914 yen Jepang atau sekitar Rp 101,9 juta per meter persegi.
Perbandingan biaya hidup dengan gaji
Rata-rata gaji bersih di Jepang tercatat sekitar 310.616 yen Jepang atau Rp 35,2 juta per bulan.
Angka ini sebanding dengan besarnya biaya hidup, sehingga seorang pekerja lokal dengan gaji tersebut masih harus mengatur pengeluaran secara cermat, terutama jika tinggal di kota besar.
Kemudian bagi tenaga kerja Indonesia, kisaran gaji yang disebutkan Menteri Iftitah antara Rp 25 juta hingga Rp 55 juta per bulan, tergantung sektor dan lokasi kerja.
Dengan biaya hidup yang tinggi, seseorang dengan gaji Rp 25 juta kemungkinan besar akan menghadapi keterbatasan jika menetap di kota besar dengan standar apartemen pusat kota.
Sebaliknya, mereka yang memperoleh gaji mendekati Rp 55 juta per bulan relatif lebih longgar untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, termasuk sewa hunian dan pendidikan anak.