TRIBUNBANYUMAS.COM, SLAWI - Pasca diterjang banjir bandang, kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Guci Kabupaten Tegal, dalam seminggu ini terpantau sepi aktivitas pengunjung.
Pada Kamis (29/1/2026), suasana sepi mulai terasa sejak memasuki gerbang masuk utama wisata.
Suasana sepi semakin terasa ketika masuk ke kawasan pasar Guci baik sebelum kantor UPTD ataupun pasar yang dekat kantor arah Pancuran 5 dan 13.
Hanya terdapat beberapa petugas berjaga di loket dan lalu lalang kendaraan warga sekitar bukan wisatawan dari luar kota.
Kawasan pasar yang biasanya dipadati kendaraan pengunjung parkir ataupun membeli oleh-oleh, sekarang ini kondisinya sangat sepi bahkan pedagang yang membuka lapak jualannya hanya hitungan jari.
Baca juga: Kondisi Masih Cuaca Ekstrem, Jalur Pendakian Gunung Slamet via Guci Semuanya Sementara Ditutup
Banyak pedagang yang lebih memilih menutup lapak jualannya karena Guci masih sepi pengunjung.
Selain dipengaruhi banjir bandang kedua, kondisi cuaca yang masih ekstrem atau intensitas hujan tinggi ditambah berkabut tebal juga memengaruhi minat pengunjung.
Bahkan diakui pedagang makanan di lokasi, situasi saat ini seperti kembali ke masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ketika Indonesia dilanda wabah Pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Pedagang Merugi
Pedagang makanan dan minuman yang masih tetap buka, Royati, mengaku kondisi sepi sudah mulai terasa bahkan jauh sebelum bencana banjir bandang melanda.
Namun kondisi sepi pengunjung semakin parah pasca banjir bandang yang belum lama terjadi karena mengakibatkan kerusakan pada daya tarik utama yaitu pemandian air panas Pancuran 13 dan 5.
Dikatakan Royati, bukan hanya dia yang merasakan dampak sepi pengunjung tapi pedagang lainnya juga merasakan hal yang sama.
"Saya berjualan sejak tahun 2008 dan baru mengalami kondisi sepi pembeli paling parah sekarang ini," cerita Royati, pada Tribunjateng.com.
Royati mengaku, sekarang ini sedang mengalami kondisi yang cukup sulit, bahkan untuk modal jualan saja harus pinjam ke saudara.
Katakan pinjam uang ke saudara untuk modal jualan Rp
Baca juga: Dahsyatnya Banjir Bandang kedua, Wajah Guci Berubah, Aktivitas Wisata Terhenti
300 ribu, biasanya Jumat atau Sabtu bisa mengembalikan tapi sekarang ini seminggu kadang baru menghasilkan Rp100 ribu.
Jangankan mendapat untung, untuk mengembalikan modal jualan sekarang ini cukup sulit.
"Bisa saya katakan saat ini pedagang di Guci lumpuh total karena mayoritas pada tutup. Harapan kami kondisi bisa segera pulih, Guci ramai lagi dan Pancuran 13 juga bisa gratis lagi seperti dulu. Karena mahalnya harga tiket Pancuran 13 juga sangat berpengaruh ke kami para pedagang," ungkap Royati.
Saat dikonfirmasi, Kepala Disporapar Kabupaten Tegal Akhmad Uwes Qoroni menerangkan, pihaknya mengetahui kondisi kawasan wisata Guci sepi pengunjung terutama pedagang di pasar ataupun lokasi lainnya.
Tidak tinggal diam, Disporapar Kabupaten Tegal melakukan beberapa upaya agar kondisi bertahap membaik dan pengunjung kembali meramaikan Guci sehingga perekonomian kembali berputar.
Upaya pertama yang dilakukan, Disporapar Kabupaten Tegal masif menginformasikan Guci masih bisa dikunjungi karena wahana lainnya masih tersedia termasuk penginapan.
Upaya kedua, sebagai wujud keberpihakan kepada UMKM di kawasan Guci dan mengupayakan agar tetap dikunjungi, sampai saat ini retribusi tiket masuk Guci masih gratis.
Uwes juga menyebut bahwa di kawasan Guci terdiri dari beberapa sektor di antaranya UMKM, Hotel dan Wahana wisata.
"Untuk air bersih kami sudah cek di hotel ataupun penginapan kawasan Guci kondisinya aman. Tapi untuk air panas memang sampai saat ini belum bisa karena pipa yang mengaliri terbawa banjir bandang," jelas Uwes. (dta)