Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kenaikan harga emas yang tembus Rp3 juta per gram dinilai dipengaruhi oleh kombinasi tekanan global dan domestik.
Pengamat Ekonomi dan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, menilai lonjakan harga emas tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik dunia yang kian memanas.
Dia menuturkan, konflik berkepanjangan seperti Ukraina–Rusia, Israel–Palestina, ketegangan Amerika Serikat–Iran, hingga rivalitas AS–Tiongkok telah meningkatkan tingkat ketidakpastian global atau global uncertainty index.
Aknolt menilai, dalam kondisi tersebut, emas kembali berfungsi sebagai safe haven asset yang diburu investor, sehingga mendorong kenaikan harga.
Baca juga: Harga Emas Tembus Rp3,1 Juta per Gram: Warga Bandung Mulai Panic Selling dan Serbu Saham Blue Chip
“Di sisi lain, ketidakpastian fiskal Amerika Serikat membuat sebagian investor mengurangi minat terhadap saham-saham AS dan beralih ke emas,” ujar Aknolt, kepada Tribunjabar.id, Kamis (29/1/2026).
Dikatakannya, faktor domestik juga ikut berperan, terutama depresiasi nilai tukar rupiah yang mendorong masyarakat mencari instrumen investasi yang lebih aman.
Namun demikian, Aknolt menegaskan kenaikan harga emas tidak serta-merta menjadi tanda pasti akan terjadinya resesi.
“Tidak selalu, tetapi sering kali menjadi sinyal awal,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga emas biasanya muncul dalam situasi perlambatan pertumbuhan ekonomi, kekhawatiran terhadap inflasi, serta ketidakefektifan kebijakan moneter dalam mengendalikan tekanan harga.
Karena itu, emas lebih tepat dibaca sebagai indikator meningkatnya risiko dan ketidakpastian ekonomi, bukan kepastian akan terjadinya resesi.
“Kesimpulannya, harga emas yang naik tidak berarti resesi pasti terjadi, tetapi bisa menjadi salah satu indikator potensi resesi ekonomi,” jelasnya.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini Kamis 29 Januari 2026 Makin Meroket, Galeri 24 Ikut Sentuh Rp3 Juta
Aknolt juga menyinggung keterkaitan harga emas dengan kondisi fiskal Amerika Serikat.
Ia menilai emas kini menjadi cermin ketidakpercayaan pasar terhadap utang AS.
“Emas merefleksikan keraguan investor terhadap keberlanjutan utang Amerika Serikat,” ujarnya.
Terkait strategi investasi, Aknolt menekankan tidak ada jawaban tunggal antara menjual atau menyimpan emas.
Ia mengingatkan emas pada dasarnya merupakan instrumen investasi jangka panjang.
Karena itu, keputusan membeli atau menyimpan emas seharusnya didasarkan pada tujuan investasi dan perlindungan aset, bukan karena dorongan FOMO (fear of missing out).
“Dalam situasi saat ini, di tengah pelemahan rupiah dan meningkatnya ketegangan geopolitik global, emas masih relevan dijadikan salah satu aset yang relatif terjamin karena nilainya cenderung stabil bahkan meningkat,” jelasnya.