TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pakar menegaskan risiko pandemi global tidak besar atas kembali mencuatnya Virus Nipah setelah kasus baru di India pada akhir Desember 2025 hingga Januari 2026.
Diketahui, WHO menetapkan Nipah sebagai patogen prioritas karena tingkat kematian tinggi, mencapai 40–75 persen, dan belum ada vaksin maupun pengobatan spesifik.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Airlangga sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. Dominicus Husada, menjelaskan pandemi berarti penyebaran penyakit lintas negara dan benua.
“Untuk bisa sampai ke seluruh dunia, penularannya harus cepat dan mudah,” ujar Dominicus dalam media briefing virtual, Kamis (27/1/2026).
Menurutnya, penyakit yang menular lewat saluran pernapasan lebih berpotensi menjadi pandemi dibandingkan yang menular melalui kontak langsung.
“Yang paling cepat dan mudah itu melalui saluran nafas seperti SARS-CoV-2,” kata Prof. Dominicus.
Baca juga: Waspadai Dengue dan Leptospirosis, Mudah Menyebar di Puncak Musim Hujan
Meski risiko pandemi kecil, Prof. Dominicus menekankan wabah lokal tetap mungkin terjadi.
“Kalau kontak ini, risiko pandemi tidak besar, tapi risiko wabah besar di tingkat kota atau negara,” jelasnya.
Ia menambahkan, kewaspadaan tetap penting karena virus bisa bermutasi.
“Kita tetap harus waspada sebab makhluk hidup itu bisa mengalami mutasi,” ungkapnya.
Prof. Dominicus mencontohkan flu burung yang sempat menghebohkan dunia.
“Kematian flu burung di atas 75 persen, tapi tidak menular antar manusia,” katanya.
Kondisi itu menyelamatkan dunia dari pandemi yang lebih mematikan dibanding Covid-19.
Namun, ia mengingatkan ancaman bisa berubah jika mutasi memungkinkan penularan antar manusia.
“Kalau flu burung bisa menular antar manusia, habislah kita,” tegasnya.
Meski virus Nipah disebut mematikan, pakar menegaskan risiko pandemi global tidak besar. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena mutasi bisa mengubah jalur penularan dan dampaknya bagi manusia.