Oka Suati Harus Mengungsi, 12 KK Terdampak Abrasi di Pantai Monggalan Kusamba
January 30, 2026 08:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Di bawah terik matahari Pantai Mongalan, Desa Kusamba, Klungkung, Dewa Ketut Oka Suati hanya bisa memandangi sisa-sisa rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempatnya membesarkan keluarga.

Kini, yang tersisa hanya potongan tembok kamar. Selebihnya, hilang disapu ombak.

Rumah yang telah ia tempati selama hampir 40 tahun itu hancur setelah gelombang tinggi menerjang pesisir beberapa hari lalu.

Baca juga: Penataan Pantai Candidasa Telan Anggaran Rp500 M, Fokus Atasi Abrasi dan Pulihkan Daya Tarik Wisata

Perabotan rumah tangga, atap, hingga sebagian bangunan tak mampu bertahan menghadapi abrasi yang semakin parah sepanjang setahun terakhir.

“Semuanya habis. Rumah sudah tidak ada,” ucapnya lirih.

Kekhawatiran sebenarnya sudah lama menghantui Oka Suati.

Setiap malam, suara ombak membuatnya sulit tidur. Ia dan keluarga akhirnya memilih kembali ke rumah lama di kampung, tinggal bersama kerabat karena pesisir sudah tak lagi aman untuk dihuni.

Baca juga: ABRASI di Pantai Pemelisan Muntig Mengkhawatirkan, Terancam Hilang dalam Kurun 1-2 Tahun ke Depan

Namun keputusan itu membuatnya harus meninggalkan sebagian besar barang di rumah yang kini sudah rata dengan pantai.

Tempat tinggal baru pun terasa sempit karena harus berbagi ruang dengan beberapa keluarga lain.

“Barang-barang banyak yang tertinggal. Tidak ada tempat lagi untuk menaruh,” katanya.

Sebagai kakek dengan dua anak dan tiga cucu, Oka Suati kini hanya berharap pemerintah dapat membantu menyediakan tempat tinggal yang lebih aman.

Tanah di pesisir tempat rumahnya berdiri dulu kini hampir hilang terkikis laut.

Nasib serupa dialami Ni Ketut Rai, pedagang kecil yang warungnya berada tak jauh dari lokasi tersebut.

Ia sudah dua kali memindahkan warungnya untuk menghindari abrasi. Namun laut terus mendekat.

“Sekarang ombak sudah makin dekat lagi. Kalau gelombang besar datang, kami takut,” katanya.

Abrasi di Pantai Mongalan tercatat telah berdampak pada sedikitnya 12 kepala keluarga.

Sejumlah rumah rusak, halaman warga mulai kemasukan air laut, dan beberapa keluarga terpaksa mengungsi karena tidak memiliki tempat tinggal alternatif.

Pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan darurat dan tengah menyiapkan rencana relokasi ke lahan yang lebih aman. 

Upaya Pemerintah

Perbekel Desa Kusamba, I Nengah Semadi Adnyana menjelaskan, abrasi telah menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari tembok jebol hingga atap rumah tersapu ombak.

Air laut juga dilaporkan masuk ke pekarangan rumah warga lainnya, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan penghuni.

Ia menyebutkan, total terdapat 12 kepala keluarga (KK) yang terdampak abrasi.

Dari jumlah tersebut, sekitar 4 KK tidak memiliki tempat tinggal alternatif dan saat ini mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra meninjau langsung kondisi rumah warga yang terdampak abrasi di wilayah tersebut, Kamis (29/1).

Dalam kunjungan tersebut, pihaknya menyalurkan bantuan berupa paket sembako serta perlengkapan rumah tangga bagi warga terdampak.

Pemkab Klungkung sebelumnya telah mengusulkan penanganan abrasi kepada Balai Wilayah Sungai (BWS).

Namun, berdasarkan kajian teknis, pemasangan tanggul dinilai berpotensi memindahkan dampak abrasi ke wilayah timur. Atas pertimbangan tersebut, menurut Tjok Surya Putra, BWS merekomendasikan agar warga yang tinggal di zona rawan abrasi mempertimbangkan relokasi ke tempat yang lebih aman.

Tjok Surya Putra mengatakan pemerintah daerah akan menindaklanjuti rekomendasi tersebut dan mencari solusi terbaik bagi warga terdampak. 

“Langkah-langkah ke depan bersama bapak bupati, kami akan carikan solusi dan tindaklanjuti. Sehingga nantinya rumah warga yang terdampak abrasi segera mendapatkan penanganan,” ujarnya. 

Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi.

Selain itu, perbekel setempat diminta untuk melakukan pendataan terhadap warga terdampak, khususnya terkait kepemilikan tempat tinggal alternatif.

Tjok Surya Putra kemarin juga meninjau sejumlah lahan milik Pemprov Bali dan Kabupaten Klungkung di Desa Kusamba.

Rencananya tanah tersebut akan dibuat relokasi warga terdampak abrasi para di pesisir Kusamba. Terutama bagi warga yang rumahnya rusak diterjang ombak, dan sama sekali tidak memiliki lahan lainnya untuk ditinggali.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman, Kabupaten Klungkung I Made Jati Laksana mengatakan, total garis pantai di Klungkung yakni 113 kilometer (km). Dari jumlah itu, sekitar 26,4 km di antaranya rawan abrasi.

“Yang sudah tertangani sampai dengan tahun 2024 sepanjang 19,56 kilometer,” ujar Jati Laksana.

Menurutnya penanganan abrasi membutuhkan biaya besar. Dengan 26,4 km garis pantai yang rawan abrasi dibutuhkan anggaran sekitar Rp 196 miliar untuk menuntaskan masalah abrasi di Klungkung.

Kebatasan anggaran, membuat Pemkab tahun ini tidak menganggarkan penanganan abrasi. Demikian halnya pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, juga tidak menganggarkan penanganan abrasi di Klungkung.

“Kami sebenarnya sudah ajukan usulan, namun untuk kegiatan pengamanan pantai di Mongalan dan lainnya, belum ada tahun ini. Mudah-mudahan di tahun anggaran 2027 ada alokasi anggarannya,” kata Jati Laksana. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.