Analisis Dosen Geologi UGM Soal Permukaan Air Danau Kerinci Turun 1-2 Meter
January 30, 2026 10:11 AM

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Permukaan air Danau Kerinci mengalami penyusutan signifikan dalam beberapa hari terakhir. 

Air danau kini terlihat semakin jauh dari bibir danau, bahkan di sejumlah titik dasar danau mulai tampak mengering.

Pantauan di lapangan, penyusutan terlihat jelas di pintu keluar air Danau Kerinci menuju Sungai Barang Merangin. Debit air yang biasanya mencapai kedalaman sekitar dua meter, kini terlihat dangkal.

Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ( UGM ), Dr.Eng. Ir. Akmaluddin, ST, MT, IPM, menyebut ada dua faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut, yakni faktor pengelolaan PLTA dan faktor alam.

Akmaluddin yang merupakan putra daerah Kerinci mengatakan sempat meninjau langsung pintu air PLTA Danau Kerinci pada 1 Desember lalu. 

Saat itu, ketinggian muka air danau masih berada di level 783,8 meter.

“Saya datang langsung ke pintu air PLTA dan bertemu kepala pintu air, Pak Ridwan. Saya juga melihat langsung sistem monitoringnya, saat itu level air danau masih 783,8 meter,” ujar Akmaluddin.

Namun, saat kembali berkunjung beberapa hari lalu dan mengecek ruang monitoring pintu air PLTA, tinggi muka air danau terpantau berada di angka 783,0 meter.

“Artinya, air danau sudah berkurang sekitar satu meter dari kondisi normal,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi ini diperkuat dengan temuan di lapangan. 

Aliran air di Sungai Agung yang berada di bawah jembatan terlihat mengalir sangat kecil, sementara di pintu air PLTA debit air masih mengalir cukup deras.

“Kalau kita lihat air sungai di Jembatan Sungai Agung hanya mengalir sedikit, tapi di pintu air masih deras, maka bisa disimpulkan aliran air memang tersedot ke pintu air. Namun karena sungainya belum benar-benar kering, kondisi ini bisa dikatakan sebagai level terendah air danau,” katanya.

Selain faktor PLTA, Akmaluddin menegaskan kerusakan hutan di Kerinci menjadi penyebab serius dari penyusutan air Danau Kerinci.

“Harus disadari, hutan di Kerinci itu sudah sangat kritis. Ketika hutan gundul, maka banjir dan kekeringan akan selalu mengancam,” ujarnya.

Menurutnya, hutan memiliki fungsi penting sebagai penyimpan air. Ketika hujan tidak turun, simpanan air dari pepohonan seharusnya masih bisa mengalir ke sungai dan danau. 

Namun, karena tutupan hutan berkurang drastis, debit sungai-sungai di sekitar Batang Marao dan wilayah lain menjadi sangat kecil.

Kondisi ini diperparah dengan aktivitas normalisasi sungai yang baru dilakukan di Batang Marao.

“Ketika debit air sungai kecil dan sungai baru saja dikeruk atau dinormalisasi, maka air lebih banyak digunakan untuk mengisi badan sungai dibandingkan mengalir ke danau,” jelasnya.

Ia menilai, faktor PLTA dan faktor alam saling memengaruhi dan tidak bisa dilihat secara terpisah.

“Dua faktor ini saling berkaitan dan tidak bisa disalahkan satu dengan yang lain,” tegas Akmaluddin.

Sementara itu, warga sekitar danau mengaku khawatir dengan kondisi tersebut. 

Menurut mereka, penyusutan air terjadi cukup cepat meski belum memasuki musim kemarau panjang.

“Ya, airnya menyusut, padahal baru beberapa hari tidak hujan. Biasanya kalau kemarau panjang baru terlihat menyusut, sekarang belum kemarau panjang,” ujar Asep, warga setempat.

Warga menilai, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat, dampaknya bisa meluas terhadap ekonomi lokal, perikanan, hingga ekosistem Danau Kerinci.

Pakar dan masyarakat pun mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera melakukan kajian ilmiah mendalam guna memastikan penyebab pasti penyusutan air Danau Kerinci, sekaligus menyusun langkah antisipasi agar krisis air tidak semakin parah di masa mendatang. (Tribunjambi.com/Rifani Halim)

Baca juga: Ibu MS Minta Perlindungan DPRD Jambi, Anak Perempuannya Diduga Diperkosa 2 Oknum Polisi

Baca juga: Nelayan Dorong Perahu ke Tepian Danau Kerinci yang Mengering karena Minim Hujan

Baca juga: Tinggi Muka Air Danau Kerinci Turun 2 Meter, Ahli UGM Paparkan Analisis Penyebabnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.