Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Operasi pencarian survivor Yazid Ahmad Firdaus, pemuda asal Colomadu yang hilang di Bukit Mongkrang, Tawangmangu, Karanganyar, terus diperkuat berbagai unsur relawan.
Terbaru, komunitas rescue hutan dan gunung asal Bandung, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri), ikut turun langsung dengan menerapkan metode play camp dalam pencarian.
Wanadri terlibat dalam operasi pencarian dan pertolongan (Opsar) di kawasan perbukitan sekitar Gunung Lawu tersebut untuk membantu menemukan survivor yang dilaporkan hilang.
Ketua Tim Opsar Wanadri, Badawi (55), mengatakan pihaknya mengerahkan satu tim berisi delapan personel untuk memperkuat Basarnas dan relawan lain di lapangan.
"Kami dari Wanadri dari Bandung, ditugaskan membantu Suvivor Yazid yang diduga hilang dan melakukan penguatan terhadap institusi Barsarnas di Bukit Mongkrang," kata Badawi, Kamis (29/1/2026) malam.
Baca juga: 10 Mahasiswa Pecinta Alam dari Madiun Ikut Bantu Cari Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang Karanganyar
Ia menjelaskan, tim yang diterjunkan terdiri dari personel dengan kemampuan vertical rescue dan mountain rescue.
Berbagai perlengkapan standar operasi gunung-hutan juga telah disiapkan, mulai dari alat menembus hutan, perlengkapan tebing terjal, hingga perangkat rappelling.
"Kita sudah melakukan analisa peta bahwa bukit ini sangat khas, banyak sekali patahan-patahan dan kalau pelajari kronologi, diduga terjatuh dari titik tertentu," ungkap Badawi.
Wanadri sendiri baru bergabung dalam operasi sejak Selasa (27/1/2026).
Keterlambatan tersebut, menurut Badawi, karena organisasi sedang menjalankan agenda internal berskala besar.
Baca juga: SAR Sisir Tebing di Pos 3 Bukit Mongkrang Karanganyar, Nasib Yazid Ahmad Firdaus Masih Misteri
"Kita baru hajat besar, sehingga kita belum bisa bergabung pada awal kejadian, kita baru operasi dua hari yang lalu," kata dia.
Dalam praktik pencarian, Wanadri menggunakan teknik play camp, yakni metode berkemah di titik-titik tertentu selama beberapa hari untuk memaksimalkan jangkauan pencarian.
"Jadi gini ada metode exploring rescue, menyikapi waktu dan cuaca yang ada sebaiknya unit yang ada melakukan play camp, Jadi kita bisa ontime mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore dalam pencarian dan kelebihan ini kita menempatkan diri di daerah dicurigai, sehingga Wanadri dan teman dari tim yang lain ada yang sudah menggunakan metode ini," kata dia.
Metode tersebut dinilai efektif untuk operasi exploring rescue di medan pegunungan yang luas dan sulit dijangkau.
Badawi menambahkan, Wanadri yang berdiri sejak 1964 memang dibentuk untuk mendukung penanggulangan bencana dan kecelakaan di gunung.
Organisasi ini terus mengembangkan teknik pencarian orang hilang di alam bebas.
"Jadi Wanadri, tugasnya kemanusiaan, yang salah satu tekatnya membantu menolong orang terutama yang terjadi di alam bebas. Kalau sudah berangkat sudah pasti keluarga, teman-teman dan organisasi, sebenarnnya ini penugasan sukarela," pungkas dia.