TRIBUNSUMSEL.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dibuat kesal dengan pengakuan Suderajat pedangang es gabus yang dituduh menggunakan spons dalam dagangannya.
Pasalnya, dalam pertemuan yang diunggah Dedi Mulyadi di youtube miliknya, Suderajat mengaku orang miskin.
Pengakuan itu diungkap Suderajat saat curhat ke Dedi Mulyadi soal biaya kontrakan yang mahal.
Suderajat bercerita kalau tiap bulan ia rutin bayar kontrakan Rp850 ribu.
Namun belakangan terkuak, ternyata Suderajat aslinya punya rumah sendiri.
Fakta itu diungkap Ketua RW tempat Suderajat sekeluarga tinggal.
"19 tahun, dari dulu (Suderajat) ngontrak?" tanya Dedi Mulyadi dilansir TribunnewsBogor.com dari tayangan Youtube-nya, Jumat (30/1/2026).
RW tempat tinggal Suderajat blak-blakan mengaku Suderajat memiliki rumah sendiri.
"Enggak pak, rumah sendiri," kata Pak RW.
"Sekarang rumah sendiri?" tanya Dedi lagi.
"Rumah sendiri, karena udah dapat Rutilahu (bantuan renovasi) sebelum kejadian," ujar Pak RW.
Baca juga: Sosok Narsumi, Pemilik Pabrik Es Gabus yang Dijual Suderajat Disebut Pakai Spons, Dijual Rp500
Mendengar itu, Dedi Mulyadi sontak menggeprak meja karena merasa geram dibohongi Suderajat.
"Babe bilangnya ngontrak, bohong sih. Beh, kenapa babe bohong terus?" respon Dedi terkejut.
Suderjat langsung meminta maaf.
"Minta maaf, minta maaf," ucap Suderajat.
"Bukan urusan minta maaf. Babe enggak boleh bohong," timpal Dedi kesal.
Lebih lanjut, Pak RW pun mengurai cerita soal asal-usul rumah Suderajat.
Rupanya rumah tersebut adalah warisan dari orangtuanya yang sudah meninggal dunia.
Terkait dengan rumah tersebut, Suderajat bercerita kalau kondisinya sudah rusak.
Tapi Pak RW segera menimpalinya dan bercerita kalau rumah Suderajat memang sedang direnovasi atas bantuan dari pemerintahan desa di Rawapanjang, Bojonggede, Kabupaten Bogor.
"Jadi babe itu rumah sendiri?" tanya KDM.
"Rumah sendiri pak," kata Pak RW.
"Tapi hancur rumahnya pak," timpal Suderajat.
"Ntar dulu, urusan hancur enggak hancur ntar dulu. Tanah sendiri itu dari siapa?" tanya KDM lagi.
"Dari bapaknya, dari orangtuanya," cerita Pak RW.
"Berarti dikasih tanah?" tanya KDM.
"Dibeliin rumah pak sama orangtuanya," pungkas Pak RW.
"Babe ngebohong ke saya. Ngebohong dia bilang ke saya dikasih warisan cuma Rp200 ribu, padahal dikasih rumah," omel Dedi ke Suderajat.
Sadar dibohongi Suderajat, KDM pun memberikan nasihat.
Kata KDM, Suderajat tidak sepatutnya mengurai kisah palsu demi dapat simpatinya.
Padahal faktanya Suderajat sudah dapat banyak bantuan dari orang-orang setelah kasusnya viral.
"Sama saya mah enggak ada masalah. Tapi babe berdosa sama orangtuanya. Orangtuanya udah kasih rumah, tapi sama babe bilangnya enggak dikasih rumah," pungkas Dedi Mulyadi.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menemui langsung Ajat Suderajat, penjual es gabus yang sempat menjadi korban dugaan penganiayaan aparat setelah dituduh menjual es berbahan spons.
Dedi Mulyadi membagikan momen pertemuan itu melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam video tersebut, Dedi terlihat memberikan uang segepok kepada Suderajat.
Namun, setelah memberikan uang itu.
Dedi mengambil sebagian lantaran dikhawatirkan uang itu malah dipakai sendiri oleh Suderajat tanpa membayar kewajibannya.
"Mau buat apa itu?" tanya Dedi Mulyadi.
"Buat bayar sekolah pak," kata Suderajat.
Mendengar jawaban itu, Dedi Mulyadi justru mengambil kembali uang tersebut.
Ia lalu mengatur sendiri peruntukkan bantuan itu agar benar-benar digunakan tepat sasaran.
"Bayar kontrakan setahun, nih saya aturin biar bapak beres. Nih buat kontrakan setahun, setahun kali 800 berapa? Rp 9,6 juta. Bayar sekolah dua ratus (ribu), bayar ke warung dua ratus (ribu), pas Rp 10 juta. Awas dibayarin ya. Bayar kontrakan. Atau saya uangnya ambil deh," kata Dedi seraya mengambil kembali uang itu.
Dedi pun akan membayar kontrakan Suderajat sendiri.
Ia khawatir bantuan yang diberikan disalahgunakan.
"Aku langsung bayarin kontrakannya sama saya, takut enggak dibayarin. Ini saya kasih untuk bayaran sekolah sambil ngecek ke sekolahnya. Bayaran sekolahnya saya cek dulu, kontrakannya akan saya bayar satu tahun."
"Saya enggak percaya ama bapak bayar kontrakan sama sekolah. Sama bayar ke warungnya nanti staf saya yang bayarin. Ini aja buat modal bapak Rp 5 juta buat modal dagang. Buat beli beras segala macam sampai sebulan," jelasnya.
Sebelumnya, Suderajat mengaku mendapat penganiayaan dari oknum aparat di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/1/2025) usai dituduh menggunakan bahan spons dalam produk dagangannya di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat pada Sabtu (24/1/2025).
Suderajat mengungkapkan, kejadian itu bermula saat ada seorang bocah yang membeli dagangannya.
"Bapaknya polisi, saya belum tahu. Dibejek-bejek, es kuenya saya. Terus es kue saya dilempar ke muka saya. Saya ditendang, dikepret, ditonjok," ujarnya saat dijumpai TribunnewsBogor.com, Selasa (27/1/2026).
Ayah dari lima orang anak tersebut mengaku wajahnya dipukul, kakinya ditendang menggunakan sepatu lars.
Bahkan, Suderajat juga mengaku disabet tubuhnya menggunakan selang daj diancam akan digantung oleh oknum tersebut.
Akibat penganiayaan yang dialaminya, Suderajat terluka pada sejumlah bagian tubuhnya seperti di area wajah, bahu, dan kaki kanannya.
Menurutnya, dalam peristiwa tersebut terdapat sejumlah orang yang berada di lokasi mulai dari pengurus lingkungan, pejabat kelurahan, dan oknum aparat.
"Lima kali (dipukul) cetot-cetot (suara pukulan), ini sakit (menunjukan sejumlah luka). Katanya ini es bedak," ungkapnya.
Meski begitu, Suderajat hanya bisa pasrah dan berharap kejadian ini mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.
"Biar Allah Maha Kuasa yang balas," katanya.
Suderajat mengaku polisi dan TNI belum menyampaikan permintaan maaf kepadanya.
“Enggak ada minta maaf atau apa, semuanya setahu saya enggak ada minta maaf ke saya,” ucap Suderajat saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Selasa (27/1/2026).
Meski begitu, setelah kejadian, ia menerima uang ganti rugi dari aparat sebesar Rp 300.000 karena barang es gabus yang dibawanya meleleh dan hancur.
Sebelumnya, Aiptu Ikhwan dan Heri viral di media sosial karena memberikan keterangan soal es gabus yang dijual Suderajay tanpa melakukan verifikasi.
Dilansir video yang diunggah akun Instagram @feedgramindo, Ikhwan sempat menunjukkan es gabus yang dimaksud.
"Nah sekarang ada pelaku yang menyamarkan nih. Intinya ini enggak boleh dimakan. Karena tadi kita coba kok rasanya beda, bukan kue. Ternyata nih bahannya dari spon. Spon dikasih sirop-sirop" ujar Ikhwan dalam video.
Video lalu menunjukkan Heri sedang menginterogasi Suderajat.
"Kenapa kamu jual?" tanya Heri ke Suderajat.
"Kalau berhenti (jualan) anak bininya makan apa?" jawab Suderajat.
"Ya kamu gimana, ini kalau dimakan sama anak-anak kecil ini bikin penyakit," kata Heri dengan nada keras.
Babinsa kemudian memaksa Suderajat untuk memakan es jadul yang sebelumnya sudah diperas menggunakan tangannya.
"Makan nih, habisin, habisin! Telan," ucap oknum Babinsa tersebut.
"Yang muntah biar kamu kamu. Jangan anak-anak kecil, ya. Kasihan tuh," tambahnya.
Sebelumnya, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo akhrinya menemui langsung pedagang es gabus, Suderajat (49) di mushala, Bojonggede, Bogor, Selasa (27/1/2026) malam.
Adapun dalam pertemuan itu, Aiptu Ikhwan dan Serda Heri meminta maaf kepada Suderajat usai menuduh es gabus memakai spons dan menganiaya di Kemayoran, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Aiptu Ikhwan dan Serda Heri didampingi Dandim 0501/JP, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra, Danramil 04 Bojonggede Mayor Arm Ruwijo, Danramil Kemayoran Mayor CPN M. Firdaus, Kapolsek Johar Baru Kompol Saiful, Kapolsek Bojonggede AKP Abdullah Syafei, dan Kades Rawa Panjang Mohammad Agus.
Berdasarkan video yang diterima Kompas.com, mereka bertemu di salah satu mushala dekat kontrakan Suderajat. Ikhwan dan Heri terlihat berdiri mengapit Suderajat.
Aiptu Ikhwan menyampaikan permintaan maafnya karena tidak ada niat sengaja untuk melukai Suderajat.
"Izin saya Ikhwan bersama Pak Heri datang kemari didampingi teman-teman, kami ingin memohon maaf sebesar-besarnya atas yang terjadi, tidak ada niat sengaja untuk melukai bapak,” ucap Ikhwan kepada Suderajat, dikutip Kompas.com
Lalu, Ikhwan juga mendoakan keberkahan dan mengharapkan tidak ada masalah lagi di kemudian hari. Saat itu, ia terlihat menjabat tangan Suderajat yang juga didampingi sang istri.
Setelahnya, Heri juga bersalaman dengan Suderajat dan memohon maaf.
“Saya minta maaf dari dalam hati yang paling dalam ke pak Suderajat. Saya minta maaf yang paling dalam ya pak, sehat selalu,” ujar Heri ke Suderajat.
Atas pertemuan itu, Roby turut mengkonfirmasi bahwa kehadirannya bersama Ikhwan dan Heri adalah mengungkapkan permintaan maaf secara langsung.
“Kami mewakili unsur pimpinan meminta maaf langsung kepada bapak Suderajat atas kesalahan dalam perlakuan anggota saat penanganan dugaan es dari spons,” ungkap Roby saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu.
“Alhamdulillah beliau memaafkan dan ikhlas, menganggap permasalahan sudah selesai,” tambahnya.
TNI melalui Kodim 0501/Jakarta Pusat memberikan bantuan berupa satu unit kulkas, satu dispenser, dan satu kasur springbed untuk mendukung usaha Suderajat dan kenyamanan keluarganya.
"Kami mendampingi pedagang es gabus itu, sekaligus memberikan bantuan untuk mendukung kegiatan usahanya," demikian rilis resmi Kodim yang diterima Kompas.com, Rabu.
Kodim menegaskan peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Diharapkan kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar peristiwa serupa tidak terulang kembali," tambah rilis resmi.
Aparat juga menyatakan akan melakukan evaluasi internal dan memberikan sanksi disiplin kepada anggota yang terlibat.
Setelah pertemuan tersebut, kini Suderajat mengaku telah memaafkan oknum yang terlibat dan menganggap peristiwa yang dialaminya sebagai musibah.
"Sudah baikan (damai),” ucap Suderajat usai bertemu aparat kepolisian dan TNI di sebuah mushala, Selasa (27/1/2026) tengah malam.
Dalam pertemuan tersebut, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo secara langsung menyampaikan permintaan maaf.
Aiptu Ikhwan dan Serda Heri terlihat mencium tangan serta memeluk Suderajat. Ikhwan juga menyampaikan permintaan maaf kepada istri Suderajat.
Suderajat menyebut peristiwa pemukulan dan penganiayaan tersebut sebagai ujian hidup yang ia terima dengan lapang dada.
Ia tidak memiliki keinginan agar para oknum yang terlibat diproses secara hukum atau dijatuhi sanksi lebih tegas.
“Pada maaf semua, (saya) udah ikhlas dari (karena) Allah. Namanya musibah kan, Allah Maha kuasa udah tahu,” kata Suderajat.
Keputusan itu diambil agar ia bisa kembali berjualan dan menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarganya.
Selama 30 tahun berjualan es gabus, Suderajat mengaku sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup sebagai pedagang kecil.
“Alhamdulillah bantuan banyak, ada TV, kulkas, elektronik, perabotan. Saya juga mau naik haji ama anak bini,” sambungnya.
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel