TRIBUN-MEDAN.COM,- Pernah kah kalian mendengar tentang kepribadian ganda?
Ya, ini adalah sebuah gangguan identitas.
Dalam dunia medis, ini disebut sebagai Dissociative Identity Disorder atau DID.
Baca juga: Apa Itu Konstelasi Satelit? Simak Penjelasan Berikut Ini
Dalam bahasa Indonesia, ini berarti Gangguan Identitas Disosiatif, kondisi mental di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian berbeda yang bergantian mengendalikan perilaku.
Sebelumnya, DID dikenal sebagai Multiple Personality Disorder (MPD) atau kepribadian ganda dalam istilah populer.
Istilah ini digunakan dalam DSM-5 untuk menggambarkan gangguan disosiatif akibat trauma, di mana setiap kepribadian memiliki memori, sikap, dan identitas sendiri yang terpisah.
Baca juga: Apa Itu Toksin Cereulide di Susu Formula? Ini Bahayanya Bagi Bayi
Laman RS Pondok Indah pernah membuat sebuah ulasan mengenai ciri orang dengan kepribadian ganda.
Hal utama yang dapat dikenali adalah perubahan sikap dan ditangkah laku.
Agar lebih mudah dipahami pembaca, berikut ini penjelasannya.
Baca juga: Apa Itu Ptosis, Kondisi Mata Ngantuk yang Dihubungkan dengan Gibran Rakabuming Raka
Pergantian kepribadian : Memiliki dua atau lebih identitas berbeda yang bergantian mengendalikan perilaku, dengan perbedaan suara, sikap, atau gerak tubuh yang mencolok.
Amnesia disosiatif : Sering lupa waktu, peristiwa penting, atau tindakan sendiri karena kepribadian lain yang mengambil alih.
Perubahan perilaku mendadak : Bertindak bertolak belakang dari kebiasaan, seperti dari sopan menjadi agresif atau melakukan hal tak biasa seperti pencurian.
Baca juga: Mengenal Es Spons, Es Kue atau Es Gabus yang Viral Hingga Bikin TNI/Polri Minta Maaf
Kebingungan identitas : Merasa terpisah dari diri sendiri, bingung dengan ambisi atau orientasi pribadi, dan sulit menggambarkan siapa diri mereka.
Emosi tidak terkendali : Perubahan mood drastis tanpa alasan, mudah panik, cemas berlebihan, depresi, hingga pikiran bunuh diri.
Kelelahan fisik : Sering sakit kepala, lelah kronis, gangguan tidur/makan karena konflik internal antar kepribadian.
Contohnya, seseorang yang biasanya sopan bisa bertindak agresif saat kepribadian lain muncul.
Baca juga: Mengenal Virus Nipah yang Kini Bikin Khawatir Thailand, Belum Ada Vaksinnya
Penyebab utama Gangguan Identitas Disosiatif (DID) atau kepribadian ganda adalah trauma berat pada masa kanak-kanak, terutama mengungkap fisik, seksual, atau emosional yang berulang.
Trauma ekstrem membuat otak anak memicu disosiasi sebagai mekanisme pertahanan: pikiran "memecah" identitas menjadi kepribadian terpisah untuk menahan rasa sakit, sehingga seseorang mengubah menanggung beban emosional agar yang lain tetap aman.
Baca juga: Mengenal Budaya Dunia lewat Festival English, SMP Plus Jabal Rahmah Gelar Event Tahunan
Antara 70-100 persen kasus DID terkait kekerasan atau pengabaian masa kecil, sering dimulai usia 5-9 tahun ketika imajinasi masih kuat.
Beberapa kasus terkenal penderita DID (Gangguan Identitas Disosiatif) telah menjadi sorotan publik melalui buku, film, dan konferensi hukum.
Satu diantaranya adalah kasus Sybil (Shirley Mason).
Baca juga: Mengenal Indiana Camp, Perbukitan Karst Bandung Tempat Syuting Lisa BLACKPINK Film Tygo
Shirley Ardell Mason, dikenal sebagai Sybil, adalah guru seni Amerika yang diklaim menderita DID dengan 16 kepribadian berbeda akibat trauma masa kecil dari ibunya.
Shirley lahir pada 25 Januari 1923 di Dodge Center, Minnesota, dari pasangan Walter dan Martha Mason.
Ibunya diduga sering menyiksanya secara fisik dan emosional, memicu identitas untuk bertahan.
Ia pindah ke New York pada tahun 1950-an untuk kuliah di Universitas Columbia, di mana kehilangan ingatan membawanya bertemu dengan psikiater Dr. Cornelia B. Wilbur.
Baca juga: Mengenal Pesawat ATR 42-500 Milik Indonesia Air Transport yang Kecelakaan
Terapi 11 tahun mengungkap kepribadian seperti Vicky (sosial, Inggris), Marcia (seniman), Mike dan Sid (laki-laki), serta lainnya seperti Peggy, Ruthie, dan Vanessa, masing-masing dengan usia, suara, dan perilaku unik.
Mereka bergantian mengendalikan tubuhnya, sering tanpa mengingat satu sama lain.
Kisahnya diabadikan dalam buku "Sybil" (1973) karya Flora Rheta Schreiber, film yang diadaptasi tahun 1976 dengan Sally Field (pemenang Emmy) dan Joanne Woodward.
Buku ini populer tapi kontroversial.
Baca juga: Mengenal Kapal USS Iwo Jima, Tempat Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditahan
Shirley hidup tenang sebagai seniman di Kentucky hingga meninggal karena kanker payudara pada 26 Februari 1998, usia 75.
Pengobatan utama untuk DID adalah psikoterapi, khususnya terapi integratif yang bertujuan menyatukan kepribadian yang terpisah menjadi satu identitas utuh.
Terapi ini melibatkan komunikasi dengan semua kepribadian (alters) untuk mengenali satu sama lain, memproses trauma masa kecil, dan membangun kerja sama antar identitas.
Baca juga: Mengenal Fenomena Sinkhole yang Seringkali Bikin Geger Masyarakat
Prosesnya bertahun-tahun, fokus pada pengurangan disosiasi, pemulihan memori, dan peningkatan fungsi sehari-hari melalui teknik seperti hipnosis atau visualisasi aman.
Terapi Perilaku Kognitif (CBT) : Mengubah pola pikir negatif terkait trauma, mengelola gejala seperti kecemasan atau depresi.
EMDR : Mengurangi dampak trauma dengan gerakan mata sambil mengingat kejadian masa lalu.
Obat-obatan : Antidepresan atau anti-kecemasan untuk gejala pendamping, bukan menyembuhkan DID itu sendiri.
Terapi kelompok atau keluarga membantu pasien dan orang terdekat memahami kondisi, meningkatkan dukungan, serta mencegah isolasi.
Pengobatan memerlukan komitmen yang tinggi karena gejala bisa muncul kembali saat stres.(ray/tribun-medan.com)