Remaja Terpatuk Kobra Jawa di Sukoharjo, Pakar Sebut Salah Pertolongan Pertama Bisa Perburuk Kondisi
January 30, 2026 12:29 PM

 

Soroti Kesalahan Penanganan Awal, Komunitas Reptil Sebut Gigitan Bukan King Kobra

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Ketua Umum Exalos Indonesia, Janu Wahyu Widodo, menyoroti adanya kekeliruan dalam penanganan awal korban gigitan ular berbisa di Sukoharjo.

Menurutnya, langkah pertolongan pertama yang tidak tepat dapat mempercepat penyebaran racun di dalam tubuh dan memperburuk kondisi korban.

Komunitas pecinta ular dan reptil Exalos Indonesia juga mengklarifikasi bahwa ular yang menggigit remaja perempuan di Kabupaten Sukoharjo bukanlah king kobra, melainkan kobra Jawa (Naja sputatrix).

Janu mengaku telah menerima informasi terkait peristiwa tersebut sejak sehari sebelumnya melalui media sosial. Namun saat ditelusuri kembali, unggahan awal mengenai kejadian itu sudah tidak ditemukan.

“Sebenarnya saya sudah menerima informasi dari kemarin lewat media sosial, tapi setelah saya cari lagi informasinya sudah hilang,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Bukan King Kobra, Ular yang Patuk Remaja Sukoharjo saat Unboxing Ternyata Kobra Jawa

Dari foto yang sempat beredar dan keterangan medis dalam unggahan tersebut, ular yang menggigit korban awalnya disebut sebagai king kobra. Setelah diamati, Janu memastikan spesiesnya berbeda.

“Dari keterangan foto yang diposting di media sosial, ada penjelasan dari dokter yang menyebutkan king kobra. Tapi itu sebetulnya adalah ular kobra Jawa, Naja sputatrix,” jelasnya.

Selain meluruskan jenis ular, Janu menekankan pentingnya pertolongan pertama dalam kasus gigitan ular berbisa. Ia menilai penanganan awal pada korban saat kejadian tidak sesuai.

“Saat korban tergigit ular, pertolongan pertama yang dilakukan tidak sesuai. Seharusnya dilakukan kompres air panas dan dipijat agar darah keluar. Kesalahan pertolongan pertama ini bisa membuat racun lebih cepat menyebar,” paparnya.

Ia menegaskan tahap awal penanganan menjadi faktor paling menentukan. Salah satu langkah utama adalah imobilisasi atau membatasi gerak pada bagian tubuh yang tergigit.

“Penanganan ular berbisa, apa pun jenisnya, pertolongan pertama adalah tahapan paling penting dan vital. Dengan imobilisasi yang tepat dan cepat, venom tidak akan menjalar dan bahkan bisa tidak memerlukan antibisa,” jelas Janu.

Menurutnya, pemberian antibisa tidak selalu menjadi langkah pertama, terutama jika efek gigitan masih bersifat lokal.

Baca juga: Kondisi Terkini Remaja Tergigit Ular Kobra di Sukoharjo : Lemas, Dirawat Intensif di Rumah Sakit

“Kalau masih lokal, tidak harus langsung diberikan antibisa. Yang penting penanganan darurat di tahap awal, lalu observasi, istirahat cukup, diberi semangat, serta konsumsi makanan bergizi untuk memperkuat imun,” tambahnya.

Janu menyebut, dengan penanganan awal yang benar, tubuh pada umumnya mampu menetralisir bisa dalam waktu dua hari.

“Dalam 48 jam biasanya venom akan netral dengan sendirinya,” pungkasnya.

Penjelasan ini diharapkan menjadi edukasi bagi masyarakat agar lebih memahami langkah pertolongan pertama saat menghadapi gigitan ular berbisa.

Kronologi Kejadian

Peristiwa mengejutkan dialami seorang remaja perempuan bernama Sakinah Al Janah (15), warga Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo.

Remaja yatim ini tergigit anak ular kobra saat membuka paket belanja online yang diterimanya pada Senin (26/1/2026).

Saat sedang membuka paket tersebut, plastik pembungkus barang sudah terbuka.

Kejadian bermula ketika Sakinah menerima sebuah paket yang dibelinya secara daring.

Paket tersebut berisi karpet dengan ukuran cukup panjang.

Sesuai kebiasaan, korban membuka paket tersebut di rumah.

Kakak korban, Devia Khaerunnisa, menjelaskan bahwa adiknya membuka paket dengan menarik karpet dari bagian atas plastik pembungkus.

Saat karpet dikeluarkan, tidak terlihat adanya benda mencurigakan maupun hewan di dalamnya.

“Karpetnya sudah dikeluarkan, dan tidak ada apa-apa. Setelah itu plastik pembungkus paket dibuang ke tempat sampah,” ujar Devia, Kamis (29/1/2026).

DIGIGIT KOBRA - Kondisi Sakinah Al Janah (15), remaja yatim harus dirawat setelah tergigit anak kobra di Rumah Sakit Ir Soekarno, Sukoharjo, Kamis (29/1/2026). Ia digigit anak ular kobra yang diduga berada di dalam paket belanja online yang diterimanya.
DIGIGIT KOBRA - Kondisi Sakinah Al Janah (15), remaja yatim harus dirawat setelah tergigit anak kobra di Rumah Sakit Ir Soekarno, Sukoharjo, Kamis (29/1/2026). Ia digigit anak ular kobra yang diduga berada di dalam paket belanja online yang diterimanya. (TribunSolo.com/Istimewa)

Namun, tak lama setelah plastik paket dibuang, tiba-tiba muncul seekor ular dari dalam bungkusan tersebut.

Ular yang diduga merupakan anakan kobra langsung menggigit tangan kiri korban, tepat di bawah siku, secara refleks.

“Ular itu langsung menggigit tangan kiri adik saya. Kejadiannya cepat sekali,” ungkap Devia.

Asal Mula Ular Masih Misterius

Devia mengaku tidak mengetahui secara pasti asal mula ular tersebut, apakah dari pihak penjual atau jasa ekspedisi.

Saat paket diterima, kondisi plastik pembungkus memang sudah terbuka.

“Plastik paketnya memang sudah terbuka saat diterima. Kami juga tidak tahu apakah ularnya dari penjual atau dari proses pengiriman,” katanya.

Berdasarkan informasi dari komunitas reptil, ular yang menggigit korban diduga merupakan anak ular kobra.

Namun, belum dapat dipastikan apakah jenisnya king kobra atau kobra Jawa.

Baca juga: Nasib Apes Remaja Yatim Sukoharjo, Digigit Anak Kobra Saat Buka Paket Online, Bakal Jalani Operasi

Penanganan Medis dan Kondisi Korban

Akibat gigitan ular, Sakinah langsung dilarikan untuk mendapatkan perawatan medis.

Hingga kini, korban masih menjalani perawatan di RS Ir Soekarno Sukoharjo dalam kondisi lemas dan dijadwalkan menjalani tindakan medis lanjutan.

Keluarga menjelaskan bahwa penanganan medis dilakukan menggunakan biaya umum karena proses pengaktifan BPJS Kesehatan membutuhkan waktu, sementara kondisi korban bersifat darurat.

Pihak keluarga berharap kejadian ini mendapat perhatian dari pihak terkait, terutama jasa ekspedisi, agar insiden serupa tidak terulang dan dapat ditelusuri bagaimana ular berbisa tersebut bisa berada di dalam paket kiriman.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.